Langsung ke konten utama

Look Up And Get A Real Life

Sekarang status yang saya update di sosmed bisa dihitung pakai jari. Bahkan kadang saya tak membuka twitter saat tak ada notifikasi apa-apa. Saya pikir memang sekarang saya tak kecanduan lagi dengan smartphone dan sosial media. Kecemasan sewaktu smartphone ketinggalan pun tak seberapa. Kadang malahan saya lebih suka meninggalkan smartphone di rumah saat berbelanja.
Apakah karena bagian kosong yang dulu diisi dengan sosial media dan smartphone sudah terisi oleh kehadiran suami?

Saya rasa memang itu jawabannya. Kesendirian yang dulu saya isi dengan mengupdate status di sosial media sekarang sudah tergantikan. Kehidupan maya yang semu sekarang diganti oleh kehidupan yang nyata. Seseorang yang nyata ada mengisi hari-hari saya dalam keadaan apa pun.
Apalagi saat melihat fenomena sekarang ini. Keberadaan smartphone dan sosial media membuat orang lebih suka berada di dunia semu dan lupa dengan dunianya yang lebih nyata. Everybody should look up and get a real life.

Seandainya blog ini bukanlah media untuk saya menyalurkan hobi menulis saya, barangkali dapat dibayangkan betapa berdebunya di sini. Perlahan akan menjadi kuburan maya berikutnya. Untungnya saya masih mencintai hobi saya yang satu itu. Menulis. Berbagi cerita dengan banyak orang. Walaupun sekarang sudah tak seperti dulu lagi. Saya berusaha tak menyebarkan energi negatif lagi di blog ini.

Jangan sampai kita terlalu menyandu dengan smartphone dan sosial media. Akan banyak sekali hal nyata di luar sana yang kita lewatkan. Entah itu sesuatu yang bisa kita sebut cinta.
Dulu memang saya menghabiskan terlalu banyak waktu di dunia maya. Padahal pada akhirnya dunia nyatalah yang harus saya hadapi....

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan