Langsung ke konten utama

Begundal Negeri Ini


Ini adalah sebuah puisi yang sebenarnya muncul begitu saja di kepala saya. Mengenai koruptor-koruptor yang ada di negeri ini. Gerah. Menonton berita sedemikian banyak tikus-tikus berdasi yang muncul lagi. Tertangkap lagi. KPK memang patut diacungi jempol dengan semua kinerjanya. Walaupun belum semua yang tertangkap. Berikut puisinya.


Apa kabar begundal-begundal negeri ini?
Sudah cukupkah tanganmu mencuri?
Mengambil tetesan darah rakyat tanpa henti?
Masih banggakah kau dengan leher yang berdasi?
Benih-benih jadahmu kau cecerkan di sepanjang tanah pertiwi
Menanamkan penerusmu untuk menghisap inti sari bumi
Apa kabar tikus-tikus berijazah?
Belum cukupkah perut buncitmu engkau isi?
Mencengkeram erat leher manusia papa demi nafsumu sendiri
Tangis bayi tak mampu menghentikan langkahmu
Melahap dunia yang membesarkanmu
Padahal engkau tahu betul, uang haram yang dicuri itu tak membuatmu bahagia di hadapan-Nya
Siapkah kau bertemankan Iblis untuk selamanya di jahanam sana?

Tak perlu dikritisi atau dikaji puisinya. Sebab saya yakin, semua akan sangat mudah memahaminya. Saya bukanlah pembuat puisi ulung. Bahkan jarang sekali membuat puisi. Saya hanya membuat puisi ketika saya gelisah. Resah dengan keadaan yang ada di dunia ini. Meskipun nantinya saya akan sejenak melupakan itu semua. Saat anak saya menangis minta disusui atau ketika saya terlelap ke alam mimpi. Barangkali memang demikian adanya. Kenyataan yang ada di dunia ini. Semoga saja setiap usaha kecil kita untuk memberantas korupsi dengan segala keterbatasan yang kita punya akan ada hasilnya.
 

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan