1 Juni 2014

Canting: Sebuah Review


Arswendo Atmowiloto ternyata berhasil memikat saya melalui karyanya yang ringan bahasanya ini. Saya senang sekali membaca halaman demi halaman cerita keluarga yang ada di dalamnya. Saya tidak akan menjabarkan ceritanya dengan memenuhi tulisan ini dengan spoiler jadi buat yang penasaran dengan novel Canting ini tenang saja, teruskan membaca reviewnya sampai selesai. Saya suka sekali dengan cara Arswendo menyampaikan cerita di dalam novel ini. Walaupun harus saya tekankan bahwa yang namanya penilaian sebuah karya adalah kembali lagi pada selera kita. Jadi saya tak dapat mengatakan sebuah novel atau jelek hanya karena saya suka atau tidak suka sama novel tersebut.

Awalnya, jujur, saya tidak begitu tertarik melihat novel ini di toko buku. Bahkan sampai novel ini dipajang di bazaar diskon 80%. Sampai akhirnya saya mampir lagi pada hari terakhir bazaar tersebut dan menemukan hanya novel ini yang bisa saya pilih dibandingkan novel yang lain. Bahkan saya membeli dua buah karena harganya yang murah. Daripada nggak beli. Pikir saya waktu itu hanya itu. Berminggu-minggu buku itu masih terbungkus plastik dan tak tersentuh. Saya akan membacanya, tapi nanti, begitu kata hati saya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk membacanya.

Saya menyesal tak membacanya lebih awal, karena ceritanya sangat memikat. Cocok sekali dengan selera saya. Tidak dibuat rumit dengan bahasa yang sulit saya pahami dengan berbagai metafora. Bahasanya ringan, sederhana. Saya rasa anak SD atau SMP bisa dengan mudah menyerap bahasa yang digunakan di dalam novel ini. Itu yang saya suka dari Arswendo Atmowiloto. Sebelumnya saya tidak begitu tertarik dengan karya beliau. Mau seberapa banyak pun orang yang mengatakan karyanya bagus, biasanya tak dapat memengaruhi saya. Sampai saya sendiri benar-benar membaca tulisannya.

Novel seperti ini sangat menghibur dibandingkan saya harus menonton televisi dengan cerita sinetron yang semakin merampot alias tak jelas mau dibawa ke mana. Judul novel ini sih yang sebenarnya membuat saya sedikit enggan membelinya, sebab saya sudah membayangkan ini novel pasti cerita tentang orang Jawa dan kebudayaannya. Rasanya saya sudah terlalu banyak membaca tulisan mengenai kebudayaan Jawa di dalam novel.

Namun saya harus membuat pengecualian buat novel Canting ini. Menyenangkan sekali bisa membaca novel seperti ini setelah berkutat dengan banyak novel pembunuhan yang cukup memeras otak untuk mencari siapa pelakunya. Sesekali mengistirahatkan pikiran dan membaca novel yang menceritakan kehidupan masyarakat Jawa yang normal seperti dalam novel ini sangat menyenangkan.

Terima kasih buat penulis buku ini, Arswendo Atmowiloto, yang sukses menulis novel yang indah begini dan sangat mudah saya pahami.
 

Hello, June!


Apakah setiap bulan yang baru harus kita sapa dengan 'Hello'? Nggak juga sih kayaknya bagi saya sebab yang paling istimewa bagi saya adalah bulan yang berada di tengah bersama bulan Juli ini. Yap! Bulan Juni akan selalu menjadi bulan yang sangat istimewa. Bulan Juni saya dilahirkan. Bulan Syawal saat tahun Hijriyah. Lebaran juga bulan yang istimewa di dalam kehidupan saya. Bulan Juni dan Syawal itulah saya menghirup oksigen langsung dari Bumi. Tak lagi terkurung di dalam rahim Umak.

Sembilan bulan lebih. Tak tahu tepatnya. Walaupun kebanyakan orang akan mengatakan 9 bulan 10 hari. Biarlah itu menjadi misteri saja. Paling penting saya lahir dalam keadaan sehat di dalam sebuah keluarga yang sekarang dapat saya sebut sebagai sebuah keluarga yang harus saya syukuri dengan sangat. Sebab tanpa keluarga itu, saya tidak akan menjadi diri saya yang sekarang. Juga buat keluarga baru yang sekarang menjadi bagian di dalam kehidupan saya, mereka akan membentuk saya menjadi seseorang di masa depan. Diri saya yang akan datang.

Juni. Dulu seingat saya, saya pernah punya nama yang ada Juni-nya. Kayaknya, karena saya cucu kedua tertua, semua orang ingin memberikan nama untuk saya, sampai-sampai saya punya nama yang sangat panjang yang harus saya hapalkan waktu itu. Padahal saat duduk di bangku SD yang saya dapatkan ternyata dua digit nama yang sekarang tak saya gunakan lagi. Sebab nama itu membuat saya dibully di sekolah. Teman-teman saya suka memanggil nama saya yang diplesetkan dan itu rasanya melukai hati ini. Sehingga saya lebih suka menggunakan nama yang lain. Nama yang sekarang saya gunakan sebagai identitas saya.

Ya, nama saya waktu kecil sampai hampir tamat SD dulu bukanlah Rohani Syawaliah. Sama sekali bukan. Bahkan tak pernah terlintas saya akan menggunakan nama yang disumbangkan oleh Kakek saya dari pihak Abah. Dari Banjarmasin sana. Nama yang sangat saya sukai sekarang. Walaupun sempat pula menimbulkan pembulian. Ada beberapa orang yang memanggil saya Roh Halus.


Sekarang semuanya sudah berlalu dan saya berhasil membentuk nama panggilan yang tak akan melibatkan Roh Halus tersebut. Sebab setiap mengenalkan diri kepada orang baru saya akan memotong nama tersebut menjadi 'Hani' saja. Masalah nama ini memang menjadi persoalan yang cukup rumit saat saya kecil sampai di bangku kuliah. Kemudian menjadi lebih mudah ketika saya bekerja. Penasaran siapa nama saya sebenarnya? Waktu SD dulu? Tunggu postingan berikutnya besok ya!
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design