30 Mei 2014

Tantangan Berumah Tangga Bagi Pasangan Newlyweds



Setiap pasangan yang baru menikah, atau lebih dikenal dengan istilah newlyweds, pasti tidak sabar untuk meninggalkan rumah orangtua atau pondok mertua indah dan menempati hunian sendiri. Selain alasan kemandirian, rasanya rumah tangga belum sah kalau belum ditandai dengan memiliki tempat tinggal sendiri. Walau sebenarnya perumpaan “dunia serasa milik berdua dan sisanya ngontrak” berlaku untuk semua pasangan newlywed dimana pun mereka tinggal.

Satu hal yang menyenangkan dari memiliki hunian sendiri, terutama bagi perempuan, adalah kebebasan untuk berkreasi dalam pemilihan perabotan dan berekspresi dalam menghias ruangan-ruangan di dalam hunian baru kita. Meski demikian, kita terkadang lupa bahwa belum tentu pasangan kita memiliki preferensi yang sama dalam semua hal. Hal sepele seperti pemilihan jenis kursi untuk diletakkan di ruang tamu atau jenis lampu yang dipasang di ruang makan bisa menyebabkan berantem-berantem kecil dalam kehidupan rumah tangga kita.

Berikut ini dua pemasalahan yang kerap dialami oleh newlyweds beserta tips mengatasinya. Sambil kita mengingat bahwa menikah bukan berarti meleburkan dua pikiran menjadi satu, melainkan mengharmonisasikan dua pikiran dalam satu wadah rumah tangga.

Menentukan Nuansa Hunian Baru
Sebelum mulai browsing katalog-katalog untuk furniture dan pernak-pernik rumah tangga, biasanya kita memikirkan terlebih dahulu atmosfir atau nuansa apa yang ingin kita ciptakan di dalam hunian kita. Pilihannya bermacam-macam. Ada nuansa tradisional Indonesia, vintage gaya Eropa, minimalist industrial, hingga modern tetapi didominasi dengan elemen warna-warna tanah.

Begitu banyaknya pilihan seringkali bukannya membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih mudah tetapi lebih membingungkan. Belum lagi gaya fusion yang memadukan beberapa nuansa di bawah satu atap. Tidak mudahnya proses pemilihan ini kerap membuat kita kesal dan tidak dihargai ketika pada akhirnya gaya interior yang kita inginkan tidak disetujui oleh pasangan kita.

Untuk menghindari perasaan kesal dan tidak dihargai, akan lebih baik kalau dari awal kita sudah melibatkan pasangan kita di dalam prosesnya. Utarakan apa preferensi kita, misalnya kita lebih menyukai elemen kayu dibandingkan logam. Tapi tidak lupa juga meminta dia mengutarakan preferensi dia.

Pasti akan ada momen dimana kita dan pasangan memiliki pendapat yang bertolak belakang. Misalnya, kita menyukai warna-warna pastel dan ingin menjadikannya sebagai warna utama dari tempat tinggal, tetapi pasangan kita merasa warna tersebut terlalu feminim dan menginginkan warna-warna industrial, seperti abu-abu.

Kalau sudah seperti itu jalan tengahnya adalah kompromi. Bisa dengan cara memilih warna netral, seperti putih gading atau coklat muda. Atau bisa juga misalnya kamar tidur tetap mengusung warna-warna pastel, sementara untuk ruang tamu menggunakan warna-warna industrial. Hasil kompromi bisa berbeda-beda untuk setiap pasangan. Tapi yang paling penting adalah mencari jalan tengah yang pas untuk kita dan pasangan.

Menjaga Kebersihan Hunian Baru
Selain urusan interior, satu hal yang juga perlu kita pertimbangkan adalah menjaga kebersihan hunian baru kita. Pada umumnya, pasangan yang baru menikah belum memiliki kebebasan finansial untuk mendatangkan pembantu rumah tangga yang menginap maupun yang sesekali datang. Dan untuk tempat tinggal yang hanya dihuni oleh dua orang, rasanya pembantu pun belum terlalu perlu.

Dengan pembagian tugas yang jelas dengan pasangan dari awal, urusan kebersihan rumah akan sama ringannya dengan ketika kita dibantu oleh pembantu. Tentukan siapa yang bertugas membuang sampah dan menjaga kebersihan dapur dan perlengkapan di dapur, seperti kompor, microwave atau oven. Tentukan juga siapa yang akan bertanggung jawab dengan kebersihan kamar mandi. Memastikan lantai kamar mandi selalu kering dan wastafel dalam keadaan bersih.

Dari semua ruangan di dalam rumah, dapur dan kamar mandi adalah dua ruangan dengan potensi paling besar untuk kotor dan mengeluarkan bau tidak menyenangkan. Jadi fokus dengan pasangan untuk kebersihan dua ruangan ini. Untuk ruangan-ruangan lainnya, bisa dikerjakan bersama-sama.

Kalau teman-teman membutuhkan tips praktis dan inovatif dalam menjaga kebersihan hunian baru, Bersih Bersih bisa menjadi sumber informasi yang memberikan tips untuk mengisi dan merawat hunian baru kita.



Buang Aja Androidnya!


Merusak barang elektronik bukan hal yang baru bagi saya. Kalau sudah di tangan saya, apa pun barang elektronik tersebut, biasanya akan mengalami yang namanya 'turun mesin'. Terakhir saya punya laptop, saya merusaknya. Itu sudah laptop yang ke empat. Makanya sekarang saya lebih suka menggunakan komputer, selain layarnya lebih besar, kemungkinan untuk rusak hanya pada keyboard yang bersentuhan dengan jemari saya yang gampang sekali merusak barang elektronik ini.

Nah, sudah banyak yang tahu kan betapa rusaknya Lenovo A800 milik saya yang baru setahun sebulan saya gunakan? Ternyata kerusakannya belum bisa ditemukan solusinya. Teknisi Comtech di Pontianak seminggu mengutak-atiknya juga angkat tangan. Sebelumnya saya menghubungi ibu saya dan menceritakan perihal hape ke-empat yang rusak itu. Beberapa waktu dulu saya juga pernah merusak 3 hape milik saya. Semuanya rusak. Karena merek nokia mudah untuk diperbaiki, jadi tiga hape tersebut bisa diperbaiki dan kemudian saya jual.

Sekarang yang rusak android Lenovo A800 yang putih warnanya itu. Kerusakan sih kayaknya pada sistem. Jadi ada jendela sistem yang muncul tak henti-hentinya di layar. Sebelumnya sih sudah cukup dengan mematikannya sebentar kemudian menyalakannya kembali. Error istilah yang saya gunakan untuk menyebutnya.

Umak tidak tahu apa-apa tentang barang elektronik, namun saat saya menceritakannya, dia langsung bilang buang aja androidnya. Padahal waktu itu teknisi Comtech belum mengembalikan smartphone saya dengan alasan tak bisa memperbaikinya. Memang sih smartphone tersebut telah mendatangkan puluhan juta uang dan sepeda motor scoopy yang hampir setahun saya kendarai. Umak bilang nanti pasti nggak bisa diperbaiki. Dia tahu betul betapa 'tangan bajanya' tangan saya ini. Sejak kecil sudah banyak barang elektronik yang saya rusak. Tapi kalau dulu saya rusak karena saya bongkar, nah sekarang rusak karena saya gunakan.

Mengingat tangan yang gampang sekali merusak barang ini, akhirnya saya menyerah menggunakan smartphone merek lain. Saya kembali ke Samsung. Sebab sebelumnya saya sudah menggunakan android samsung dua tahun dan tak ada masalah. Pernah direset satu kali aja dan sampai sekarang baik-baik saja, jika lecet di bodinya tidak masuk hitungan. Hehehehe...


Buang aja ya androidnya?
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design