20 Maret 2014

Mengapa Tongseng Pakai Kain Kuning?

Selama tinggal di kampung halaman saya tak menemukan satu rumah makan pun yang menyediakan tongseng.

Ah kalau di kampung saya sudah ada listrik saja sudah alhamdulillah sekali. Sebab selama di sana saya pernah merasakan belajar dengan menggunakan lampu minyak tanah. Habis salat Isya banyak orang yang memutuskan untuk berkumpul di rumah dan kalau tidak ngobrol bareng keluarga ya tidur.

Rasanya memang kebersamaan waktu dulu jauh lebih panjang, sebab televisi hanya bisa menyala kalau 'batre aki' sudah terisi. Apabila belum diisi ya mau tak mau tak ada suara film yang ditonton dan suara jangkrik akan terdengar lebih keras dari biasanya. Namun bagi saya masa kecil yang dulu itu tetap menyenangkan. Tanpa listrik saya bisa mendengarkan dongeng setiap malam sebelum tidur. Bibi-bibi akan bergantian memberikan cerita. Bahkan Uwan (nenek) juga tak luput memberikan cerita.

Lalu mengapa judul tulisan ini tak nyambung dengan dua paragraf di atas? Lupakan openingnya yang sama sekali tak ada kaitannya dengan tongseng.

Jadi begini, saya hanya mengenal tongseng itu saat di Pontianak. Banyak sekali warung makan yang menyediakan daging kambing yang diolah menjadi tongseng. Selain tongseng mereka juga menyediakan gulai dan sate. Tentu saja dari kambing. Namun yang paling terjangkau adalah tongsengnya. Bukan harganya yang akan menjadi pokok permasalahan soal tongseng ini. Melainkan kain kuning yang digunakan di perapian tongseng itu.

Apakah teman-teman menyadari kain tersebut warnanya selalu kuning? Saya tak tahu di tempat teman-teman tetapi di beberapa tempat di Pontianak yang saya singgahi memang menggunakan kain kuning. Warnanya juga persis sama. Apakah warna kuning ini berpengaruh pada tongseng tersebut? Saya kurang tahu. Saya cuma bertanya-tanya di dalam hati. Mengapa mereka menggunakan kain kuning?

Saya penasaran apa jawaban orang yang membuat tongseng tersebut jika saya menanyakannya secara langsung? Namun saya takut terlihat konyol jika menanyakannya pada mereka sehingga saya tak pernah menanyakannya pada tukang tongseng mana pun. Hehehehe....

Ubah Template Lagi dengan Menu Bertingkat


Jika teman-teman sudah lama tak mampir ke blog ini pasti akan sadar bahwa saya mengubah template blog ini lagi. Entah sudah berapa kali saya mengubahnya. Padahal rasanya saya sudah cocok sekali dengan Mad template buatan Enny Law yang beberapa bulan lalu saya pasang di blog ini. Kemudian pas mencarikan teman-teman lain template saya akhirnya menemukan template yang membuat saya jatuh cinta. Sekarang sih jatuh cintanya dan belum tahu sampai berapa lama.

Jangan tanya apakah template ini akan sesuai atau tidak dengan blog yang bergerak di bidang travel dan kuliner walaupun banyak sekali catatan random yang tak begitu masuk kategori yang sudah saya buat. Tapi daripada blognya kosong karena saya tak makan di tempat yang baru atau tak membuat masakan yang menarik untuk dibagikan saya pikir sayang juga tak mengisinya dengan hal yang lain. Domainnya kan dibayar sesuai masanya. Tak peduli berapa banyak postingan yang kita isi di dalamnya. Kadang juga muncul konten yang harus ditempatkan untuk mendapatkan bayaran.

Satu hal yang paling saya suka adalah menu bertingkat yang ada di template ini. Walaupun banyak sekali template yang menyediakan hal yang serupa. Dulu sempat memasang juga template yang ada menu bertingkat begini. Namun kemudian saya ganti lagi. Pembelajaran dari template yang pernah ada menu bertingkatnya adalah saya tak begitu kesulitan mengedit template yang menawarkan menu yang sama. Jadi saya tak butuh banyak bagian di widget yang harus dipasangi hal-hal seperti yang ada di dalam menu tersebut. Terlebih lagi untuk menyimpan link sahabat yang saya bingung mau menyimpannya di mana. Akhirnya dengan template ini saya bisa menempatkannya tanpa menggunakan tempat tambahan.

Beberapa waktu lalu sebenarnya sudah ada teman yang saya tanyai untuk membuatnya template premium untuk blog ini. Cuma karena orangnya sedang sibuk kuliah mau tak mau saya harus sabar menunggu. Apalagi mengingat template yang sekarang digunakan juga lumayan saya suka.

Banyak sekali template gratisan di luar sana yang bisa teman-teman unduh. Kalau kurang suka tinggal ganti lagi dengan template lainnya. Karena antara satu template dengan template yang lainnya memiliki perbedaan teman-teman juga bisa belajar untuk menambah atau mengurangi beberapa hal dengan kode html atau CSS. Saya banyak sekali belajar cara mengedit template dengan mencoba memahami sususan yang ada di dalam html template. Kalau sudah bingung tinggal berburu kode CSS yang jauh lebih gampang untuk diterapkan ke dalam template yang sedang kita gunakan.



 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design