16 Maret 2014

Mendingan Tanya Google


Berapa sering kita memiliki pertanyaan yang terdengar sangat gampang buat orang lain untuk menemukan jawabannya tanpa menanyakannya pada siapa pun? Alasannya karena mereka sudah tahu tentu saja. Sedangkan kita belum tentu tahu jawabannya. Seperti saya yang sudah menggunakan Linux lumayan lama. Paling lama sih memang Ubuntu-nya yang saya gunakan. Sekarang saya masih menggunakan Ubuntu yang ke 12.04. Padahal yang 13 sudah keluar ya? Belum terpikir untuk mengupgradenya sih karena setelah dulu Ubuntu 12.04 sering 'error', pokoknya error yang aneh. Suka minta penggunanya mengirim laporan ke pihak pengembang dan semacamnya. Saya kurang paham juga. Sampai akhirnya sekarang Ubuntu yang saya gunakan alhamdulillah tidak mengalami hal 'error' itu tadi.

Nah sembari menggunakan Ubuntu memang banyak hal yang membuat saya sedikit bingung. Hal sepele buat orang yang sudah berkutat dengan Ubuntu sedemikian lama. Apalagi kalo memang orang tersebut sudah lama menggunakan Linux. Segala jenis distro Linux sudah dicoba. Berbeda dengan saya yang menggunakan Linux selain Ubuntu beberapa waktu lalu karena menggunakan netbook yang rewel sekali saat dipasangkan dengan Linux. Akhirnya mengganti netbooknya dengan PC dan voila saya bisa kembali bercengkrama dengan Linux yang pertama kali saya kenal. Ubuntu.

Bukan tanpa kesulitan sebenarnya meskipun sudah menggunakan PC jenis lama yang tidak ada masalah diinstall beberapa distro dari Linux. Pernah saya pasangkan Kubuntu dan rasanya sempurna sekali. Biasanya masalah yang saya alami terdengar sangat sepele. Saya bisa menanyakannya pada banyak teman saya di facebook tetapi saya tahu ada yang bisa menjawabnya dan tidak akan memberikan emosi apa pun. Tidak ada smiley yang menertawakan atau mengejek. Apalagi sampai muncul tanda tanya sedemikian banyak gara-gara tak percaya saya akan menanyakan pertanyaan itu padanya.

Setiap dari kita punya stok silly questions. Namun saya yakin banyak pula di antara kita yang sekarang sudah terbiasa untuk menanyakannya kepada mesin pencari saja. Percayalah mereka punya jawaban lebih lengkap dan tidak akan membuat kita malu gara-gara pertanyaan tersebut.

Jadi jika memang teman-teman punya sesuatu yang ingin ditanyakan, apa pun itu. Coba tanyakan dulu pada mesin pencari. Setidaknya berusaha dulu sendiri baru menanyakannya pada orang lain saat buntu dan tak menemukan jawaban sama sekali di web yang ditawarkan mesin pencari.


Sebab mendingan tanya Google dulu deh kalau saya,

Mengapa Penulis Lebih Produktif Menulis di Malam Hari?


Sebenarnya saya tidak mengadakan studi apa pun. Hanya mengamati diri sendiri yang memang lebih lancar menulis di malam hari. Kadang sudah sangat mengantuk tapi tetap memaksakan diri buat menulis. Kalau sedang mengejar deadline memang lebih mudah saat malam hari. Padahal siang hari komplek perumahan sini sangat sepi. Apalagi malam hari. Tengah malam sih yang saya maksudkan sebab kalau masih jam 9-10 malam suami ngajak nonton film atau minta bikinkan minum.

Jadi menurut saya, saya (sang penulis) bisa lebih produktif saat malam hari barangkali karena gangguan menulis sudah sedikit. Tak banyak yang menghubungi smartphone saya. Terus saya biasanya juga tak keberatan tak membuka sosial media dulu selama menulis. Apalagi mengingat deadline yang harus diselesaikan. Sebab malam hari adalah waktu istirahat dan kebanyakan orang tidak akan menghubungi kita melalui media sosial jika memang kita tak terlihat sedang menggunakannya. Orang juga akan harap maklum jika kita membalasnya esok hari.

Ada juga yang mengatakan malam hari waktu yang paling tenang untuk menulis dan ide lebih banyak keluar saat orang lain sudah nyenyak ke alam mimpi. Tak semua orang punya pendapat yang sama. Kita akan selalu punya pendapat pribadi masing-masing. Namun apa pun alasannya banyak orang yang menghabiskan malamnya untk bergadang dan menyelesaikan tulisan sebelum tanggal deadline berdentang.

Menulis siang atau malam hari sah-sah saja jika memang kita punya waktu luang walaupun sebenarnya waktu malam hari lebih baik digunakan untuk beristirahat. Sebaiknya bangun lebih pagi untuk menulis bukannya menulis dari malam sampai pagi. Hidup dan menulis soal pilihan masing-masing tapi tubuh juga punya hak untuk diistirahatkan. Makanya saya sendiri lebih suka menulis siang hari walaupun memang malam hari rasanya otak saya akan lebih cepat bekerja dan tangan saya lebih cepat mengetik. Gangguan dari orang sekitar juga tak ada kalau malam hari.



Kalau kamu?
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design