8 Maret 2014

Aku Membuat Narasumbernya Menangis


Kemarin hari Jumat, seperti biasanya aku harus bersiaran di Cakrawala Islami selama 4 jam di Radio Volare. Sebab sekarang yang bertugas memegang acara tersebut adalah saya. Semenjak Febi Resiana harus fokus pada skripsinya dan tak ada orang lain yang bisa menggantikannya di acara tersebut. Saya memang sudah pernah memegang acara tersebut sebelumnya. Tapi memang dulu saya keberatan untuk terus-terusan memegang acara Cakrawala Islami karena saya takut pemahaman agama Islam saya yang masih cetek tak cukup untuk segmen Kajian Muslimah selama satu jam di 12-1 siang-nya. Di antara jam siaran dari pukul 10-2 siang.

Sekarang pun saya masih terus belajar untuk membawakan acara tersebut dengan menarik dan tidak terdengar menggurui orang lain.

Ada yang berbeda hari Jumat kemarin. Saya membuat narasumber yang mengisi segmen Kajian Muslimah menangis. Biasanya memang saat pemutaran lagu atau iklan saya akan mengajak sang narasumber untuk mengobro. Tak ada niat aneh-aneh sih sebenarnya. Sebab saya pikir saya akan ketemu lagi dengan narasumber tersebut yang bergantian dengan narasumber yang lain untuk mengisi Kajian Muslimah di Cakrawala Islami.

Jumat kemarin saya bercerita tentang pernikahan saya sebenarnya. Saya tak bercerita banyak. Saya menceritakan suami saya yang dulunya selalu ditolak oleh setiap perempuan yang dia ajak menikah. Alasan perempuan tersebut sih jelas sekali. Sebab pekerjaan suami saya penghasilannya tidak tetap setiap harinya. Bahkan pernah waktu awal-awal menikah dia beberapa hari tidak bekerja. Dia bekerja di PDAM sebagai distributor air bersih buat diantar ke rumah-rumah warga Pontianak. Orang di sini lebih mengenalnya sebagai Supir Tangki. Saya sendiri tidak begitu mempermasalahkan jenis pekerjaannya yang akan digolongkan orang sebagai pekerja kasar. Sebab selama itu halal dan cukup buat memenuhi kebutuhan kami berdua bukan masalah bagi saya sendiri. Apalagi mengingat saya juga bisa menghasilkan uang setiap harinya di blog atau di dunia nyata.

Saya katakan pada narasumber tersebut hal yang tak banyak diketahui oleh orang. Sebab kebanyakan orang akan beranggapan suami saya beruntung menikah dengan saya yang pendidikannya bagi sebagian orang tinggi dan saya bisa menghasilkan uang buat keluarga kami yang masih diisi kami berdua. Padahal sebenarnya kalau boleh jujur, sebenarnya sayalah orang yang paling beruntung di dunia ini bisa menikah dengan lelaki sebaik dia. Dia yang mengajari saya banyak hal. Dia membuat saya menjadi perempuan yang sangat berbahagia.


Narasumber meneteskan air mata saat saya mengatakan hal tersebut. Dia terharu. Sangat terharu mendengar cerita pernikahan kami yang diawali perkenalan yang sangat singkat. Kemudian bermodalkan tabungan yang pas-pasan. Sekarang pun masih terus menabung untuk menggapai impian kami berdua. Ah rasanya saya tak bisa berkata-kata lagi melihat air mata yang jatuh itu. Saya telah menyentuh hatinya. Hati bagian paling dalam sang narasumber. Itulah pertama kalinya saya merasa tidak kesal karena telah membuat seorang perempuan menangis.

Komitmen dan Kebiasaan

Jika ada yang bertanya bagaimana menjaga konsistensi dalam menulis terutama menulis di blog, tentunya jawaban saya ada dua. Paling penting dua ini saya pikir yang harus dilakukan oleh banyak orang di luar sana. Sebab kadang motivasi saja tidak cukup untuk meningkatkan produktivitas di dalam menulis.

Pertama kita memang harus memegang komitmen untuk menulis. Janji dengan diri sendiri untuk menulis terus atau setidaknya memposting sesuatu di blog kita. Beda dengan menulis novel atau menulis secara offline. Tak ketahuan oleh orang lain kita sebenarnya menulis atau tidak. Kita bisa saja mengaku bahwa kita sudah menulis (berapa halaman pun itu) jika secara offline. Beda cerita saat kita menulis secara online. Akan kelihatan di blognya sudah berapa banyak tulisan yang terpajang. Sudah update blognya atau belum.

Perjanjian dengan diri sendiri, komitmen, memang sangat dibutuhkan untuk menjaga konsistensi menulis. Sebab tak sedikit blog yang akhirnya menjadi kuburan maya. Setelah banyak sekali kita membuat pembenaran untuk tidak mengisinya. Berbagai alasan seperti sibuk, internet ngadat, tak tahu harus menulis apa, sepi pengunjung, atau masih banyak alasan lainnya yang bisa saya tuliskan di sini. Namun apakah memang demikian?

Terlihat oleh orang di blog ini komitmennya memang selalu terjaga. Saya pikir itu semua karena sudah kebiasaan. Saya sangat terbiasa menghabiskan waktu sendirian di rumah tanpa siapa pun. Lalu satu-satunya yang bisa saya lakukan berjam-jam adalah dengan memangku papan ketik komputer saya. Kemudian menyelesaikan satu demi satu tulisan di blog ini.

Menulis memang harus dijadikan kebiasaan. Sebab dengan menulis kita mengajar otak kita untuk terus berpikir. Mengasah kemampuan kita mengolah kata-kata. Menulis bukan lagi masalah suka atau tidak suka. Menulis juga bukan masalah minat dan bakat. Kita buat sebuah perumpamaan seperti ini. Menulis itu seperti mandi. Saya sendiri dari kecil adalah orang yang susah sekali untuk disuruh mandi. Malas sekali bangun pagi kemudian mandi. Tetapi orang tua tak pernah lelah meminta saya mandi setiap hari sebanyak dua kali.

Akhirnya mandi menjadi kebiasaan dan lama-lama menjadi kebutuhan. Sebab orang yang sudah terbiasa mandi pasti merasa sangat tidak nyaman jika menghabiskan waktunya tanpa mandi sama sekali. Walaupun ada beberapa kasus saya tidak mandi. Hahahahaha...


Jadi saat menulis sudah menjadi kebiasaan yang lama-lama menjadi kebutuhan, kita sendiri akan merasa nyaman setelah menulis satu dua tulisan. Entah itu secara online atau offline. Bergantung pilihan kita. Siap menjaga komitmen menulis dan menjadikannya kebiasaan?
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design