18 Februari 2014

Saya Harus Menulis Tentang Apa?


Barangkali itu yang akan terlintas di dalam kepala orang saat pertama kali memiliki blog. Sebab tak semua orang sejak awal, sejak sebelum punya blog sudah tahu apa yang ingin dia tuliskan. Saya sendiri pertama kali membuat blog tentu saja ingin mengisinya dengan kisah-kisah fiksi yang bermain di alam imajinasi saya. Kemudian berkembang menjadi hal-hal yang tak bsia saya tumpahkan pada manusia. Ternyata memang ampuh curcol di dalam blog. Demikian pikir saya. Hingga akhirnya saya tahu apa yang ingin saya sampaikan. Semua hal. Semua hal yang saya pikir bermanfaat buat siapa saja. Walaupun hanya satu orang.

Setidaknya suatu hari saat tulisan ini dibaca oleh anak-anak atau cucu-cucu saya, saya masih sempat meninggalkan kenangan buat mereka.

Saya harus menulis tentang apa? Seberapa banyak orang yang menanyakan hal tersebut padamu? Kembali lagi ke tujuan kita untuk menulis. Apa yang ingin kita tuliskan di dunia ini? Apa yang ingin kita tinggalkan? Apa yang ingin kita dapatkan? Saya memang beruntung menjadi orang yang suka sekali menulis tanpa tahu dengan jelas tujuan saya menulis apa dulunya. Apa yang anak perempuan kecil usia 8 tahun ketahui tentang tujuannya menulis.

Waktu menemukan keinginannya untuk menulis dia hanya merasa bahwa dia juga bisa menulis dongeng seperti orang yang tulisannya dimuat di majalah Sahabat Pena tersebut. Sayangnya saya sudah tak tahu di mana majalah tersebut berada. Saya hanya membacanya berulang-ulang sampai saya punya versi sendiri tentang dongeng tersebut. Menuliskan ceritanya di buku sendiri dan waktu itu saya tahu yang ingin saya lakukan hingga saya besar nanti.

Saya ingin menulis. Menjadi penulis fiksi.

Seiring perkembangan waktu memang saya akhirnya tak hanya menuliskan tentang fiksi. Banyak hal yang saya tulis di blog ini adalah hal-hal yang terlintas di dalam kepala saya. Hal-hal yang barangkali juga melintas di kepala teman-teman.


Jika setelah membaca ini pun masih tak tahu ingin menulis apa di blog teman-teman yang baru jadi saya rasa tak ada salahnya menceritakan diri kita sendiri sebagai perkenalan. Katakankan postingan 'Hello World' ala wordpress. Yah kalo membuat blog di wordpress sih enak ya. Bisa ada postingan pembuka gratis. Blognya nggak benar-benar kosong. Beda dengan di blogspot yang isinya tak ada saat pertama kali dibuat.

Antara Meminta dan Diberi


Sebenarnya sejak kecil saya selalu diajarkan oleh Umak (ibu saya) untuk berbagi dengan orang lain. Jadi ketika mendapatkan rezeki lebih dari yang diharapkan atau lebih dari cukup saya memang suka sekali membaginya dengan orang lain. Istilahnya kalau dapat sedikit ya baginya sedikit. Kalau dapat banyak maka banyaklah yang akan saya bagi dengan orang lain. Terutama saudara.

Tetapi anehnya di dalam diri saya ini adalah saya kurang suka diminta. Apalagi jika memintanya itu bagi saya tidak pantas dilakukan. Misalnya kita membuat sesuatu lalu sesuatu tersebut menghasilkan rezeki. Lalu tiba-tiba muncul orang-orang yang ingin meminta bagiannya. Walaupun hubungan sudah dekat atau katakanlah keluarga rasanya tetap tak pantas meminta jerih payah orang lain. Kecuali yang punya jerih payah itu anak atau ibu sendiri. Jadi kalau nantinya saya dapat rezeki tiba-tiba ibu saya meminta, bagi saya itu sangat wajar atau nanti saat sudah punya anak, anak saya yang meminta sesuatu bagi saya juga wajar. Termasuk suami. Namun di luar itu. Siapa pun orangnya rasanya kalau tak ikut andil dalam menyumbangkan pikiran atau tenaganya untuk sesuatu yang kita usahakan lalu kemudian meminta bagiannya, saya tak akan bisa menerimanya.

Meskipun sebenarnya saya akan memberikan, sejumlah yang saya ikhlas pada mereka, tetapi ketika sebelum kita sendiri memberikan sudah diminta. Itu entah mengapa merusak keinginan saya untuk berbagi lebih dengan orang-orang ini. Dimintai. Saya lebih suka memberi tanpa diminta sebab itu datang dari lubuk hati kita yang paling dalam. Kalau diminta sebelum memberi itu kesannya kita memberi karena terpaksa. Sebab diminta. Makanya kita mau memberi.

Syukur-syukur kalau mood saya sebelumnya untuk berbagi itu tidak rusak. Tapi bisa saja karena diminta saya jadi mengurungkan niat saya untuk membagi rezeki saya dengan orang yang meminta tersebut lalu membaginya dengan orang lain yang tak meminta. Jangan minta sesuatu dengan saya karena memang saya tidak suka diminta-mintai. Sebab peminta-minta itu biasanya ada di lampu merah sedang menadahkan mangkuknya menunggu kita menebarkan uang receh. Padahal kalau dia mau bisa jadi tanpa meminta orang dengan ikhlas memberikan rezeki untuknya yang membutuhkan. Jika memang dirinya benar-benar fakir miskin. Bahkan tak menutup kemungkinan rezeki yang dia terima dari pemberian orang akan jauh lebih banyak dari yang dia dapatkan dengan meminta-minta.


Ah semoga saja orang yang saya maksud membaca apa yang saya tuliskan di sini.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design