17 Desember 2014

The Love Is Not Enough

Aku menatap wajahnya yang membeku. Tak tahu apalagi yang harus kulakukan selain mengaduk kopi hitam yang belum kuhirup sejak tadi. Tangannya yang besar terlihat mengepal. Dia marah. Itu pasti. Aku juga marah. Kedewasaan yang menahan kami berdua untuk mengeluarkannya di sini, sekarang ini. Dari sini aku bisa melihat orang yang berlalu-lalang karena cafe ini terdiri dari kaca bening yang besar. Hanya ada tiang-tiang kecil yang tak begitu mengganggu pemandangan.

“Kamu yakin?”

Suaranya yang juga besar memaksaku untuk menarik napas yang sangat panjang untuk menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil.

“Setelah lima tahun, hanya begini akhirnya?”

“Seharusnya aku yang bicara begitu.”

“Siapa dia?”

“Seseorang yang mau menikah denganku.”

“Jadi?”

“Ya aku akan menjadi istrinya.”

“Bagaimana denganku?”

“Lima tahun aku ragu dengan posisiku dalam hidupmu.”

“Menikahlah denganku.”

“Maaf.”

“Batalkan pernikahanmu dengannya.”

“Tak bisa.”

Kuletakkan selembar kertas berwarna emas bersampul plastik padanya. Tertulis namanya di sana. Dia kembali membeku.

“Lima tahun aku memintamu untuk menjadi suamiku. Sekarang waktumu sudah habis.”

“Bukankah kamu mencintaiku?”

“Kadang cinta saja tidak cukup untuk modal pernikahan.”

Aku berdiri dan menyambar tasku. Meninggalkan kopiku yang belum kuhirup dan laki-laki yang selama ini kutunggu lamarannya sampai 5 tahun lamanya.

@honeylizious

Followers