22 Desember 2014

Roti Jambul

Ini adalah roti yang menemani langkah saya membesar. Roti kecil dengan jambul gula di atasnya. Dapat dipastikan yang disukai anak-anak adalah gulanya di bagian atas itu. Walaupun saya sendiri tetap makan bagian rotinya yang tak begitu manis. Tentu saja dibuat tak begitu manis karena bagian manisnya sudah ada di luar dan diberi berbagai warna yang menarik. Jangan tanya soal pewarnanya apakah berbahaya atau tidak, waktu kecil saya tak pernah memikirkan soal itu. Selama enak, ya masuk aja ke dalam mulut.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya merasakan gula manis di atas roti ini. Entah kapan waktu saya memakannya. Mengingatnya kembali mengingatkan saya tentang banyak hal. Tentang rambut saya yang tipis. Tentang saya yang suka mengenakan gaun dan berputar seperti pemain film Bollywood. Berharap bisa cepat membesar. Tubuh gendut dan pendek yang dengan mudah Aki gendong.

Banyak sekali hal yang akan muncul di dalam kepala hanya dengan sepotong roti jambul. Namun kenangan-kenangan itu tak akan bisa terulang kembali. Bahkan kenangan kemarin sudah tak bisa diulang kembali. Rasanya banyak sekali hal yang terlewatkan. Orang-orang di dalamnya juga menghilang satu demi satu.

Rindu tak bertepi. Entah berapa kali 'seandainya' yang akan saya habiskan hanya untuk mengembalikan semua yang saya miliki dulu. Semua yang saya serahkan demi masa depan yang saya genggam sekarang. Memang sih, untuk mendapatkan yang kita butuhkan, kita mau tak mau merelakan yang kita inginkan. Bukan menyerah begitu saja. Tapi menerima keadaan.

Roti jambul itu. Kenangan itu. Sudah lewat. Kalau ditanya lagi apakah saya akan membeli beberapa roti jambul untuk mengembalikan ingatan itu lebih kuat lagi di dalam kepala? Tidak. Tentu saja tidak. Saya rindu dengan diri saya di masa lalu namun roti-roti jambul itu tak akan bisa membukakan pintu masa dulu yang pernah saya tempati.

Sekarang sudah terlalu dewasa hanya untuk sekadar makan roti jambul.

@honeylizious

Followers