8 Desember 2014

Pulau Harapan: Koin, Koin

Oktober kemarin memang akhirnya jalan-jalan ke Kepulauan Seribu. Ini adalah hadiah Tulis Nusantara 2013 lalu. Bersama pemenang lainnya kami ke Jakarta dulu, menginap satu malam di hotel dan berangkat ke Muare Angken, menuju Kepulauan Seribu. Kondisi tubuh saya waktu itu memang kurang fit. Apalagi sedang hamil muda dan terpapar asap rokok dari pemenang lainnya.

Sebagai seorang perempuan yang alergi berat dengan rokok dapat dipastikan betapa parahnya saya bersin, demam, dan batuk waktu itu. Bahkan hampir semalaman saya tak bisa tidur selama di rumah sewaan tempat kami menginap. Cuacanya memang cukup ekstrim. Siang panas bedengkang malamnya cukup dingin. Hidung meler dan kepala pusing banget.

Memang tak bisa menyalahkan orang yang sama diri sendiri saja tak peduli untuk peduli dengan orang lain yang tak bisa terpapar asap rokok. Selain mengalami sakit yang cukup parah selama di sana dan cukup membuat saya tak banyak memotret tempat di sana karena saya lebih suka berbaring selama di perahu motor yang membawa kami menyeberang dari Muare Angke ke Kepulauan Seribu.

Hal pertama yang saya ingat selain banyaknya asap rokok yang saya hirup waktu itu, saya juga mengingat anak-anak kecil yang berenang di pinggir Pulau Harapan. Mereka memanggil-manggil sambil meneriakkan 'koin, koin'. Saya pikir mereka menawarkan 'kue, kue' waktu itu. Pendengaran saya memang selalu bermasalah kalau sedang sakit parah. Apalagi pilek.

Ternyata itu adalah cara yang dilakukan anak-anak di sana untuk mendapatkan uang. Jadi kita diminta melempar koin ke laut lalu anak-anak kecil itu akan berebutan untuk menyelam dan mendapatkan uangnya. Pemandangan uang menarik sebenarnya. Cuma saya yang tadinya salah dengar 'koin' menjadi 'kue' tidak melemparkan apa-apa ke laut untuk anak-anak itu.

'Koin, koin'.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers