1 November 2014

Hidup Itu Pilihan

Saya tak memahami orang yang bisa memasrahkan segala sesuatunya di dalam hidupnya. Memang kita harus menerima takdir tapi terkadang apa yang kita anggap takdir yang tak bisa diubah itu bisa saja kita mengubahnya kalau kita mau. Kalau memang kita benar-benar mau melakukan sebuah perubahan karena kita tak ingin menjalani segala sesuatunya yang tak sesuai dengan pilihan kita.
Paling mudah adalah mengenai mendapatkan suami yang tidak merokok. Saya yakin banyak perempuan di luar sana yang ingin mendapatkan suami yang bebas dari rokok. Karena selain asap rokok itu berbahaya buat kesehatan, membeli rokok juga pake uang. Tentunya merokok menjadi pemborosan yang cukup mengkhawatirkan. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan. Melainkan soal perempuan yang seakan tak punya pilihan ketika berhadapan dengan laki-laki yang akan mempersuntingnya menjadi istri. Tak ingin menjadi perawan tua atau sudah kadung cinta membuat perempuan mengalah pada keadaan. Menikahlah mereka dengan laki-laki yang merokok dan tak mau berhenti merokok demi mereka.

Kalau memang cinta dengan seorang perempuan, seharusnya seorang lelaki siap meninggalkan kebiasaan buruknya.

Memang menemukan lelaki yang bukan perokok sekarang ini agak sulit. Apalagi jika kita berharap laki-laki tersebut mapan, punya pekerjaan yang baik, tidak kasar pada perempuan, enak dilihat, dan masih banyak persyaratan lainnya yang kita harapkan ada pada dirinya. Saya sendiri juga menikah dengan seorang lelaki yang sekarang tak lagi merokok. Dia berhenti total demi saya. Sebab sejak awal saya sudah memintanya berhenti atau tidak akan pernah ada pernikahan.

Setiap perempuan sama berharganya. Itu sebabnya saya tidak takut pernikahan itu batal karena dia tak sanggup berhenti merokok. Katakanlah saya beruntung bisa bertemu laki-laki seperti itu berkali-kali. Namun mengapa kita harus mengalah pada keadaan yang sebenarnya bisa kita perbaiki. Kita berhak mendapatkan yang terbaik yang sesuai dengan yang kita inginkan. Bukan lelaki yang sempurna tapi seorang lelaki yang sesuai dengan kebutuhan kita.

Masalah kekurangannya yang lain tak perlu saya keluhkan sebab selama ini saya hanya memegang dua syarat utama untuk memilih suami. Penyabar dan bebas dari rokok.

Jika kamu yang membaca tulisan ini belum menikah, pilihkan dengan logika yang benar bukan hanya hati. Sebab kita akan hidup dengan laki-laki tersebut sampai usia memisahkan. Apabila sudah menikah dan ternyata suami menang dengan segala kebiasaan buruknya ya kita sendiri yang sudah memilih dia untuk menjadi pasangan hidup kita, hadapilah.

Buat yang hingga hari ini masih ketergantungan dengan rokok, berhentilah menikmati merokok sebelum rokok menikmati Anda.

@honeylizious

Followers