12 Oktober 2014

Rahasia di Balik Takdir Allah


Bekerja di balik layar sebuah radio swasta yang ada di Pontianak rasanya memang sudah menjadi jalan hidup yang harus saya jalani. Sudah berlalu 4 tahun sejak pertama kali saya menjejakkan kaki di gedung tersebut sebagai seorang penyiar. Diterima tanpa ikut persaingan seperti di audisi. Memang sudah jalannya. Impian saya yang terpatri belasan tahun yang lalu. Saat saya masih duduk di bangku SD pun saya sudah sering membayangkan menjadi penyiar radio walaupun tak pernah sekalipun saya tahu bagaimana caranya. Di Jawai tak ada radio yang berdiri. Di pedasaan yang bahkan listrik menjadi barang yang sangat mewah. Bertahun-tahun kami menikmati cahaya lampu minyak yang akan membuat hidung kami, anak-anak SD yang belajar hingga malam, penuh dengan salang. Menghitamlah lubang hidung kami pagi harinya karena menghirup asap dari lampu minyak tanah tersebut.

Mimpi untuk menjadi penyiar radio tak pernah saya kubur. Saya pupuk dalam hati. Saya simpan dalam-dalam dan berharap suatu hari nanti, suatu hari yang entah kapan, akan benar-benar menjadi nyata.

Semakin bertambahnya usia, semakin banyak potongan kehidupan yang menyatu dengan potongan lama hidup saya. Hingga hari ini ada potongan baru lagi yang membentuk gambar yang sangat jelas. Dulu saya sering bertanya-tanya, megapa saya harus lulus di FKIP Bahasa Indonesia padahal impian saya adalah menjadi orang yang bisa kuliah di jurusan bahasa Inggris. Lalu alih-alih menjadi guru saya malah melepas pekerjaan saya sebagai seorang guru bimbel dan memilih untuk menjadi seorang penyiar radio. Tak peduli berapa pun gajinya.

Ternyata kalimat 'semua akan indah pada waktunya' itu benar adanya. Lagi-lagi ada keindahan yang menjadi rahasia Allah dan sekarang tersibak sudah. Sebab untuk meguasai bahasa Inggris dengan baik kita harus memiliki kemampuan bahasa Indonesia yang lebih baik. Itu alasannya mengapa saya tidak diluluskan Allah pada jurusan bahasa Inggris di FKIP, melainkan lulus di bahasa Indonesia. Dia ingin sampai saat itu tiba, saat saya benar-benar belajar bahasa Inggris, saya bisa menguasainya dengan baik dengan bekal bahasa Indonesia yang sama baiknya. Lalu mengapa saya harus lulus sebagai penyiar di Radio Volare? Itu juga rahasia yang sekarang tersingkap sedikit, sebab saya tahu Allah masih punya banyak rahasia indah yang akan Dia bagi ketika waktunya sudah tiba nanti.

Setelah 4 tahun belajar banyak hal di Radio Volare ternyata saya menyadari bahwa bekal yang saya dapatkan selama 4 tahun itu sangat banyak. Kemampuan berbicara yang sangat penting untuk kuliah di ABA, kemauan untuk terus belajar yang tak pernah padam, dan satu hal sederhana yaitu mengedit suara. Saya yakin di kelas ABA hanya saya yang bertahun-tahun belajar merekam suara dan mengeditnya. Mencampurnya dengan suara yang lain. Bahkan memotong-motong lagu yang sudah jadi untuk dijadikan satu-kesatuan di dalam sebuah rekaman. Saya belajar itu di samping saya juga bersiaran.

Ilmu merekam dan mengedit suara itu ternyata sekarang saya butuhkan untuk tugas kuliah saya di ABA. Bahkan perjumpaan saya dengan Chan tahun 2013 lalu adalah cara Allah membentuk saya menjadi mahasiswa ABA yang siap menghadapi tugas-tugas yang menakjubkan. Membuat presentasi yang bagus, menguasai materi dengan baik, dan banyak hal yang rasanya tidak pernah saya capai di FKIP Bahasa Indonesia. Selama menjadi mahasiswa bahasa Indonesia saya memang bukan mahasiswi yang menonjol dan bisa membuat teman-teman saya kagum. Saya biasa-biasa saja dengan hobi menulis saya.

Namun sekarang di ABA, rasanya saya siap membuat prestasi yang mencengangkan bersama teman-teman saya yang tak kalah hebatnya.

@honeylizious

Followers