25 Oktober 2014

Pelajaran Kehidupan (1)

Kehidupan mengajarkan kita tentang banyak hal. Tentang bahwa hidup ini tak sekadar makan, minum, dan tidur. Hidup lebih dari itu. Buat yang Islam pasti tahu betul bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Kita tak lagi hanya bisa melakukan itu di dunia nyata sekarang sudah ada dunia maya yang membuat jarak dan waktu tembus pandang. Kita dengan mudahnya bisa menebar apa saja kepada banyak orang. Entah itu manfaat atau sekadar mudarat.

Dulu, bertahun-tahun yang lalu, saya juga pernah menjadi pengguna sosmed yang labil dan alay. Masa itu sudah lewat. Tapi terekam. Jejak itu masih ada di sana. Saya pikir saya akan menjadi orang yang paling senang di dunia saat mengenal android dan sosial media itu lebih awal. Namun kemudian saya sadar bahwa akan jauh lebih baik saya mengenalnya saat saya sudah cukup dewasa untuk bertindak dan menanggalkan sifat labil dan alay tersebut.

Sekarang saya tak lagi spammer seperti dulu. Saat saya pikir tak begitu perlu untuk update status saya tidak melakukannya. Beda banget dengan awal perkenalan dengan sosial media. Kayak ada yang salah kalau nggak update status. Ada yang kurang aja gitu. Sekarang sih hanya tuntutan pekerjaan saya tetap harus bersentuhan dengan sosial media tersebut. Sekadar untuk menyalakan asap periuk nasi di dapur.

Walaupun saya pernah menjadi orang yang cukup ajaib di sosial media, saya menyadari banyak pembelajaran yang bisa saya ambil setelah menjadi orang yang dulu itu. Dulu. Bahwa saya tak ingin mengulangi masa-masa tersebut. Sudah lewat pribadi yang seperti itu. Sekarang memulai hal yang baru. Saya pikir sekarang saya lebih memilih ‘diam’ di sosial media dibandingkan harus mengatakan sesuatu yang menyakitkan buat orang lain atau mengatakan sesuatu yang memberikan energi yang negatif buat siapa pun yang membacanya. Karena tidak menyenangkan menjadi orang yang seperti itu.

Mau populer atau tidak, bukan itu tujuan kita bersosial media. Meskipun hanya 1 orang yang membaca status kita atau mendapatkan manfaat dari status tersebut saya pikir itu sudah lebih dari cukup dibandingkan kita populer, banyak yang baca status kita, lalu banyak yang terintimidasi dengan hal tersebut. Setidaknya kalau tak bisa mengatakan hal yang baik tentang orang lain, memuji diri sendiri tentu jauh lebih bermanfaat daripada menghina orang bukan?

Hidup hanya sekali. Kita tentu tak ingin menghabiskan energi kita untuk melakukan hal-hal yang melelahkan dan pada akhirnya tak memberikan manfaat buat siapa pun. Malah sebaliknya memberikan mudarat buat kita dan banyak orang di luar sana. Setiap orang bisa berubah dan saya yakin semua orang yang kemarin mengatakan hal yang tak bermanfaat ada kemungkinan hari ini akan membuat perubahan yang sangat positif buat orang di sekitarnya. Asal kita mau saya rasa.

@honeylizious

Followers