13 Oktober 2014

Menulis Itu Pembelajaran Abadi


Hingga hari ini pun saya selalu mengatakan bahwa saya terus belajar menulis. Semua tulisan yang sudah saya selesaikan adalah hasil dari pembelajaran saya selama ini. Sekarang saya masih mendalami lagi caranya menulis yang lebih baik. Mengasah terus hingga benar-benar tajam. Walaupun saat sudah berada di titik tajam yang tajam bukan berarti kita harus berhenti mengasah pisau kepenulisan kita. Sebab menulis itu belajar tanpa henti. Sampai mati. Sampai tangan ini tak mampu menulis lagi.

Saya bukan orang yang ulung dalam menulis. Saya hanya suka melalukan kegiatan ini. Saya merasa lebih hidup. Bagaimana denganmu? Apakah kamu merasa lebih hidup dengan menulis? Ada yang kurangkah rasanya saat kamu melupakan pembelajaran menulismu? Saya sendiri akhir-akhir ini memang sedikit tidak enak badan. Selalu mengantuk dan gampang sekali tertidur. Tapi saya tidak benar-benar sakit. Jadi beberapa hari ini saya melewatkan banyak sekali kesempatan untuk menulis. Padahal biasanya tak menulis sehari saja saya sudah kalang-kabut besoknya. Rekor baru nih bisa kosong sampai 4 hari tidak menulis.

Sekarang saya masih belajar untuk menulis dalam bahasa Inggris. Masih patah-patah bahasa Inggrisnya. Masalah grammarnya jangan ditanya. Saya baru 1 bulan berada di kelas bahasa Inggris di ABA. Latihan menulis bahasa Inggrisnya juga masih saya batasi satu dua postingan setiap minggunya. Sebab terkadang ada hal-hal yang ingin cepat saya sampaikan dan mau tak mau saya menggunakan bahasa Indonesia lebih dulu untuk menuliskannya. Daripada menunggu menyelesaikan bahasa Inggrisnya dan ternyata butuh waktu lebih lama bukan?

Dulu saya ingat betul saya bisa menulis panjang-panjang. Akhir-akhir ini pasti banyak yang menyadari pendeknya tulisan saya walaupun tak menjadi persoalan besar sih. Cuman kok saya merasa jadi penulis yang malas ya. Nulis sih tapi pendek. Atau nulis sih tapi sedikit. Sayang rasanya melewatkan banyak cerita yang harusnya bisa saya kabarkan di blog ini.

Bahkan saya masih belum menceritakan perjalanan saya selama ke Temajok seminggu yang lalu. Tempat indah yang tak ada listrik dan jaringan telponnya. Benar-benar terisolasi ditambah lagi dengan jalanan yang belum diaspal. Padahal tempatnya indah dan air lautnya jernih.

Nanti saya ceritakan lebih lengkap perjalanan saya ke Temajok bersama suami kemarin ya!

Buat kamu yang membaca ini dan merasa bahwa menulis itu sulit, menulislah. Lupakan menulis dengan sempurna. Menulis saja dengan rambu-rambu yang benar. Mengenai indah tidaknya jangan terlalu dipikirkan. Kadang yang menjadi masalah utama penulis adalah kita selalu berusaha menulis untuk mencari pujian orang atau sekadar decak kagum pembaca. Berharap tepuk tangan yang meriah ditujukan untuk kita.

Menulis itu perjalanan sunyi. Perjalanan mengenali diri kita sendiri. Saat kita diam dan hanya ada bunyi papan ketik menemani. Ketika itulah kita berkomunikasi dengan diri kita sendiri. Pelan-pelan berusaha mencerna apa yang ada di dalam pikiran kita sebenarnya. Melihat lebih ke dalam. Ada apa di sana? Siapa kita sebenarnya. Hal yang sering kita abaikan dan kita anggap kita sudah benar-benar mengenali diri kita. Padahal bisa jadi, kita hanya tahu sedikit tentang apa yang kita mau, tentang mimpi kita. Bahkan tentang apa yang kita rasa di dalam dunia ini.

Menulislah dalam kesunyian. 

@honeylizious

Followers