16 September 2014

Still From ABA

Debaran hari pertama kuliah sudah mulai berkurang. Tak begitu mengejutkan lagi berada di dalam kelas bersama banyak orang yang masih harus saya hapalkan namanya satu persatu. Ternyata saya masih memiliki kelemahan yang sama. Susah mengingat nama orang. Tapi hari ini saya mengingat beberapa lagi. Sebab saya memaksakan diri buat ingat. Ada rencana sih buat minta kontak mereka. Apalagi kalau ada yang menggunakan smartphone akan lebih gampang lagi. Masalahnya sih saya takut untuk terlalu dekat dengan orang. Takut saling menyakiti atau hanya menjadi pihak yang tersakiti.

Menyebalkan lho harus berada satu kelas dengan orang yang menyakiti kita. Slow down aja kali ya. Biarkan mereka yang meminta nomor hape saya atau tukaran pin BBM. Kalau terpaksa alias berada di kelompok yang sama untuk tugas mata kuliah tertentu ya sudahlah tukaran nomor hape adalah keharusan bukan?

Seperti sejak dulu, ternyata saya lebih nyaman untuk berinteraksi dengan lawan jenis. Berbeda dengan perempuan. Saya akan jauh lebih lama memiliki teman akrab perempuan dibandingkan laki-laki. Alasannya sih karena laki-laki kebanyakan bisa menjaga perasaan teman perempuannya. Banyak pertimbangan sepertinya di dalam kepala mereka. Entahlah. Apa perasaan saya atau bukan?

Pengalaman selama lebih dari 20 tahun hidup di dunia ini, laki-laki yang bisa membuat saya sebal biasanya yang sifat perempuannya lebih menonjol. Kalau laki-laki yang macho biasanya enggak. Belum genap seminggu kuliah suami sudah nagih. Dia menagih postingan berbahasa Inggris. Padahal jelas saya belum menguasai cara menyusun kalimat yang baik dalam bahasa Inggris. Walaupun satu di antara dosen saya selalu bilang bahwa tak ada salahnya mencoba dan membuat kekeliruan. Dari sana kita bisa belajar banyak hal.

Iya sih. Cuma malu aja gitu kalau ada tulisan yang amburadul bahasa Inggrisnya. Hahahaha....

Sejauh ini saya merasa kelas ABA saya selama 3 tahun ke depan akan menyenangkan. Walaupun saya tidak tahu apakah saya akan benar-benar mampu menyerap semua ilmunya atau tidak? Bagaimana nilai saya nantinya meskipun bukan hal tersebut yang menjadi prioritas saya. Tapi itu berpengaruh pada kelulusan. Saya tentu tak ingin berada di ABA lebih dari 3 tahun bukan?

Apalagi saya merencanakan untuk masuk STIE setelah lulus. Kemudian mengambil ilmu lain lagi setelah itu. Banyak ya kayaknya jalan yang akan saya lewati?

Mumpung belum hamil. Mumpung ada kesempatan dan saya rasa, detik ini saya merasakan betapa takdir itu indah untuk hidup saya. Saya hanya harus melihatnya lebih luas. Bukan potongan mozaik yang belum jelas bentuknya. 

@honeylizious

Followers