11 September 2014

Norman Kamaru Jadi Tukang Bubur, Terus?

Apa pun pekerjaan seseorang, selama yang dipilih adalah cara yang benar dan halal sebenarnya tak masalah dong apa pekerjaannya. Apalagi sebagai lelaki harus bisa menafkahi keluarganya. Begitu juga dengan Norman Kamaru. Ada beberapa media online yang mengabarkan dirinya sekarang jualan bubur. Tetapi dengan judul yang cukup provokatif. Bahkan dengan jelas menuliskan di bagian judulnya kata 'kasihan'. Bukannya bagus ya orang punya jiwa usaha. Membuka lapangan kerja buat dirinya sendiri. Entah bagaimana pendapat orang mengenai tukang bubur sebenarnya. Mau kecil atau besar usaha seseorang, dia tidak bekerja di bawah telunjuk orang lain lho.

Copyright http://showbiz.liputan6.com/

Bahkan saya sendiri salut dengan keberaniannya membuka usaha. Usaha menjual bubur bukan usaha yang bisa dipandang remeh. Sebab di Pontianak sendiri ada penjual bubur yang sudah buka cabang di mana-mana dan omzetnya bisa puluhan juta sebulan. Cuma jualan bubur lho. Makanya waktu sepupu saya tinggal di sebuah kos dekat kampus Untan saya menyarankan kepadanya untuk jualan bubur di kos. Modal bisa dikatakan kecil. Sebab untuk membuat bubur tak butuh banyak beras. Satu kilogram beras sudah bisa jadi bubur sepanci besar lho.

Coba kalau kita perhitungkan sehari bisa menjual 100 mangkuk bubur dan semangkuk bubur dihargai Rp5.000-Rp10.000. Dari bubur saja sudah bisa mendapatkan paling tidak Rp500.000. Jualan bubur juga biasanya jam 9-10 pagi sudah kelar, balik lagi ke kita cara mempromosikannya. Ada orang bisa sukses berdagang karena kemampuan promosinya yang menakjubkan, ada juga yang karena berada di lokasi yang memang memungkinkan. Seperti sepupu saya yang tinggal di kos mahasiswa. Di situ banyak sekali kos dan menjual 100 mangkuk bukan hal yang sulit kalau kita memang mau.

Belum lagi banyak warung bubur yang menyediakan gorengan dan minuman. Hitung aja deh sehari bisa menghasilkan keuntungan Rp300.000-Rp500.000. Sebulan sudah bisa dapat Rp9juta-Rp15juta. Tidak main-main bukan? Itu kalau kita punya satu warung. Kalau punya 10 warung tinggal dikalikan aja deh keuntungannya. Bagaimana bisa kita memandang Norman Kamaru kasihan dengan usaha menjual buburnya. Di Pontianak saya bsia menemukan banyak sekali warung yang menyediakan bubur dan selalu laris. Bahkan sebelum jam tutup mereka sudah kehabisan bubur. Karena orang yang ingin sarapan akan merasa lebih praktis beli saja semangkuk bubur di warung dibandingkan harus membuatnya sendiri di rumah.

Siapa tahu Norman Kamaru akan menjadi Tukang Bubur Naik Haji bersama keluarga di kehidupan nyata. Kalau memang benar Norman menjual bubur, sukses aja deh buat beliau. Apalagi dia kan terkenal ya, dibandingkan orang yang tidak begitu dikenal banyak orang dia sudah punya nilai jual yang cukup tinggi.

@honeylizious

Followers