Langsung ke konten utama

Like yang Berlebihan Itu Tidak Baik

Foto copyright Kaskus.us

Saya sesekali akan menekan tombol like di facebook saya jika memang itu dibutuhkan, saya tidak akan melakukan spam like. Karena saya tahu sekarang kebanyakan pengguna sosial media sudah menggunakan smartphone. Tentu saja dengan mudah notifikasi akan masuk dan smartphone akan berbunyi tak berhenti-henti jika ada yang berlebihan melakukan like. Sudah biasa sekali kan mendengar istilah ini.

Spam like?

Itu lho ngelike status orang di facebook, bahkan sekarang komen orang juga bisa dilike. Dulu sempat juga komen orang bisa direply. Sekarang sih komen yang bisa dibalas hanya di fanspage. Ternyata sudah banyak sekali perkembangan sosial media yang tetap banyak yang menggunakannya ini. Ada yang cuma sekadar punya, ada yang menjadikan rutinitas, ada juga yang kayak saya, buat jualan dan pencitraan. Hahahaha...

Kalau yang dilike satu dua aja diwaktu yang bersamaan alias di detik yang sama, saya masih maklum, tapi kalau sampai terjadi puluhan like dalam satu menit. Owh ini akan membahayakan sekali. Pertama notifikasi yang jauh lebih penting bisa jadi terlewat dan saya kurang suka ngecek satu-satu apalagi sampai scroll ke bawah. Pengennya si Mark Z itu menyadari celah gangguan ini dengan memberikan batasan like dalam sehari. Misalnya 5 atau 10 aja. Kayak twitter yang membatasi kicauan sebanyak 100 twit dalam satu jam. Lebih dari itu tunggu jam berikutnya. Disuspend selama satu jam biasanya. Karena terlalu aktif.

Jadi kalau di twitter belum pernah disuspend sementara berarti kalian nggak superhyperaktif. Saya sendiri pernah beberapa kali. Hahahah … padahal waktu itu masih pakai symbian. Bisa-bisanya kebanyakan ngetwit. Sekarang sih beda. Sebab dengan punya android saya biasanya buka twitter atau sosial media lainnya kalau ada notifikasi. Apabila tak ada notifikasi saya bukanya beberapa kali aja dalam sehari. Kadang buat ngecek status lomba aja. Cari yang bermanfaat daripada ngomongin yang nggak sedemikian penting atau malah berpotensi mengganggu atau menyakiti orang lain.

Buat yang suka spam like di luar sana, silakan berteman dengan yang sama-sama suka spam. Jangan mengganggu orang yang nggak suka menerima dan memberikan spam like. Pernah baca tulisan Pengemis Jempol saya sebelumnya? Baca dulu deh tulisan lama saya itu biar adem dan paham. 

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan