7 September 2014

Lagi, Jangan Menunda Kehamilan



Lagian saya bukan kambing kok, yang harus punya anak baru bisa memberikan penghasilan. - Rohani Syawaliah


Baiklah, entah ini orang keberapa yang kayaknya bakalan dapat uang setumpuk kalau berhasil merecoki hidup saya dengan kalimat yang berbunyi 'jangan menunda kehamilan'. But hey, dia bukan orang yang pertama dan tentu saja bukan orang yang terakhir. Percaya deh akan lebih banyak orang yang muncul dengan hal yang kayak gitu-gitu juga.

Let me ask you, apakah kehidupan manusia itu harus punya cetakan yang sama. Musti yang seragam? Harus ada tolak ukur tertentu. Misalnya siapa paling cepat sekolah dan bisa selesai kuliah lebih duluan jaminan masuk surga? Apalagi yang bisa cepat menikah dan punya banyak momongan.

Bukankah kehidupan ini adalah kebahagiaan yang kita butuhkan. Untuk bahagia cukup dengan mensyukuri yang ada dan tidak merecoki yang belum ada. Kalau belum dikasih ya itu artinya Allah sedang memberikan kesempatan saya untuk melakukan hal yang lain. Hal-hal yang tak bisa dilakukan perempuan hamil.

Gini deh ya, saya belum setahun menikah dan semua orang menyarankan untuk cepat punya anak. Jangan menunda kehamilan. Terus mereka mau bantu ngurus anak saya nantinya? Mau bayarin rumah sakitnya kalau saya melahirkan? Kalo enggak, enggak usah ngomong sih ya.

Saya klarifikasi deh buat yang kira-kira akan menanyakan atau memberikan 'nasihat' buat saya. Saya tidak menunda kehamilan. Saya tidak kelelahan seperti yang orang lain kira. Saya bisa menyelesaikan tulisan panjang ini dalam waktu kurang dari 20 menit kok. Jadi kalau kecapean gara-gara ngeblog kayaknya enggak. Ada yang menganggap saya menunda kehamilan?

Gini deh, saya menunda atau enggak emangnya urusan siapa? Pengen sekali bilang 'masalah buat lohhhh' tapi saya sudah terlalu lelah untuk ngomel kayak gitu ke ibu-ibu yang meninggalkan anaknya di rumah orang tuanya demi pekerjaannya sekarang.

Saya tidak menunda kehamilan. Tidak kelelahan. Dalam kondisi yang sebenarnya bisa hamil. Tapi saya selalu mensyukuri apa yang dikasih dan yang nggak dikasih. Kalau Allah belum ngasih kehamilan sama saya itu artinya Dia memberikan kesempatan saya untuk mengejar sesuatu yang lain. Memangnya salah hamilnya nanti-nanti aja? Mak Ning dapat anak umurnya 34 tahun lho. Baik-baik aja tuh.

Tenggang waktu yang sekarang ingin saya manfaatkan untuk menimba ilmu lagi. Sebanyak mungkin. Supaya anak saya nantinya bisa belajar banyak hal sama saya. Setidaknya saya bisa menjadi guru terbaiknya di rumah. Saya bukan tipikal ibu yang akan memilih untuk duduk di depan meja kerja di kantor dan menyerahkan anak saya sama baby sitter. Nope! Saya nggak mau anak saya kehilangan sosok saya sepanjang hari dan saat dia tertidur pulas saya baru pulang.

Tak ingin mengulangi masa kecil saya sama anak saya nanti. Umak tak benar-benar punya banyak waktu luang. Bahkan saat saya menikah dia hanya hadir dua hari kemudian kembali lagi ke Jawai Selatan. Anak mana yang tak ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan ibunya? Perempuan yang telah melahirkannya?

Mendingan mana, belum punya anak atau punya anak tapi ditinggal sama baby sitter?

Buat yang muslimah pasti tahu betul bahwa tempat terbaik bagi perempuan adalah di rumah. Menjadi istri dan ibu. Saya tidak akan merecoki hidup orang yang memutuskan untuk meninggalkan anaknya sama baby sitter selama dia tidak merecoki hidup saya yang masih menikmati masa-masa tahun pertama pernikahan.

Tujuan utama saya menikah hanya ingin bahagia dengan seseorang yang bisa menemani saya setiap hari setiap malam. Jika nantinya mendapatkan anak, alhamdulillah ada bonusnya.

Cuma, buat kalian di luar sana yang sudah punya anak dan merasa wajib menasihati orang lain mengenai 'nggak-boleh-lho-nunda-kehamilan', coba kalian pikir, bagaimana jika orang yang kalian anggap bicara itu seperti teman saya yang sudah 10tahun menikah dan ternyata memang mandul? Kepikiran nggak gimana rasanya?

Itu sama rasanya dengan kalian mendapat pertanyaan 'kok kamu mau sih ninggalin anak kamu sama baby sitter yang pendidikannya di bawah kamu, itu anak kamu lho, masa kamu rela dia dididik dengan cara baby sitter dan kamu sendiri di kantor?'. Nggak enak lho rasanya. Baik yang pertama atau yang kedua.

Hingga hari ini saya hanya bisa mensyukuri, walaupun Umak tak punya banyak waktu buat saya, dia adalah seorang ibu yang paling pengertian di dunia ini. Tak pernah sekalipun saya mendengar dia menanyakan saya sudah hamil atau belum. Bahkan tak sibuk merecoki saya menunda kehamilan atau enggak. Sudah minum vitamin apa aja. Dan masih banyak pertanyaan yang tak perlu saya dengar lainnya dari orang lain, dia tak menanyakan apa-apa. Sebab dia percaya dengan apa yang saya lakukan.

Lagian saya bukan kambing kok, yang harus punya anak baru bisa memberikan penghasilan. 

@honeylizious

Followers