20 September 2014

It's Not So Easy Like You Think Laaaaa....



Kalau kamu adalah orang dewasa seusia saya. Sudah melewati batas usia perak dan belum 30 tahun, punya televisi di kampung yang masih hitam putih bahkan dinyalakan dengan aki mobil, barangkali kita melewati masa-masa sitkom yang sama. Dari televisi negeri tetangga. Ditayangkan di saluran TV 3. Kalau disuruh memilih TV mana yang akan saya pilih dari 3 saluran TV Malaysia yang bisa keluarga saya nikmati di kampung, saya lebih memilih TV 3. Siarannya lebih variatif walaupun saya juga suka dengna TV 2. Beda dengan TV 1 yang lebih banyak acara yang membosankan buat anak seusia saya waktu itu.

Sitkom yang sampai sekarang masih saya ingat adalah sitkom Phua Chu Kang. Banyak sih sebenarnya sitkom yang ada di saluran TV Malaysia waktu itu. Namun sitkom Phua Chu Kang ini tak bisa dilupakan karena ini adalah sitkom yang menggunakan Singlish. Jadi bahasanya menggunakan aksen Kantonis, di Malaysia satu di antara bahasa yang banyak digunakan masyarakatnya ya itu, Kantonis. Bahasa Inggrisnya serupa dengan bahasa Inggris di Singapura. Bahasa Inggris dengan aksen Kantonis. Jadinya Singlish gitu.

Satu kalimat yang tak bisa saya lupakan dari sitkom ini, kalimat yang selalu diucapkan Phua Chu Kang adalah 'It's not so easy like you think laaaaaa....'. Intinya sih pengen bilang bahwa 'ini nggak semudah yang kamu pikir lho'.

Begini, banyak orang yang tak pernah merasakan atau melihat perjuangan saya untuk berada di titik yang sekarang, titik di mana blog saya menghasilkan uang, dagangan online saya akhirnya stabil dan pelanggan tetapnya sudah banyak, belum lagi usaha jualan jasa lainnya yang saya buka juga alhamdulillah lancar. Kelihatannya hanya butuh 3 tahun membangun personal branding. Kita tidak bisa langsung meraup keuntungan dengan membagikan dagangan di sosial media dalam waktu sehari. Bahkan kecambah aja butuh proses buat tumbuh menjadi kecambah seutuhnya.

Tak semudah membalikkan telapak tangan. Inilah yang kadang membuat orang suka berhenti di tengah jalan. Tidak ada waktu ideal untuk menghasilkan uang dari blog. Semuanya kembali lagi ke diri kita. Seberapa keras kita mau melangkah dan mencoba? Seberapa kuat kita untuk berdiri lagi ketika sudah jatuh berkali-kali. Siapkah kita dengan risiko tak punya uang sama sekali suatu waktu?

Saya sendiri waktu itu tak terlalu banyak memikirkan risiko yang ada. Padahal risikonya sangat besar. Saya hidup sendirian di Pontianak. Segalanya bayar sendiri. Namun saya pertaruhkan semua itu dan memilih untuk menjadi penulis. Padahal saya bukanlah orang dikenal banyak orang dan barangkali akan banyak orang yang mendefinisikan saya sebagai 'bukan siapa-siapa'. Soal tenar saya pikir itu hanya bonus. Nggak terkenal juga nggak apa-apa asal bisa nulis dan menghasilkan uang setiap hari.

Walaupun tujuan awal, pertama kali blog ini lahir, tak terbersit sebagai ladang menanam benih uang.

Buat siapa saja di luar sana yang menjadikan seseorang sebagai contoh yang ingin dia tiru, jangan hanya berpatokan pada apa yang dia punya sekarang. Lihat lagi ke beberapa tahun di belakangnya. Apa saja kegagalan yang sudah dia dapatkan untuk berada di titik yang sekarang dia pijak?

Apa pun itu, silakan kejar mimpi masing-masing tapi jangan berharap jalannya akan mudah, akan lancar begitu saja. Seperti kata Phua Chu Kang: “It's not so easy like you think laaaaa....”. 

@honeylizious

Followers