28 September 2014

I Am The Best of Me


Semoga bahasa Inggrisnya benar. Semoga. Saya bolak-balik membacanya tapi kalau saya teruskan hingga ke-100 kali rasanya saya tak akan pernah membuat tulisan ini selesai untuk di posting di blog. Tiba-tiba saja saya ingin menuliskan ini.

Saya belum menjadi orang tua. Memang sudah menikah. Saya hanya belum hamil. Saya tidak resah karenanya karena saya punya keyakinan bahwa Allah bakal ngasih saat saya siap. Sekarang saja saya masih belum begitu becus menjadi istri. Bukan perempuan sempurna yang berada di dapur dengan celemek lucunya. Bukan orang yang punya jam biologis teratur. Tapi saya merasa saya sudah menjadi orang yang terbaik yang saya mampu.

Saya bukan anak yang pintar waktu sekolah tapi tidak juga bisa dikatakan paling jelek nilainya. Bukan anak yang dengan bangga disebut-sebut sebagai anak yang penuh prestasi oleh orang tua saya saat arisan. Untung orang tua saya bukan tipe seperti kebanyakan orang tua yang akan menuntut anak yang berprestasi. Setidaknya ada kepandaian yang bisa saya tunjukkan dan banggakan untuk mereka.

Umur 8 tahun saya sudah mulai menulis. Bertahun-tahun hanya menulis dan tak pernah ikut lomba atau mengirimkan karya ke mana pun. Jadi prestasi menulis saya waktu itu nol besar. Namun bagian yang menyenangkan dari itu semua, kedua orang tua saya membiarkan saya menulis. Mereka tidak membimbing dan tidak juga melarang.

Saya tidak dituntut menjadi anak yang selalu juara 1 atau punya nilai yang super bagus. Mereka membiarkan saya seperti apa adanya. Ya begini.

Belasan tahun kemudian saya akhirnya kuliah di Pontianak. Mulai mengikuti lomba menulis. Buat blog. Melakukan hal-hal yang seharusnya saya lakukan sejak dulu. Anak yang biasa saja itu. Anak yang berada di barisan biasa-biasa saja itu sekarang menjalani kehidupan biasa. Dengan caranya sendiri.

Tak terbayangkan jika dulu saya memiliki orang tua yang menginginkan hal-hal yang tak mampu saya lakukan. Terobsesi untuk punya anak yang hebat dengan menggunakan standar pada umumnya. Anak bukan tanaman bonsai yang harus dikerdilkan kemampuan tumbuhnya. Biarkan dia membesar sesuai kemampuannya sendiri. Suatu saat nanti ketika saya punya anak nanti. Saya tak ingin menuntutnya untuk pintar di kelas. Memberikan apa yang dia butuhkan dan senangi selama itu baik untuknya. Menambahkan hal yang positif yang paling penting buatnya.

Kepercayaan.

Bahwa saya sebagai ibunya percaya, dia akan menjadi orang yang terbaik sesuai dengan kemampuannya sendiri. Dia akan menjadi anak terkeren dengan caranya sendiri.
 

@honeylizious

Followers