27 September 2014

Berhenti Menulis Sempurna


Berapa kali kamu menekan tombol delete saat menulis sebuah postingan buat blog? Hanya gara-gara pilihan kata yang kurang cerdas arsanya atau kalimatnya aneh? Saya lebih sering menekan tombol delete untuk memperbaiki kata yang typo sebab saya jarang membaca ulang tulisan yang saya buat. Sekarang saya lebih suka membiarkannya begitu saja. Kalau ada yang ingin saya tambahkan tinggal saya ketik saja. Menghapus banyak kata atau bahkan menghilangkan satu dua halaman bukan cara saya saat menulis. Apalagi kalau untuk postingan di blog.

Saya sudah lama sekali melupakan cara menulis yang sempurna. Saya pikir biarkan saja tulisannya seperti itu. Cukup selesai saja. Sebab tulisan sempurna tak akan pernah menjadi tulisan kalau tidak diselesaikan. Kadang itulah masalah kita sebagai penulis. Kita terlalu takut dengan ketidaksempurnaan. Rasanya kita harus menulis yang bagus baru bsia dipublikasikan. Coba deh baca tulisan orang lain. Banyak kok yang menulis banyak dan menulis sebagaimana yang mereka bisa. Bukan tulisan yang akan membuat orang berdecak kagum.

Sekadar memberi manfaat sudah lebih dari cukup untuk sebuah tulisan. Tidak buat orang lain tak mengapa. Paling penting tulisan itu telah memberikan manfaat buat kita. Bermanfaat buat menuhin blog. Kalau blog berbayar jarang diisi sayang juga kan. Mubazir. Hehehe...

Dulu saya pikir tulisan yang sempurna itu tulisan yang bisa membuat orang tertawa. Menghibur banyak orang. Mendapatkan banyak fans dengan menulis di blog karena kelucuan yang kita berikan. Ternyata saya bukanlah orang yang bisa sering menulis hal yang lucu. Saya lebih mudah menjadi orang yang lucu dibanding penulis yang lucu. Toh penulis lucu di luar sana sudah banyak. Tak ada salahnya menjadi penulis yang tidak lucu bukan? Walaupun kadang ada juga tulisan saya yang bisa membuat orang lain tertawa.

Entah tulisan ini lucu atau enggak saya kurang tahu. Kayaknya sih enggak ya....

@honeylizious

Followers