27 September 2014

Abah Itu...




Saya tak begitu dekat dengan Abah. Saya jarang bercakap-cakap dengannya. Tak banyak kenangan dengannya. Tapi kalau ada kenangan bersamanya, saya pasti akan sangat mengingatnya. Saya ingat dengan jelas kalau dia tak pernah memukul saya. Dia pernah marah tapi jarang sih. Dari banyak laki-laki di dunia ini, dia adalah laki-laki yang dulu rajin menyampul buku pelajaran saya waktu sekolah. Menggunakan koran bekas yang tidak dia jadikan kliping. Semua buku akan disampulnya dengan rapi.

Dia tak banyak bicara dengan saya walaupun sebenarnya Abah itu sangat ramah dan banyak bicara dengan orang lain.

Topik pembicaraan yang dia omongin memang kadang hal yang tak saya mengerti sih, jadi akan sangat tak nyambung kalau dia mengajak saya mengobrol. Dia bukan seperti orang tua pada umumnya yang dengan bangga disebut anak perempuan dengan kalimat 'He always be there for me'. Abah itu lebih pada 'He give me chance to stand alone for myself'. Dia percaya dengan anak perempuannya merantau sendirian. Bahkan saat akan menikah. Dia tak banyak menanyakan tentang laki-laki yang meminang saya itu. Dia menerimanya. Tanpa banyak cingcong.

Abah adalah laki-laki yang selalu memotong kuku tangan dan kaki saya dengan rapi saat masih kecil sampai SMP. Dia akan menyuruh saya duduk di lantai dengan isyaratnya. Ketika mata saya menatap poetong kuku di tangan kanannya saya tahu dia bermaksud memotong semua kuku saya. Dia tak pernah mengajarkan bahwa saya harus berkuku pendek. Tapi dia memotongnya dengan sabar satu demi satu.

Dia juga tak pernah merayakan ulang tahun saya. Tapi ketika saya akan menikah. Dia adalah orang yang ada di sana menangis dan menasihati saya. Dia bukanlah ayah yang sempurna. Dia hanya seorang ayah terkeren yang bisa saya punya. Tak ada gantinya.
 

@honeylizious

Followers