7 Agustus 2014

Terima Kasih Banyak, Kak Long untuk Semua Penderitaan Ini (Bagian 1)


Ini akan menjadi tulisan panjang yang akan saya tulis menjadi banyak bagian. Tulisan yang bisa menjelaskan bagaimana saya terbentuk menjadi diri saya yang sekarang. Bagaimana akhirnya saya menjadi saya yang menuliskan ini. Duduk di depan layar komputer yang setia menemani hari-hari saya sebagai seorang istri. Setelah puluhan tahun akhirnya saya menjadi orang yang mengucapkan terima kasih banyak buat orang kakak sulung saya. Sebab dia adalah orang yang berperan sangat besar membuat saya menjadi seorang perempuan yang mandiri dan memutuskan untuk hidup sendiri di Pontianak walaupun sekarang saya sudah berdua bersama suami.

Semoga saya diberikan umur yang panjang dan sempat menceritakan kisah ini kepada anak cucu saya nanti. Sehingga mereka tak hanya menemukan kisahnya di blog ini.

Kakak sulung saya yang sejak kecil saya panggil Kak Long adalah seorang perempuan yang cerdas dan memiliki ambisi. Sayangnya dia memiliki sifat iri yang berlebihan terhadap saudaranya dan itu yang membuat jalan kehidupan kami berbeda. Sejak kecil yang ada di dalam kepala saya adalah bagaimana caranya menjadi besar secepat mungkin dan pergi dari rumah. Sebab saya tidak tahan disiksa Kak Long. Tamparan, tendangan, makian, dan dilukai menggunakan pisau adalah hari-hari yang saya lewati. Tidak hanya tubuh saya yang menjadi sasaran, barang-barang saya juga semuanya akan dirusak jika itu membuatnya iri. Ah, Kak Long, memang tak ada yang tak bisa membuatmu iri bukan?

Apabila Kak Long membaca tulisan ini, Kak Long harus tahu, saya, sudah ikhlas dengan semua penderitaan itu. Bahkan terima kasih banyak sudah membuat saya menderita sedalam itu. Setrauma itu. Selama itu. Hanya untuk menyadari bahwa Kak Long adalah cara Allah untuk menguji kesabaran dan melihat seberapa bersyukurnya saya di dalam kehidupan ini. Sekarang rasanya tak seperti dulu lagi Kak Long. Tak menyakitkan lagi. Tak membuat menderita lagi. Sudah terbebaskan dari rasa yang menusuk di dalam dada itu. Tidak sesak lagi. Karena sudah saya terima segalanya.

Tak dapat terbayangkan bagaimana rasanya disiksa sejak lahir bahkan hingga sekarang tak bisa pulang ke kampung halaman untuk bertemu dengan orang tua sendiri. Namun lebih tak terbayangkan bagaimana jadinya jika Kak Long tidak lahir di dunia ini sebagai kakak sulungku. Apa jadinya jika kita bukan saudara. Barangkali kita tidak akan menjadi diri kita yang sekarang. Kak Long tak akan mendapatkan objek untuk disiksa setiap hari dari kecil begitu juga diri ini, tak akan terlatih untuk mendapatkan sedemikian banyak penderitaan sehingga akhirnya tak ada orang yang lebih menakutkan di dunia ini selain dirimu, Kak Long.

Terima kasih telah menjadi Kak Long dalam kehidupan saya ini. Maaf saya tak bisa menyampaikannya langsung karena terakhir kita bertemu, kamu pasti ingat, lebaran tahun lalu, di depan Yayasan Kematian di Matang Suri, kamu masih berusaha melukaiku. Ingin mencekikku dan menghancurkan sepeda motor yang aku dapat dari Line Messenger. Kamu pikir Umak yang membelikan. Jangan sama kan dong saya dengan kamu yang bergantung sama orang tua.

Psikiater bilang kamu menderita Sibling Rivalry. Tapi saya pikir ada yang salah dengan cara berpikirmu. Menurut saya kamu hanya kurang banyak bersyukur. Setelah puluhan tahun bergantung pada orang tua dan mendapatkan segalanya, kamu sayangnya tak bisa memahami makna bersyukur. Padahal tak ada yang menyiksamu di dunia ini seperti diriku yang kamu siksa puluhan tahun. Seandainya bisa mengatakan semua ini secara langsung. Tanpa ada cekikan, tinjuan, atau tendangan darimu. Ingin kuberikan ucapan terima kasih ini secara langsung untukmu, Kak Long.

Terima kasih banyak untuk semua penderitaannya. Karena penderitaan itu tak membunuh saya. Menguatkan saya menjadi diri saya yang sekarang.

@honeylizious

Followers