29 Agustus 2014

Tentang Segelas Kopi



Sudah lama sekali saya meninggalkan kebiasaan minum kopi saya di kampung dulu. Dulu waktu masih tinggal dengan Uwan (nenek) tiap pagi ada jatah kopi buat saya. Saya lupa sejak kelas berapa SD cairan putih yang encer itu berganti menjadi cairan hitam pekat yang juga encer. Memang sih tidak dibikinkan kopi seperti Aki yang pekat. Cuma ya itu, kopi itu kayak minuman wajib sejak saya kecil. Sampai kuliah saya masih minum kopi tiap hari. Satu dua gelas saat di rumah.

Di Sambas, perempuan minum kopi adalah hal yang sangat lumrah. Bahkan saya minum segelas kopi yang sudah mulai mendingin seperti orang menenggak air putih saat haus. Saya lupa kapan pertama kali memulainya, saya juga lupa kapan saya akhirnya berhenti menyediakan kopi buat diri sendiri. Satu hal yang jelas, saya tak lagi minum kopi beberapa tahun terakhir. Tidak minum setiap hari. Jadi kadang-kadang masih minum kopi.

Hari ini saya minum kopi sebelum memulai bekerja. Entah mengapa rasanya saya menjadi lebih konsentrasi dan lebih produktif setelah menghabiskan segelas kopi Manggarai yang dibawakan adik saya dari NTT.

Meskipun saya minum kopi saya tidak merokok. Saya hanya merasa agak aneh aja minum kopi di tempat umum di Pontianak ini. Banyak yang memandang saya dengan tatapan yang membingungkan. Ternyata beda dengan di Sambas yang rata-rata perempuannya minum kopi hitam pekat, di kota perempuan lebih identik dengan kopi dengan krimer dan sejenisnya jadi bukan kopi hitam yang tidak disaring itu.

Bukannya kopi itu baik ya buat kesehatan? Pernah dengar sih ada orang yang kayak ketergantungan gitu sama kopi. Tak bisa menjalani hari dengan baik kalau nggak minum kopi. Saya sendiri padahal dulu peminum kopi juga tapi nggak kecanduan juga sih. Bagaimana dengan kamu?

@honeylizious

Followers