1 Juli 2014

Cerpen Juara 1 Tulis Nusantara 2013: ANAK DARE TUE

Berikut adalah cerpen yang saya tulis untuk mengikuti lomba Tulis Nusantara 2013 kategori cerpen fiksi dan meraih Juara 1

Mungkin kamu itu seperti Pulau Simping.
Tak ada yang tahu apa alasan Tuhan meletakkannya di Singkawang, Kalimantan Barat.
Padahal masih banyak tempat lain di dunia ini yang bisa Dia pilih.
Begitu juga denganmu, tak ada yang tahu apa alasan Tuhan mempertemukanmu denganku padahal di dunia ini ada milyaran manusia.
Mengapa harus aku yang bertemu denganmu?


Aku tak bisa menyalahkan hati yang jatuh cinta. Karena hati memang sepertinya diciptakan untuk merasakan rasa yang satu itu. Paling menyebalkan sebenarnya bukan jatuh cintanya. Tapi cinta yang tak kunjung berbalas. Cinta bagiku ya menikah. Terlalu kolot mungkin buat sebagian orang yang sudah berkeliling Eropa. Sepertimu. Kamu bilang cinta ya saling mencintai. Tak perlu ikatan apa pun. Aku duduk di pinggir gertak Sungai Kapuas. Menatap langit sore yang belum memerah. Namun sekarang ini bukan hanya masalah aku yang ngotot ingin menikah. Aku lelah dengan hinaan orang-orang di sekitarku. Mereka terus saja memanggilku anak dare tue. Sapaan untuk perawan tua yang tak kunjung menikah.
Jangan dengarkan...” kamu duduk di sampingku.
Kali ini aku tak membiarkan kamu meremas tanganku seperti dulu. Langit masih terlalu terang hanya untuk sekadar berpegangan tangan. Meriam karbit yang tersusun di pinggiran gertak menyaksikan wajahmu yang tetap seperti pertama kali aku mengatakan ingin menikah denganmu. Menanyakan kapan kamu akan menikahiku rasanya sudah cukup memalukan. Tetapi tetap lebih memalukan lagi panggilan orang di sekitarku. Anak dare tue.
Jadi?”
Aku mengangkat alisku. Menandakan bahwa aku butuh jawaban. Jangan biarkan aku menerima panggilan yang sama terus-menerus. Memang mereka tak menyebutkannya di depan wajahku. Tapi aku tetap bisa mendengar mereka menyebutku demikian. Anak dare tue.
Maumu?”
Seseorang melintas di depan kami dengan perahunya yang ramping. Perahu yang digunakan orang untuk menyeberang. Tak lagi menarik minatku. Aku hanya ingin duduk di sini dan mendengar jawaban darimu.
Bagaimana?”
Rasanya aku bisa mendengar orang yang mengayuh perahu itu memanggilku dengan panggilan anak dare tue. Kamu menggenggam tanganmu sendiri. Mudah memang bagimu untuk tidak menikah dan meneruskan hidupmu seperti yang kamu inginkan. Kamu bukan perempuan. Perempuan Melayu sepertiku. Bukan hal yang mudah bagiku untuk terus berada dalam hubungan yang tak ada status resmi seperti ini. Bukan hanya orang-orang yang memanggilku dengan sebutan anak dare tue. Sekarang kadang-kadang orang tuaku sendiri pun keceplosan memanggilku demikian.
Aku tak keberatan disebut Bujang Lapok.” Kamu mengatakannya dengan mimik yang lucu.
Aku tahu kamu berusaha menghiburku yang menatap ke arah Sungai Kapuas. Tenang aku tak akan terjun hanya karena panggilan seperti itu. Aku hanya merasa harga diriku diinjak-injak oleh banyak orang dengan dipanggil anak dare tue. Mereka seakan-akan mengatakan kalau diriku tak laku. Tak ada yang mau menjadikanku istri. Bukankah cinta harus saling memiliki? Saling melengkapi di dalam pernikahan? Bukankah kita harus menikah?
Terus?”
Terus...”
Kita diam lagi. Aku sendiri berusaha menahan emosi yang membuncah di dalam dadaku. Sebab aku marah hanya akan membuat puasaku tak bernilai lagi. Bulan Ramadhan hampir berakhir dan itu berarti lebaran Idul Fitri semakin dekat. Akan semakin dekat pula dengan lebaran Idul Adha. Kamu sendiri pasti tahu benar orang banyak yang melangsungkan pernikahan saat lebaran Idul Adha. Lebaran Haji. Aku berharap tahun ini akulah yang menjadi pengantin dan melepas masa lajangnya.
Anak dare tue?
Aku lelah.”
Lantas bagaimana?”
Aku belum siap menikah.”
Bagaimana denganku?”
Aku lebih tak siap lagi menikah dengan perempuan yang hanya ingin menghilangkan status anak dare tue dari dirinya.”
Kamu mencintaiku?”
Cinta.”
Menikahlah denganku.”
Tak semudah itu, kamu perempuan, menikah bukan hal yang rumit buat kalian.”
Berarti kamu siap kehilanganku?”
Bukan itu juga sih.”
Jawabanmu mengambang. Seperti sampah yang terus memenuhi Sungai Kapuas. Mengambang tanpa arah yang pasti. Karena mereka jatuh di tempat yang salah. Awan-awan membeku di langit. Sepertinya akan turun hujan. Tapi kita tak bergerak dari sini. Aku masih butuh jawaban yang pasti. Bukan meminta penangguhan waktu atau siap menunggu kepastian yang lainnya.
Jangan minta waktu.”
Jadi?”
Jadi...”
Tak menemukan titik temu. Tapi mengapa kita saling jatuh cinta. Mengapa kamu menemukanku di sana. Di acara Gawai Dayak di rumah adat dayak, Rumah Betang, dua tahun lalu. Kita bertabrakan begitu saja. Sama-sama membuat cincin dengan nama masing-masing. Lalu cincin yang sudah aku bayar tertukar dengan cincin yang dia pegang. Sekarang cincin yang tertukar itu menggantung di leherku. Terikat di rantai kalung yang aku kenakan.
Aku cinta kamu.”
Aku tahu itu.”
Apa kamu benar-benar mencintaiku?”
Kalau beranggapan cinta harus diikat dalam pernikahan aku bingung menjawabnya.”
Persepsi kita memang berbeda, itu yang tak hatiku sadari sejak pertama. Bahwa bagiku dicintai sama saja dengan dinikahi. Apakah aku memang akan menikah denganmu karena aku benar-benar mencintaimu atau hanya karena ingin melepas status anak dare tue yang selama beberapa tahun ini melekat padaku? Aku sendiri tak menemukan jawabannya.
Kenapa kamu mau menjadi kekasihku tapi tak mau menikah denganku?”
Entahlah.”
Entahlah?”
Sungai Kapuas yang tenang membuatku menarik napas panjang. Ada rasa geram pada diri sendiri. Seharusnya aku tak jatuh cinta padanya. Ada yang keliru dengan hubungan ini. Hubungan yang bertahun-tahun berlayar tanpa tujuan yang pasti. Nakhodanya tak menemukan pelabuhan yang tepat dan kapalnya sudah terlalu lama berlayar.
Setiap orang hadir dalam kehidupan kita bukan tanpa alasan. Terkadang alasannya yang berbeda dengan yang kita kira.”
Aku mendengarkan ucapanmu. Mencoba melupakan sejenak panggilan tak menyenangkan yang selama ini aku dengar sebagai gelarku. Rasanya tatapan orang yang mengenalku pun memberikan tatapan yang sama. Tatapan yang diarahkan pada perempuan yang sepantasnya dipanggil anak dare tue. Aku tak ingin terus berada di posisi yang sama. Sudah dua tahun hubungan ini kita jalani. Bukankah orang berpacaran untuk kemudian menikah. Lalu punya anak. Lama-lama diberikan cucu.
Ada orang yang hadir dalam hidup kita untuk lewat begitu saja. Ada pula yang hadir sebagai orang yang meninggalkan kenangan yang mendalam. Kemudian tak jarang ada yang datang dan tinggal untuk selamanya dalam kehidupan kita. Seperti orang tua kita. mereka hadir dalam kehidupan kita untuk menjadi orang tua kita.”
Aku tercenung memikirkan maksud dari kalimat yang kamu ungkapkan. Akan ke mana arahnya?
Kamu?”
Aku?”
Iya kamu, kamu datang sebagai orang yang mana?”
Seharusnya kamu lebih tahu itu.”
Kadang perempuan memang tahu, tapi mereka lebih suka mendengarkan penjelasannya secara langsung.”
Kamu menarik napas panjang. Kalau bisa aku bertukar posisi denganmu. Untuk memperjelas tidak enaknya dipanggil anak dare tue. Kamu akan mengerti bagaimana rasanya. Ingin kutunjukkan bagian yang terluka karena dipanggil seperti itu. Bahkan oleh orang tuaku sendiri. Seenaknya memang mereka membuat panggilan yang membuat kupingku panas. Setiap kali bertemu keluarga pertanyaan yang paling tak menyenangkan hadir untuk menyidangku. Seakan-akan ada yang salah dengan apa yang aku jalani sekarang. Belum menikah? Jawabanku tentu saja belum. Apa ada yang keliru tentang itu? Aku tidak mengatakan tak akan menikah. Tentu saja aku ingin menikah. Punya keluarga dan punya anak yang lucu-lucu. Siapa yang tak ingin seperti itu?
Aku tak ingin menjawabnya.”
Kemudian aku menutup mulutku sendiri mendengar ucapanmu. Kamu tak ingin memperjelas semuanya? Tak ingin mengatakan bahwa hubungan kita akan segera berakhir karena kamu tak siap menikah denganku dan aku sendiri terus mendesakmu. Aku lelah. Hanya lelah. Kalau bisa aku ingin kembali ke masa lalu dan menemukan seseorang yang lain. Sebelum mendapatkan panggilan anak dare tue yang menyebalkan itu.
Jadi?”
Jadi...”
Kita kebingungan. Aku tahu. Pernikahan bukan hal yang sesederhana mengucapkan akad nikah dan semuanya selesai. Ini masalah menentukan masa depan, masa tua, dan kebahagiaan kita. Kita tentu tak ingin salah pilih.
Jadikah?”
Jadikan saja...”
Aku menggenggam cincin yang menjadi mata kalungku. Kemudian bangkit meninggalkanmu yang masih duduk di pinggiran gertak. Jembatan kayu belian yang menjadi jalan bagi orang-orang sekitar sini. Aku melangkahkan kakiku dan tak ingin menoleh ke belakang. Aku takut saat melihat ke belakang aku tak menemukanmu lagi. Karena kamu lebih yakin untuk pergi. Tapi aku juga jauh lebih takut lagi saat menoleh ke belakang dan melihatmu menatapku pergi dengan wajah yang sendu. Aku pasti tak sanggup meninggalkanmu.
Awan-awan di langit terlihat sedikit merah. Tapi aku yakin mataku jauh lebih merah dibandingkan langit sore yang sekarang kamu tatap dengan mata elangmu. Kamu tak mengejarku. Aku juga tak ingin memanggilmu dan memintamu untuk menahan langkahku yang semakin menjauh. Bukankah kamu selalu bilang padaku bahwa semua yang sudah lewat tak perlu disesali. Jadi seharusnya aku juga tak perlu menyesali pernah jatuh hati padamu.
Sungai Kapuas terlihat sendu. Air mataku tak kunjung berhenti mengalir. Mungkin kamu benar mengenai satu hal. Bahwa aku tak perlu peduli dengan omongan orang yang menyebutku sebagai anak dare tue. Ada awal pasti ada akhir. Tetapi buatku yang namanya saling mencintai harus saling memiliki. Kita akan saling memiliki jika sudah menikah.
Beberapa anak melewatiku sambil menyebutkan panggilan yang sangat tidak aku inginkan.
Anak dare tue!
Bibirku bergetar ingin memaki mereka kembali. Tapi lidahku kelu.
Jadi?”
Tiba-tiba kamu sudah berada di sebelahku. Kali ini aku tak merasakan genggaman tanganmu. Sebab kamu memasukkannya ke saku celanamu. Aku sendiri menyimpan tanganku di dada. Menutup lubang yang tiba-tiba menganga di dalam hatiku sendiri.
Aku tak tahu.”
Aku juga.”
Kamu mendesah perlahan. Aku hanya bisa menarik napas panjang.
Kalau aku yang memanggilmu anak dare tue?”
Kamu menghapus air mata yang terus jatuh di pipiku.
Menikahlah denganku.”
Untuk kesekian kalinya aku yang lebih dulu meminta.
Untuk?”
Aku tak kuasa lagi menjawab pertanyaan apa-apa. Hanya bisa mengangkat bahuku. Sebab aku tahu jawaban apa pun tak akan membuatmu luluh.
Anak dare tue.
Kamu menyebut panggilan itu dengan suara pelan. Lalu tersenyum. Membuatku ikut tersenyum. Tak kuasa menahan tawa pada akhirnya.
Terasa lucu memang jika yang menyebutnya adalah orang yang kamu sayang.”
Siapa bilang aku sayang sama laki-laki sepertimu?”
Kalau tidak kamu tak akan memaksa untuk menikah denganku.”
Jadi apa jawabanmu?”
Kamu hanya tersenyum setelah tanganmu menemukan tanganku. Menggenggamnya erat. Seerat saat aku mengatakan aku juga mencintaimu.


 

@honeylizious

Followers