Langsung ke konten utama

Saya Tarik Jempolnya Kembali Deh!

Dari banyak hal ajaib di dunia sosial media. Satu di antaranya yang cukup ajaib adalah kejadian di facebook. Gara-garanya saya membagikan resep tapi karena resep tersebut tidak ada fotonya, saya gunakan foto orang lain. Kemudian ada yang meninggalkan komentar 'maaf ya mbak saya tarik lagi jempolnya karena gambarnya bukan milik mbak Hani'. Kira-kira seperti itulah bunyi komentarnya. Sudah beberapa hari yang lalu sih. Saya tak seberapa ingat bagaimana bunyi persisnya. Padahal mau ada yang like atau enggak postingan saya di grup masak tersebut, saya mah biasa aja. Mau ada yang komen atau enggak juga nggak apa-apa. Namanya juga kita berbagi dengan banyak orang. Dapat komentar alhamdulillah, nggak dapat komentar juga nggak apa-apa.

Cuma ya aneh aja menurut saya ada yang berpikir sedemikian berharganya 'like' atau komen di postingan kita. Kalo memang postingan dagangan, okelah, memang kita membutuhkan banyak orang yang membagikan postingan kita, setidaknya membaca 'iklan' yang kita tuliskan di sana, dari banyak yang like dan komen tentunya kelihatan jelas banyak yang membacanya. Ternyata memang banyak lo yang beranggapan komen, like, dan share itu penting. Bahkan ada yang menghapus postingannya gara-gara postingannya dibagikan atau dishare tanpa permisi.

Memang sih ya beberapa waktu yang lalu banyak yang share resep yang saya posting di grup tersebut dan setiap ada yang mau share meninggalkan komen 'izin share ya mbak'. Padahal yang namanya kita sudah posting di sosial media, mau itu facebook, twitter, blog, dan sosial media yang lain, tombol share itu tak terbendung. Ada tautan yang bisa dicopy orang dan dibagikan ke mana saja. Itu sudah konsekuensinya.

Bahkan dicopas orang dan dipajang di blognya juga sudah risiko yang harus kita hadapi karena kita posting di tempat umum seperti ini. Kalau copas dan mengaku-ngaku itu miliknya barangkali dapatlah kita kecewa dengan orang tersebut tapi kalo cuma sekadar share postingan kita dan itupun benar-benar postingan kita yang dibagikan kayaknya, menurut saya pribadi, nggak usah izin juga nggak masalah. Toh saya nulis di blog nggak tahu siapa saja yang membagikan tautan blog saya.

Lucu aja kalo nanti di twitter ada yang ngetwit dan harus izin dulu baru boleh ngeretweet twitnya. Di twitter sih kayaknya orang malah seneng twitnya di retweet orang. Cuma di facebook saya baru pernah menemukan orang yang menghapus postingannya gara-gara dishare tanpa izin. Padahal kan pemilik postingan dapat notifikasi. Ajaib kan?


Bukankah sebenarnya kita menulis postingan di sosial media berharap orang lain mendapatkan manfaat dari apa yang kita tulis tersebut? Atau kita lebih peduli like dan komentar orang lain? Nggak komen atau like nggak boleh share? Hak masing-masing sih, tapi kalo emang nggak mau tulisannya kesebar ke mana-mana, jangan pernah nulis sayang.

Postingan populer dari blog ini

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan