1 Mei 2014

Mengungkit Pembunuhan: Sebuah Review


Novel Agatha Christie memang selalu menjadi favorit saya. Tak perlu ada cover yang menarik atau judul yang membuat penasaran. Saya selalu ingin menghabiskan semua buku yang dia tulis. Kepiawaiannya menulis kisah detektif memang patut diacungi jempol. Tokoh Hercule Poirot memang sangat fenomenal di hati saya. Apalagi saya juga ingin mengucapkan banyak sekali terima kasih pada orang yang telah bersusah payah menerjemahkan novel Agatha Christie dengan bahasa yang sangat mudah dipahami. Berbeda dengan beberapa novel terjemahan lain yang kadang saya bingung maksud kalimatnya apa. Entah karena penulis aslinya atau penerjemahnya yang menggunakan bahasa yang terlalu rumit.

Novel 'Mengungkit Pembunuhan' ini sudah beberapa kali saya baca sebenarnya. Tapi tetap saja saya suka sekali mengulang membacanya. Menikmati bagaimana saya bisa lupa dengan pelaku pembunuhan di dalam novel tersebut, seakan-akan saya belum pernah membacanya sebelumnya. Jadi saya mengira-ngira kembali dari awal siapa orang yang membunuh orang yang ada di dalam novel tersebut.

Di novel 'Mengungkit Pembunuhan' ini diawali dengan seorang perempuan yang ingin mengetahui kenyataan yang sebenarnya mengenai pembunuhan ayahnya atau apakah ayahnya sebenarnya bunuh diri. Meskipun sudah bertahun-tahun berlalu, vonis pengadilan memutuskan ibunya yang bersalah karena telah meracuni ayahnya. Tetapi kenyataan kasus tersebut sebenarnya tak sesederhana itu. Sebab Hercule Poirot memecahkannya kembali setelah belasan tahun berlalu demi seorang anak perempuan yang mendapati ibunya pernah meninggalkan selembar surat padanya yang menyatakan bahwa 'ibunya tidak bersalah'. Ibunya tak pernah menghabisi nyawa ayahnya.

Di novel ini kita akan diajak untuk menyelami sebuah kasus dari sisi psikologis. Akan berbeda dengan beberapa novel detektif yang banyak menghadirkan bukti otentik untuk mengungkap sebuah kasus. Di 'Mengungkit Pembunuhan' penulis menghadirkan beragam tokoh dengan sifatnya masing-masing. Agatha Christie cerdas sekali menggambarkan setiap tokoh sehingga rasanya orangnya benar-benar ada dengan penokohan seperti yang tertulis di dalam novel tersebut.

Seperti banyak novel Agatha Christie lainnya, saya jarang sekali bisa menebak siapa pelaku sebenarnya walaupun sudah membaca 75% dari novel tersebut. Paling sebelum benar-benar berakhir saya baru bisa menyimpulkan siapa pelaku sebenarnya. Tak jarang pula saya membuat kesimpulan yang keliru mengenai pelaku dan bagaimana sebuah kasus bisa terjadi.

Itu yang membuat saya senang sekali menghabiskan waktu untuk membaca novel tipisnya Agatha Christie. Meskipun tipis saya biasanya agak lama menyelesaikan membacanya. Dua atau tiga hari. Saya menikmati penasaran saya mengenai pelaku tersebut sebelum benar-benar 'menangkapnya' di halaman atau bab terakhir novel tersebut.

Di sini ada juga yang suka Hercule Poirot? 

@honeylizious

Followers