Langsung ke konten utama

Cinta (Monyet) Pertama


Jaman SD nih. Rumahnya deket sama rumah Uwan (nenek) di kampung. Semoga dia tak membaca tulisan ini. Soalnya kan cinta itu sudah kadaluarsa. Sekarang saya mah cintanya sama suami saya aja. Hihihi...

Mengingat belasan tahun lalu itu menghangatkan hati sendiri. Mengingat betapa norak dan absurdnya saya. Apakah ada di antara teman-teman yang jaman SD-nya suka sama seorang cowok di kelas dan memandangnya, curi-curi pandang padanya tuh sudah senang sekali. Wih jangan-jangan semua guru sekolah dasar saya dulu tahu ya saya selalu memperhatikan satu murid laki-laki itu. *tepok jidat

Malu-maluin banget deh! Bagian bodohnya lagi adalah sampai SMA saya masih suka sama dia. Walaupun ada beberapa orang lain yang saya perhatikan juga waktu SMA. Tapi tetep ya cinta (monyet) pertama itu dalem. Sedalem sumur tempat kambing yang masuk berita itu jatoh. Bisa kehabisan oksigen dibuatnya. Sekarang kalau main ke rumah Uwan suka juga kepikiran, bukan pengen ketemu sih, suka ingat masa lalu. Saat saya masih semangat ngantar kue bukaan buat bulan puasa. Mandi sewangi mungkin. Sisir serapi mungkin. Rapi jali pokoknya. Bela-belain pake make up sore-sore buat dia.

Pasti wajah saya ajaib banget waktu itu. Make up murahan nemu di rumah Uwan. Pake lipstik dan blush onnya lagi. Hedeh mana kulit saya item banget waktu kecil. Entah apa penampakan yang diliat orang. Bagian lebih ajaibnya, saya nggak malu tampil dengan muka kayak gitu. Hahahaha...

Cinta (monyet) emang gila. Sekarang sih dia belum menikah. Kerja di sebuah bank swasta dan membuat saya tak begitu tertarik lagi. Soalnya saya pengennya dapat suami pedagang bukan orang yang kerja di balik meja, pergi pagi pulang sore. Pengen punya suami yang punya banyak waktu luang buat istri dan anak-anaknya.


Untungnya saya aja yang dulu naksir dia. Dia mah enggak kayaknya ya? Dia tahu nggak sih saya pernah naksir dia? Ah nggak mungkin ditanyain sama dia juga sih.

Postingan populer dari blog ini

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan