23 Mei 2014

A Room I Called Home


Home sweet home. Mensyukuri semua hal yang ada dalam kehidupan kita itu memang sangat penting supaya kita lebih bahagia. Melupakan hal-hal yang akan mengganggu kebahagiaan tersebut juga tak kalah pentingnya. Tak banyak yang tahu saya memiliki seorang kakak sulung yang menderita Siblings Rivalry akut. Tidak hanya saudara-saudara saya dan saya sendiri yang mendapatkan dampak negatifnya, kedua orang tua saya juga kebagian rasa iri dan dengki dalam dirinya yang tak kunjung habis. Memang saya tak bisa menyalahkan kakak sulung saya atas semua sikapnya selama ini terhadap semua orang. Semua itu bisa menjadi semakin parah karena pembiaran yang dilakukan selama puluhan tahun. Harusnya dia dirawat di psikiater sejak awal. Sejak gejala pertama muncul 30 tahun lalu. Saat usianya masih kurang dari 1 tahun.

Pembiaran yang berlangsung puluhan tahun membuat dia merasa kejiwaan yang terjadi pada dirinya sendiri itu bukan masalah besar. Bahkan 'normal' menurut pandangan dirinya sendiri. Menyiksa banyak orang di sekitarnya secara psikologis bahkan fisik, saya masih punya satu bekasnya yang tak kunjung hilang sampai sekarang.

Puncak dari semua iri dan dengki yang baginya 'benar' itu membuat saya hilang kesabaran. Saya muak dan capek. Akhirnya saya menyerah mengalah padanya. Terjadilah keributan besar yang berdampak pada semua barang milik saya yang dibelikan ibu saya direbut. Walaupun sekarang Allah mengganti laptop dan sepeda motor tersebut dengan yang lebih baik. Syarat saya waktu itu hanya satu. Dia tidak boleh lagi mengganggu hidup saya jika sudah mengambil semua hal tersebut.

Pertengkaran hebat tersebut membuat saya takut untuk kembali ke rumah kost yang saya tempati sebelumnya. Bahkan saya tak berani masuk ke kost lain sendirian. Saya takut dia akan kembali dan melakukan tindakan yang lebih menakutkan. Membunuh saya. Untungnya, orang-orang di Radio Volare, atasan saya sekeluarga, mau menerima saya di ruangan bawah studio. Di kantor memang jauh lebih aman. Banyak orang dan banyak CCTV. Dia tak mungkin bisa menembus semua itu tanpa ketahuan orang kantor. Saya menerima tawaran dari Bang Jaka dengan senang hati. Selain itu saya bisa menghemat banyak uang dengan tinggal di sana. Air dan listrik gratis. Kamarnya juga gratis. Saya tak peduli ukuran dan keadaannya seperti apa. Selama saya bisa tidur dengan tenang bukan masalah besar buat saya.

Kamar itu, kamar yang sekarang sudah saya tinggalkan dan pindah ke rumah yang suami saya tempati, pernah menjadi 'home sweet home' saya lebih dari setahun. Rumah bagi saya adalah tempat saya bisa berlindung, baik secara fisik maupun jiwa. Mengistirahatkan tubuh dan perasaan yang letih. Saya bersyukur tahun 2010 lalu memutuskan untuk menjadi penyiar di Radio Volare. Di sanalah saya menemukan tempat bernaung yang sangat bersejarah dalam hidup saya. Saat saya sendirian. Bahkan memiliki orang tua dan rasanya yatim piatu, saya menemukan lilin yang menyala dalam kegelapan.


Di kamar itulah saya menulis ribuan postingan buat blog ini. Di kamar itu saya menangis dan tertawa sendirian. Rumahku, kamarku, surgaku.

@honeylizious

Followers