25 April 2014

Pedophilia oh Pedophilia


Sudah menonton televisi hari ini? Ah rasanya tak habis-habis berita mengenai predator ini yang memangsa anak kecil secara seks. Bahkan tak hanya dalam bentuk foto atau video yang banyak terjadi, banyak juga yang memangsa secara langsung. Sehingga meninggalkan 'bekas' yang tak mungkin hilang pada diri anak kecil itu. Barangkali saya satu dari sekian banyak anak di dunia ini yang beruntung tidak menjadi korban para pedophilia ini. Sebab saya yakin dunia anak-anak yang menjadi korban ini tak akan lagi sama seperti sebelum dia menjadi korban kekerasan seksual. Cara dia melihatnya akan sangat berubah dan itu akan sangat menyakitkan tak hanya bagi dirinya. Orang di sekitarnya juga akan mendapatkan dampaknya.

Dulu saya pikir saya hanya akan melihat topik atau isu pedophilia ini hanya di televisi, di Metro TV yang waktu itu masih menayangkan acara Oprah. Tak akan terjadi di Indonesia. Ternyata otak saya terlalu sederhana berpikir bahwa orang Indonesia tak akan mengalami kelainan seksual seperti yang terjadi di Amerika atau Eropa sana. Saya sangat keliru. Sebab di sini pun banyak anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual.

Baiklah jika kita lihat dari sisi pelakunya, mereka bisa jadi hanya berpikir sedang menyalurkan hasratnya. Tanpa pernah memikirkan dampak besar yang akan terjadi setahun ke depan, sepuluh tahun ke depan, bahkan seumur hidup anak yang dia jadikan objek kekerasan seksual tersebut.

Pedophilia.

Barangkali kita akan lebih memaafkan orang yang masturbasi. Orang yang menggunakan imajinasinya sendiri untuk menyelesaikan hasrat tersebut. Apa pun orientasi seksualnya. Sebab jika sudah ada objek itu akan menjadi masalah, apalagi jika ini berkaitan dengan anak kecil. Betapa hancurnya hati keluarganya. Hati anak itu suatu hari nanti. Walaupun saya yakin, akan banyak sekali korban pedophilia yang mampu berdiri tegak dan mendongakkan kepalanya sambil mengatakan 'aku baik-baik saja setelah semuanya berlalu'. Namun sayangnya hidup tak sesederhana itu. Di dalam tubuh manusia ada darah menggumpal yang disebut hati. Hati kita tak akan membuat segalanya sedemikian mudah untuk dihadapi.

Saya memang bukan korban pedophilia. Sekarang saya sudah terlalu dewasa untuk dijadikan objek juga oleh mereka. Tapi saya korban kekerasan yang lain. Ada seseorang yang membuat saya trauma dengan kehidupan saya sendiri. Rasanya kehidupan ini bertahun-tahun penuh dengan darah dan air mata. Walaupun sekarang saya bisa berdiri tegak dan mengatakan 'ternyata saya baik-baik saja, saya masih hidup'. Namun saat melihat ke tahun-tahun belakang, memeras perasaan sendiri, saya butuh waktu yang sangat panjang untuk akhirnya bersyukur pernah menjadi objek kekerasan tersebut. Bukan berarti saya mengajak orang yang menjadi korban kekerasan pedophilia untuk mensyukuri hal tersebut. Lebih tepatnya mensyukuri apa yang akhirnya kita dapatkan setelah melewati proses menjadi objek kekerasan seseorang.

Saya yakin, akan selalu ada hikmahnya. Memang menyakitkan. Sangat menyebalkan menjadi korban. Saya juga tak pernah suka menjadi korban kekerasan di dalam keluarga. Sekarang saya bersyukur telah melewati bagian paling berat dalam kehidupan saya dan melangkahkan kaki untuk melanjutkannya. Sebab tanpa kejadian bertahun-tahun tersebut yang penuh teror itu saya tidak akan pernah menjadi diri saya yang sekarang.


Saya tak akan menuliskan tulisan ini tanpa meneteskan air mata lagi, sebab rasanya air mata saya sudah kering untuk menangisi perlakuan satu orang yang bisa saya sebut sebagai orang yang paling jahat yang saya kenal di dunia ini sejak lahir ke dunia. Saya akan menceritakannya. Tenang saja. Tunggu di postingan berikutnya.

@honeylizious

Followers