1 April 2014

Mei Hwa: Sebuah Review



Kesan pertama dari buku ini adalah bahasanya yang cukup berat buat saya. Memang saya tidak terbiasa membaca novel dengan bahasa yang 'berat'. Saya lebih terbiasa membaca buku terjemahan atau buku yang bahasanya lebih ringan. Tetapi saya tetap menyelesaikan buku ini hingga halaman terakhir. Butuh waktu dua hari untuk menyelesaikannya padahal novelnya tak begitu tebal. Penyebabnya pertama karena bahasanya yang kurang familiar dalam perbendaharaan saya dan cara penulis menyampaikan ceritanya yang lebih tepatnya merupakan potongan mozaik yang sangat kecil dari sebuah cerita yang utuh.

Sehingga saya harus menyelesaikan 48 halaman untuk benar-benar 'nyambung' dengan cerita yang ada di dalam novel ini. Tak jarang saya harus membalik beberapa halaman ke belakang untuk mengingat potongan cerita yang lain yang berkaitan dengan cerita lanjutannya. Benar-benar novel yang membuat saya memeras otak sedemikian kerasnya. Meskipun demikian saya menikmati sekali membaca cerita di dalamnya setelah menyelesaikan bagian akhirnya.

Novel ini merupakan tantangan yang sangat besar buat saya sebab saya dihadapkan pada dua pilihan, menyelesaikannya dengan napas tersengal (baiklah ini sedikit berlebihan) atau menutupnya saja di 10 halaman pertama. Sebab saya kesulitan memahami konflik apa sebenarnya yang merupakan konflik utama yang ada di dalam novel ini. Ternyata saya lebih suka dengan pilihan pertama sebab sayang juga sudah dibeli tak diselesaikan untuk dibaca.

Pilihan tersebut membuat rasa penasaran saya mengenai cerita yang ada di dalam novel ini melunasinya. Akhirnya saya membacanya sampai kalimat terakhir dan bisa melihat mozaik semua cerita ini dengan utuh. Bukan lagi potongan kecil yang membingungkan dan tak tahu harus disimpan di bagian mana.

Overall, ini ceritanya bagus. Saya jadi tahu banyak hal tentang sejarah. Dapat mengetahui pula bagaimana pandangan orang dari banyak sisi. Bahkan nama sendiri punya filosofi yang sangat dalam. Awalnya saya pikir ini hanya sebuah novel cinta jika melihat dari covernya. Novel cinta beda etnis apabila saya lihat dari judulnya. Ternyata tak sesederhana sebuah cover novel cerita di dalamnya. Itulah kadang yang membuat saya kecewa dengan pembuat cover novel. Mereka tak mampu melukiskan 'pintu' cerita dengan baik. Sehingga penilaian awal seorang pembaca menjadi sangat samar mengenai cerita yang ada di dalam sebuah novel.

Novel ini akan sangat cocok untuk pembaca yang suka membaca cerita dengan pelan. Bukan pembaca yang ingin tahu dengan cepat apa konfliknya di dalam sebuah cerita dan bisa dipertahankan minat bacanya dengan konflik tersebut. Ini bukan novel dengan jalan cerita sederhana yang biasa. Jadi siap-siap kening berkerut membaca kalimat demi kalimat di dalamnya.

Mei Hwa
Oleh Afifah Afra

@honeylizious

Followers