14 Maret 2014

When He Say 'Yes'


Ada beberapa hal di dunia ini yang saya inginkan dan tak ada tawar menawar untuk mengatakan tidak. Saya harus menerima kata 'ya'. Ini yang memang kadang menyebalkan. Minta izin mengenai sesuatu tapi jawabannya harus 'iya'. Walaupun sebenarnya saya bukanlah orang yang pembangkang. Cuma suka memaksa jika saya pikir hal yang saya inginkan tersebut bisa dicapai atau dilakukan tentu saja hal yang baik. Seperti saat saya mengatakan saya akan melanjutkan kuliah ke Akademi Bahasa Asing.

Tapi tak selamanya kaya 'iya' akan keluar begitu saja dari bibirnya. Banyak hal yang belum kami pahami antara diri masing-masing. Ada hal yang kadang berbeda dari yang kami pikirkan. Dua orang dengan dua kepala tentu saja memiliki perspektif yang tak sama. Punya jalan pikirannya masing-masing dan kadang ada jalan pikiran lama yang masih kita pegang hingga sekarang.

Impian kuliah di ABA adalah hal yang sudah lama saya simpan. Impian yang sejak SMA saya idam-idamkan. Karena saya suka mempelajari Bahasa Inggris. Walaupun sebenarnya harus saya akui bahasa Inggris saya masih kacau. Tes masuk universitas negeri dulunya pun saya malah lolos ke Bahasa Indonesia yang notabenenya adalah pilihan kedua. Tak mengapa. Itu artinya saya harus belajar Bahasa Indonesia lebih banyak lagi. Pikir saya demikian dan masuk ABA saya endapkan dulu.

Maunya sih langsung masuk ABA dulunya. Tapi karena mahal biayanya dan ibu saya bukanlah pengusaha. Hanya seorang guru, PNS di sebuah sekolah dasar, uang gajinya hanya cukup buat menghidupi keluarga dan mengirim uang bulanan beberapa ratus ribu untuk saya. Sisanya kalau kurang? Cari sendiri. Jangankan mau kuliah di ABA waktu itu. Masuk Universitas Tanjungpura pun saya harus sangat berhemat dan pintar mencari sampingan.

Mengetik tugas teman dengan mesin ketik Pak RT dengan biaya Rp1.500/lembar adalah usaha yang saya jalani hampir satu tahun. Kemudian saya mulai belajar mengetik menggunakan komputer hingga akhirnya saya memiliki sebuah laptop + printer dan warung kos di kamar. Cukup untuk melanjutkan hidup sehari-hari.


Sekarang saya sudah punya penghasilan sendiri. Suami juga menafkahi saya. Ini adalah waktu yang paling tepat untuk mewujudkan impian saya kuliah di ABA. Hancur hati saat melihat tatapan penolakan dari suami. Namun kemudian beberapa jam berlalu dia akhirnya mengiyakan dengan tatapan menerima keinginan istrinya. Alhamdulillah. Tak ada yang lebih menyenangkan mendengar dia mengatakan 'iya'.

@honeylizious

Followers