Langsung ke konten utama

Sosial Media Bukan Toko 24 Jam


Saya tak tahu apakah semua orang memiliki kecanduan yang sama dengan banyak orang lainnya terhadap sosial medianya. Tapi yang jelas, saya sendiri mengalami fase-fase yang cukup unik saat menggunakan sosial media. Tahun 2008, pertama kali saya membuat akun di facebook. Setelah seorang kawan SMA mengabarkan tentang facebook di friendsternya. Apalagi waktu itu sudah banyak yang mendengar bahwa friendster akan ditutup. Walaupun pada akhirnya friendster masih ada, tetapi dengan nuansa yang berbeda. Diambil alih negara lain dan digunakan dengan cara yang lain pula.

Saya pun membuat akun di facebook dan cukup kebingungan. Mau ngapain di situ. Update status itu apa. Semuanya asing. Sangat asing. Apalagi orang-orang di dalamnya juga tak banyak yang saya kenal. Beberapa bulan kemudian mulai ikut-ikutan orang untuk berdagang di facebook. Pas pertama kali dagangannya laku itu rasanya 'waw' sekali. Artinya ini bukan hanya sekadar untuk pamer status atau pajang foto. Bisa juga buka lapak, pikir saya waktu itu. Namun sebenarnya melalui tulisan ini saya ingin menunjukkan kecanduan saya dulu pada facebook.

Saking kecanduannya, ada yang salah kalau satu jam tak buka facebook. Padahal waktu itu saya menggunakan nokia symbian untuk membuka sosial media. Cukup lama saya menggunakan nokia symbian tersebut. Sampai tahun 2012 seingat saya. Waktu saya akhirnya mendapatkan android pertama saya. Selama beberapa waktu, masih awal-awal menggunakan facebook rasanya ada yang komen dan mesti dibalas di facebook. Atau takut ketinggalan status teman-teman yang berbagi di sosial medianya. Entah saya saja yang merasa demikian beberapa tahun yang lalu atau teman-teman juga begitu?

Sampai akhirnya sekarang saya menyadari bahwa sosial media bukan toserba yang buka 24 jam. Tak setiap waktu kita harus membalas komentar orang lain atau memberikan komentar pada status tertentu. Sosial media sekarang saya gunakan sekadarnya. Tidak hanya facebook, twitter pun tak kecanduan lagi. Kadang hanya berbagi link blog di twitter dan facebook sudah cukup. Saking malasnya mau berlama-lama di sosial media saya hanya membalas komentar orang di status atau kiriman saya dengan memberikan jempol saja di komentar tersebut.

Padahal di android notifikasi langsung terdengar dalam hitungan detik saat akan yang mengirimkan sesuatu di akun sosial media saya. Tak selamanya juga sih kita bisa berkutat dengan hal-hal tersebut. Sekarang sosial media hanya media pelengkap bagi 'kehidupan maya' saya tapi tetap tak akan bisa menggantikan kehidupan saya yang sebenarnya di dunia nyata.


Dunia nyata akan selalu lebih indah. Percayalah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana.
Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai.
Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukannya akan disebut …

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha...


Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrsatu ya! 1. …

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan. 
Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya.
Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Termas…