18 Maret 2014

Sosial Media Bukan Toko 24 Jam


Saya tak tahu apakah semua orang memiliki kecanduan yang sama dengan banyak orang lainnya terhadap sosial medianya. Tapi yang jelas, saya sendiri mengalami fase-fase yang cukup unik saat menggunakan sosial media. Tahun 2008, pertama kali saya membuat akun di facebook. Setelah seorang kawan SMA mengabarkan tentang facebook di friendsternya. Apalagi waktu itu sudah banyak yang mendengar bahwa friendster akan ditutup. Walaupun pada akhirnya friendster masih ada, tetapi dengan nuansa yang berbeda. Diambil alih negara lain dan digunakan dengan cara yang lain pula.

Saya pun membuat akun di facebook dan cukup kebingungan. Mau ngapain di situ. Update status itu apa. Semuanya asing. Sangat asing. Apalagi orang-orang di dalamnya juga tak banyak yang saya kenal. Beberapa bulan kemudian mulai ikut-ikutan orang untuk berdagang di facebook. Pas pertama kali dagangannya laku itu rasanya 'waw' sekali. Artinya ini bukan hanya sekadar untuk pamer status atau pajang foto. Bisa juga buka lapak, pikir saya waktu itu. Namun sebenarnya melalui tulisan ini saya ingin menunjukkan kecanduan saya dulu pada facebook.

Saking kecanduannya, ada yang salah kalau satu jam tak buka facebook. Padahal waktu itu saya menggunakan nokia symbian untuk membuka sosial media. Cukup lama saya menggunakan nokia symbian tersebut. Sampai tahun 2012 seingat saya. Waktu saya akhirnya mendapatkan android pertama saya. Selama beberapa waktu, masih awal-awal menggunakan facebook rasanya ada yang komen dan mesti dibalas di facebook. Atau takut ketinggalan status teman-teman yang berbagi di sosial medianya. Entah saya saja yang merasa demikian beberapa tahun yang lalu atau teman-teman juga begitu?

Sampai akhirnya sekarang saya menyadari bahwa sosial media bukan toserba yang buka 24 jam. Tak setiap waktu kita harus membalas komentar orang lain atau memberikan komentar pada status tertentu. Sosial media sekarang saya gunakan sekadarnya. Tidak hanya facebook, twitter pun tak kecanduan lagi. Kadang hanya berbagi link blog di twitter dan facebook sudah cukup. Saking malasnya mau berlama-lama di sosial media saya hanya membalas komentar orang di status atau kiriman saya dengan memberikan jempol saja di komentar tersebut.

Padahal di android notifikasi langsung terdengar dalam hitungan detik saat akan yang mengirimkan sesuatu di akun sosial media saya. Tak selamanya juga sih kita bisa berkutat dengan hal-hal tersebut. Sekarang sosial media hanya media pelengkap bagi 'kehidupan maya' saya tapi tetap tak akan bisa menggantikan kehidupan saya yang sebenarnya di dunia nyata.


Dunia nyata akan selalu lebih indah. Percayalah.

Tidak ada komentar:

@honeylizious

Followers