26 Maret 2014

Dear Aki



Assalamualaikum Ki
Sudah belasan tahun berlalu. Tapi setiap kali membayangkan wajah Aki yang tersenyum. Wajah Aki yang bersedih. Memejamkan mata dan berusaha menghirup aroma tubuh Aki yang abadi dalam imajinasi. Maasih ada. Aroma itu masih ada. Suara Aki yang tak pernah terekam dan tersimpan sebagai file di komputer masih merdu terdengar. Masih terngiang-ngiang di telinga. Membayangkan setiap kali naik motor air akan pulang untuk menemukanmu yang semakin ringkih. Kemudian waktu ternyata mendatangimu lebih dulu. Sebelum kamu pikun. Sebelum kamu tak mampu menggerakkan tubuhmu karena stroke.

Dia memanggilmu saat kamu masih sehat-sehat saja.

Tak setiap orang lahir dan dibesarkan di keluarga seperti ini. Menjadi anak untuk kakeknya sendiri. Sementara kedua orang tua sibuk mengais rezeki demi masa depan anaknya. Tapi keberadaanmulah yang membuat cucumu sekarang menjadi orang yang seperti ini.

Berapa kali berteriak pun, aku tak bisa lagi mengatakan pada Aki bahwa sekarang aku sudah berhasil mencapai cita-cita yang aku idam-idamkan sejak dulu. Menjadi penulis, Ki. Benar-benar penulis. Penulis yang tulisannya dibaca banyak orang. Tak hanya fiksi yang aku tulis, Ki. Semuanya sekarang sudah mulai aku tulis. Bahkan aku juga mempekerjakan beberapa orang sebagai asisten untuk membantuku menyelesaikan banyak deadline.

Aki tak perlu cemas dengan masa depanku. Aku hidup sangat baik dengan mengandalkan tulisanku. Aku bisa makan enak. Beli barang yang aku suka. Bahkan aku sudah memberikan uang bulanan untuk Uwan. Perempuan yang paling Aki cintai di dunia ini. Uang dari aku menulis Ki.

Semalam aku mengingat semua kenangan itu lagi, Ki. Ternyata aku bukanlah perempuan yang cukup kuat. Aku masih perempuan yang hampir 12 tahun lalu Aki tinggalkan. Masih perempuan yang itu. Perempuan yang akan menangis saat ditanya: “Bagaimana kalau Aki meninggal?”. Sewaktu menemukanmu kritis di rumah sakit, aku hanya bisa berharap kamu cepat sehat kembali dan menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali. Kemudian jawabanku tetap sama. Tak ada kata yang keluar kecuali air mata.

Semua air mati kucoba untuk kutahan. Tapi tak bisa. Aku akan terus menangis karena kepergianmu yang sedemikian cepat. Sebelum aku sempat memberikan apa yang selama ini kamu impikan. Sebuah sepeda motor. Butut pun tak apa, itu harapanmu sebelum meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Padahal sekarang aku sudah punya Scoopy baru. Belum ada platnya malahan, Ki.

Ingin rasanya mengelilingi Jawai seperti dulu bersamamu. Dengan sepeda warna hijau kebangganmu. Sepasang kakiku akan diikat di tiang sepeda menggunakan sapu tanganmu. Namun kali ini aku yang ingin memboncengmu dengan sepeda motor baruku.

Aku sudah menikah, Ki. Aku akhirnya menetapkan hati untuk memilih laki-laki yang sepertimu. Dia sangat mirip denganmu. Sangat penyayang dan lembut hatinya. Nanti aku akan membawanya ke kekuburan Aki. Supaya Aki bisa melihatnya lebih dekat. Aku tahu surat ini tak akan pernah sampai ke pangkuan Aki. Aku juga tak bisa mendatangi tempat Aki sekarang.

Aki pasti sangat kesepian karena tak ada aku di sana kan? Aku hanya berharap kedua malaikat penjaga kubur itu selalu baik dengan Aki. Selalu berharap Allah akan memberikan penerangan untuk Aki di dalam sana. Menghangatkan tempat peristirahatan Aki sampai waktu kiamat tiba. Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih untuk cinta yang Aki berikan dari aku kecil sampai aku SMA. Terima kasih untuk masa kecil dan remajaku yang penuh cinta. Terima kasih untuk tak pernah lelah menggendongku yang gendut dulu.


Terima kasih Aki.

@honeylizious

Followers