6 Februari 2014

Trilogi Linimassa: Beranilah Berusaha







Saya sudah nonton Trilogi Linimassa beberapa hari yang lalu. Tepatnya 1 Februari 2014 bersama teman-teman blogger Pontianak. Apa sih Trilogi Linimassa itu? Jadi Trilogi Linimassa ini sebenarnya menceritakan tentang pemanfaatan media sosial untuk mencetuskan dan/atau melandasi gerakan sosial di Indonesia pada kurun waktu 2011 hingga 2013. Gerakan sosial tersebut misalnya berkaitan dengan isu disabilitas, perdamaian, kemanusiaan, lingkungan, UKM dan HAM. Adapun lokasi kisahnya beragam, dari Aceh, Bengkulu, Jakarta, Tasikmalaya, Jogja, Pati, Solo, Samarinda, Poso, Lombok, Ende dan Ambon.

Saya acungi jempol buat teman-teman yang berada di balik layar untuk membuat film dokumenter ini. Sejak kecil saya memang suka sekali menonton film dokumenter. Sebab isinya adalah kenyataan. Bukan sesuatu yang dibuat-buat supaya ada. Bukan seperti sinetron. Eh kok malah nyasar ke sinetron ya?

Nobar di Lamongan foto oleh Gelandangan Berdasi.


Setelah menonton Trilogi Linimassa saya menyadari satu pesan yang ingin disampaikan oleh semua film itu. Supaya kita berani berusaha. Barangkali selama ini kita terlalu percaya dengan pemerintah. Terlalu sabar menanti perubahan yang akan dibuat oleh pemerintah padahal hasilnya nihil. Berapa banyak yang hal yang tak sepatutnya terjadi malah sekarang sudah menjadi hal yang biasa kita lihat sehari-hari? Tak lagi aneh di mata kita.

Nobar di Samarinda, foto oleh Kakaakin.

Dari film Trilogi Linimassa ini saya sadar bahwa sudah cukup semua penantian kita. Saatnya kita untuk melakukan perubahan itu bersama-sama. Sebagai manusia yang sama-sama hidup di bumi. Sebab kalau kita tidak bergerak siapa lagi yang akan bergerak? Sampai kapan kita hanya menjadi penonton dan bukannya pemain? Pejabat biarkan bersuara biar rakyat saja yang berusaha.

Selain menonton Trilogi Linimassa sebenarnya ada juga film dokumenter yang lain yaitu Terpenjara di Udara. Film dokumenter ini pun cukup menggelitik sebenarnya. Seberapa lama sudah kita dibutakan oleh media yang menggunakan jaringan publik untuk mengisi pundi-pundi mereka sendiri? Memperkaya diri mereka tanpa memikirkan siapa yang lebih berhak menggunakan jaringan publik yang tersedia tersebut? Lalu berapa banyak radio komunitas di negara kita yang tercinta ini yang pelan-pelan 'mati' karena tak sanggup mengikuti birokrasi dan harus bersaing dengan media komersil yang tentunya lebih banyak uangnya.


Beranilah berusaha. Pesan itu yang saya dapatkan dari Trilogi Linimassa ini dan juga 'Terperangkap di Udara'. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah menghadirkan sedemikian nyata rupa-rupa di Indonesia.

@honeylizious

Followers