Langsung ke konten utama

Membahas Tentang Hutang


Ah lagi-lagi ngomongin hutang ya! Sebenarnya kita sebagai pihak yang memberikan hutang sih niatnya baik. Tak tega. Ingin menolong. Kemudian niat baik kita dimanfaatkan orang lain. Sudah banyak pengalaman menghutangi orang yang tak menyenangkan. Bagian paling menyebalkan adalah menagih. Kita menagih berulang-ulang tapi yang punya hutang tak nyadar juga bahwa hutang tersebut semestinya dibayar sesegera mungkin.

Hingga akhirnya sekarang hanya orang-orang tertentu yang akan saya pinjami hutang. Tak peduli ada yang memohon untuk diberikan hutang. Mau menangis berdarah-darah pun lebih baik tak diberikan hutang saja. Daripada menyusahkan kita yang akhirnya sibuk menagih hutang tersebut. Menyebalkannya lagi ketika uang sudah didapat mereka dengan nyamannya meninggalkan kita. Syukur-syukur ingat buat bayar hutang. Tak sedikit yang akhirnya meninggal dunia tanpa sempat membayar hutangnya.

Serem kan?

Jadi sekarang harus kuat tega. Harus kuat menahan diri untuk tidak luluh. Lebih baik memberi sedekah dibandingkan memberikan hutang. Kalau memang jumlahnya sedikit sedekah sajalah. Lebih baik demikian dibanding pusing nantinya menagih hutang dari yang bersangkutan. Kadang kasihan sih sama orang yang minta hutang. Namun ingat-ingat lagi dengan pengalaman sebelumnya. Memang lebih baik menahan diri untuk tidak memberikan hutang.

Setidaknya kalau mau memberikan hutang pun mintalah jaminan sehingga lebih aman. Kita tak perlu repot menagih karena jaminannya tentu lebih besar nilainya dibandingkan hutang yang dia pinjam. Lumayan sekarang saya bisa menolak orang-orang yang ingin dihutangi. Sebab saya rasa saya sudah cukup lelah berhadapan dengan orang yang sepertinya bisa dipercaya ketika sudah berurusan dengan hutang-piutang. Saran juga nih buat yang suka berhutang mendingan menggadaikan barang ke pegadaian. Mengatasi masalah tanpa masalah. Eh bener kan ya taglinenya seperti itu.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan