22 Februari 2014

Dengarkan Curhatku…



Buat yang tak ingin mendengar curhatan saya sebaiknya lewatkan postingan yang ini dan bacalah postingan lain yang isinya bukan curhatan dan tentunya di sini banyak sekali curhatan lainnya. Hahaha… sedikit tricky jika meminta teman-teman membaca tulisan ‘lain’ yang tak termasuk tulisan yang ini. Belum bertemu suami dan tentu saja saya tak bisa menceritakan banyak cerita melalui telpon. Tenang buat yang tak ingin mendengarkan curhatan seorang istri ini  sama sekali bukan curhatan mengenai seorang istri yang sedang rindu dengan suaminya. Melainkan ini curhatan seorang perempuan yang sedang kesal. Bukan kesal bagaimana ya. Sebab tak mudah membuat saya kesal hanya dengan membenci saya.

Ceritanya begini, seorang teman ingin meminta tolong pada saya. Seorang teman yang sudah saya tolak lima kali (kalau tidak salah lima, kalau memang keliru berarti enam) permintaannya untuk ngutang. Saya sebut teman apa ‘teman’ ya? Atau bekas teman? Saya tak yakin dia benar-benar teman saya sebab sepanjang hidup saya saya tak pernah meminjam uangnya untuk membayar sesuatu. Selama kami serumah selama 1 tahun kebanyakan dia yang meminjam uang dengan saya. Lalu 8 tahun kemudian dia datang lagi untuk meminjam uang dan mengatakan bahwa saya ‘temannya’ atau bisa dia katakan lagi ‘keluarganya’. Demi alasan nama baik dan hal yang berkaitan dengan aib saya tidak akan menyebutkan namanya di sini. Saya hanya akan menyebutnya dia.

Dari seorang teman saya mengetahui bahwa sebenarnya dia sedang membohongi saya tentang alasan dia meminjam uang. Katanya karena dia menabrak orang. Orang tersebut menuntut ganti rugi. Sepeda motornya di sita polisi. Dia tidak diizinkan pulang ke kotanya dan hanya boleh di Pontianak. Intinya sih alasannya berlapis-lapis. Paling menyenangkan lagi karena katanya saya temannya, saya ini sudah seperti keluarganya, dia mau mencium kaki saya, memohon mengemis pada saya pun dia rela.

But hey! Are you forget something?

Apakah kita pernah berkumpul di luar sama-sama? Apakah kamu pernah mengajakku untuk berkumpul seperti teman yang lainnya? Bahkan kamu tak pernah jalan denganku seperti teman-temanku yang lain. Setelah 8 tahun kemudian hanya dengan satu mantra POOF kita sudah menjadi teman sejati seperti teman? Are you kidding me? Memang sekitar lebih 8 tahun yang lalu kita pernah satu rumah sama-sama. Satu-satunya orang yang menjadi temanku di rumah itu hanya satu orang. Sejak kecil, saat serumah, hingga tulisan ini diterbitkan. Dia menjadi orang yang selalu menolongku dan aku juga menolongnya.

Lalu janji manismu mengatakan jika suatu hari nanti aku kesulitan kamu dengan ikhlas membantuku. Seperti yang aku lakukan, itu apabila aku membantumu sekarang. Yakin? Really?

Saya akan bisa menuliskan tulisan lebih panjang lagi dari ini, tapi karena ini hanya curhat seorang blogger yang tak berada di dekat suaminya dan tak bisa menyampaikan banyak hal lagi sebab deadline semakin mepet. Curhat di sela deadline memang menyenangkan tapi lumayan mengurangi waktu kerja. Artinya harus lebih cepat menulis artikel pesanannya. Olala…

PS: Buat yang sudah marah-marah di facebook karena pesannya tak dibalas saya pengen bilang: ‘Hai teman baikku yang sudah seperti keluarga, aku sedang berada di ujung Jawai Selatan yang sinyalnya TRI-nya memang susah dan kamu marah-marah pada saya padahal kamu yang pengen pinjam uang? Are youuuuuu kidding me?


@honeylizious

Followers