Langsung ke konten utama

Busy Day (2)

Hari kedua tak kalah sibuknya ternyata teman-teman sekalian. Malahan hari ini rasanya jauh lebih sulit dibandingkan hari pertama yang memberi kami tantangan untuk membuat film dengan lebih lengkap. Tidak hanya óne shoot'seperti kemarin yang cukup 1-3 menit. Sekarang mengambil banyak potongan video yang harus disatukan menjadi sebuah cerita yang utuh. Tentunya harus ada proses editing yang sama sekali tak bisa saya lakukan. Untungnya pembagian timnya menyertakan seorang atau dua editor. Jadinya tidak mencemaskan sama sekali soal editing.

Bahkan yang saya dapatkan bukan hanya seorang editor. Dia sudah merangkap semuanya. Saya dan Nova hanya membantu proses pengambilan gambar alias bagian permisi dengan orang-orang yang ada di lokasi. Maklum hari ini kami turun ke Pelabuhan Seng Hie. Berbeda dengan hari sebelumnya. Kami ke Pasar Sudirman dan Jalan Gajahmada.

Di pelabuhan memang lebih banyak orang yang datang dan pergi. Menyenangkan melihat betapa bersemangatnya orang yang mengejar rezekinya. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga di rumah yang menanti dengan setia. Padahal pelabuhan itu tempat yang keras. Banyak orang harus mengeluarkan tenaga ekstra di sini. Belum lagi jika kerja di kapal. Mau tak mau singgah sebentar untuk memeluk istri dan anak lalu kembali lagi  mengarungi sungai dan lautan.

Banyak hal yang bergerak di sini. Bahkan mau tak mau kami menaiki kapal yang sangat tinggi hanya untuk mengambil pemandangan dari atas secara keseluruhan. Saya menggunakan rok seperti biasanya. Dapat dibayangkan kuli-kuli kapal yang berteriak seakan-akan tak mengizinkan saya memanjat untuk naik ke kapal dengan rok panjang tersebut. Saya sudah pake celana panjang kok di dalamnya. Hehehehe...

Soal filmnya nanti saya cerita lagi ya! Workshop masih berjalan saat tulisan ini diterbitkan. :)

Postingan populer dari blog ini

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan