22 Februari 2014

Akhirnya Tiba di Rumah

Tak ada yang lebih indah dibandingkan bisa tiba di rumah yang juga merupakan tempat kerja, tempat istirahat, dan tempat membina rumah tangga.

Saat berada di dalamnya dan bisa meletakkan segala lelah di bantal yang lembek dan tentu saja setelah menyalakan kipas angin dan televisi, smartphone pun otomatis tersambung ke wifi WIGO WIMAX. Walaupun itu artinya saya lagi-lagi jauh dari orang tua. Sekarang sih bedanya bisa berdua bersama suami tercinta. Tak hanya sendirian turun dari bus dari Pemangkat sana dan menemukan dinding kamar yang beku. Tak ada siapa-siapa.

Tiada lagi hari yang seperti itu. Sekarang rumah lebih terasa benar-benar rumah. Karena ada seseorang yang menunggu saya di sana. Menanti dengan sabar. Orang yang akan marah jika saya tak menjawab telponnya atau membiarkan hape tak menyala berjam-jam. Orang yang akan berusaha menemukan saya di mana pun saya berada.

Inilah kehidupan yang saya jalani berdua dengannya. Orang yang saya sebut rumah. Karena kepadanya saya akan pulang setiap kali bepergian.

Rumah juga tempat yang tak akan membuat saya mati gaya karena jaringan internetnya yang mumpuni di sini. Saat berada di Jawai Selatan saya memang harus mensyukuri semua anugerah yang saya dapatkan di kehidupan yang saya jalani di Pontianak. Saya memiliki semua yang saya butuhkan bahkan beberapa yang saya inginkan.

Pulang ke Jawai Selatan. Saat harus berhadapan dengan jaringan internet yang jauh dari bisa tersambung otomatis saya benar-benar tak bisa menyebut android saya smartphone. Sebab hanya bisa sms nelpon saja. Jangan harap bisa ngeblog di sana kalau tak mampir ke warnet. Untungnya masih ada warnet.

Sebab bekerja sebagai penulis online membuat jam kerja saya tak menentu. Deadline kejar-kejaran. Begitulah kehidupan saya sekarang. Saya tahu tulisan ini tak jelas ke mana arahnya. Saya hanya tak tahu harus mengatakan apalagi.
Sampai ketemu di postingan selanjutnya.

@honeylizious

Followers