Langsung ke konten utama

Pergi (7)


Aku sudah sampai di parkiran dan aku benar mengenai kamu tak akan menyusulku. Aku sudah tahu ini akan terjadi akhirnya. Pada akhirnya kita akan berpisah. Aku pergi dari kehidupanmu karena semuanya sudah tak sesuai dengan yang kita inginkan. Kamu selalu seperti itu. Padahal aku percaya kamu orang yang akan terus aku cintai sampai akhir dan meminangku. Menjadikan istrimu.

Ternyata kamu berubah seiring waktu. Walaupun aku tahu memang akan banyak perubahan yang akan terjadi di dalam kehidupan kita. Membuat kita berbeda dari sebelumnya. Tapi setidaknya jangan seperti ini berubahnya. Aku tak mau berpisah darimu. Apalagi sampai aku yang pergi. Namun aku tak punya pilihan lagi. Orang tua jauh lebih berharga dari perasaanku sendiri.

Aku harus ke rumah sakit. Melihat keadaan ibuku yang pastinya sudah lelah menghadapi keadaan yang mungkin akan merenggut orang yang paling dia cintai di dunia ini. Ibu menikah dengan orang yang dia cintai. Aku iri. Mobilku melaju. Rumah sakit tempat ayahku dirawat tak jauh dari sini. Hanya butuh beberapa menit untuk tiba di sana. Aku memarkir mobilku dan tak segera keluar. Aku ingin duduk dengan tenang di dalam mobil ini. Meredakan amarahku yang sempat menggila menghadapi kamu.

Kamu yang sudah kupilih untuk menjaga hatiku yang rapuh. Aku kecewa dan kamu tahu aku memang sangat kecewa. Itu yang lebih membuatku kecewa lagi. Aku menatap ke depan dan terkejut melihat mobil yang sangat aku kenal. Mobilmu. Berharap kamu keluar dari mobil itu dengan seorang perempuan agar aku punya alasan untuk membencimu. Agar kamu juga punya alasan untuk menolak menikahiku. Ada yang lain dalam kehidupanmu. Tapi aku salah. Kamu keluar sendiri.

Eh bisa saja kamu datang ke sini untuk menjenguk perempuan itu bukan? Aku membiarkanmu agak jauh sebelum keluar dari mobil. Mengikutimu dari jarak yang lumayan jauh. Aku penasaran siapa yang kamu jenguk di rumah sakit ini. Tak pernah sekalipun kamu bercerita tentang sahabat dekat atau keluarga yang masuk rumah sakit. Lalu mengapa kamu datang sendirian?


Aku menggenggam smartphoneku erat-erat. Menahan diriku sendiri yang rasanya ingin meledak saja.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan