27 Desember 2013

Pergi (3)


Kita belum menemukan jalan penyelesaian. Kamu malah mengangkat tangan untuk memesan minuman yang sama untukmu dan untukku. Aku diam saja menunggu apa perkataanmu selanjutnya. Meja yang dibaluti taplak putih susu ini membuat pancaraan matahari memantul ke wajahmu. Bercahaya. Wajah yang membuatku jatuh cinta lima tahun yang lalu.

Dari balik kaca cafe ini kita bisa melihat orang yang berjalan kaki lalu lalang. Semua orang bisa bebas bepergian di tengah cuaca yang cerah begini. Lalu kita malah duduk di sini membeku sambil minum kopi panas. Dua gelas kopi datang ke meja kita. Satu diletakkan di depanmu. Satu di depanku. Kita mengaduk gulanya sebentar.

Aku memincingkan mataku yang silau karena cahaya matahari yang tiba-tiba memantul dari kaca kendaraan yang lewat. Di cafe ini kita pernah mengikrarkan janji setia untuk menikah suatu hari nanti. Mengapa aku tak menanyakan padamu tentang batas waktu yang akan kita ambil.

Kamu mencintaiku kan?”

Iya Nick. Aku selalu mencintaimu. Sama seperti lima tahun yang lalu.”

Mengapa baru sekarang kamu mendesakku?”

Mungkin aku lupa kita seharusnya menikah. Aku terlalu hanyut dalam indahnya hubungan kita. Lalu tiba-tiba lima tahun berlalu begitu saja.”

Lima tahun...”

Kamu mendesah menyebut jangka waktu yang sudah kita lewati bersama.

Kalau aku tak bisa menikah denganmu minggu depan bagaimana?”

Aku akan pergi dari hidupmu Nick.”

Pergi?”

Iya, pergi. Aku akan memaafkanmu lalu melupakanmu.”

Kamu memaafkanku?”

Tentu saja Nick. Aku menyayangimu dan akan selalu menyayangimu walaupun akhrnya kita tidak akan menikah. Kita harus mencari cinta yang lain dan jatuh cinta lagi.”

Kamu akan melupakanku?”


Aku menganggukkan kepalaku.

@honeylizious

Followers