27 Desember 2013

Pergi (2)



Aku mengaduk-ngaduk kopiku yang tinggal seperempat. Tak tahu harus melakukan apa. Tepatnya aku tak tega meninggalkanmu. Tapi juga tak bisa terus menunggu. Desakan orang tuaku. Mereka ingin aku segera menikah. Tak peduli denganmu atau dengan siapa saja. Mereka sudah tua. Apalagi yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan mereka selama ini.

Aku punya orang tua, Nick. Mereka tak memberikan waktu lagi untukku.”

Aku juga punya, sayang. Come on, mungkin kamu bisa memberikan waktu setidaknya 6 bulan.”

Enam bulan? Vonis dokter mengenai penyakit ayahku kurang dari enam bulan. Walaupun aku tahu itu hanya prakiraan. Dokter tak punya hak untuk menentukan hidup mati seseorang. Terbayang lagi di kepalaku bagaimana histerisnya ibuku mendengar suaminya ditetapkan kematiannya seperti itu. Bahkan tangan ibuku sempat mampir ke pipi sang dokter yang tetap tenang menghadapi kami.

Aku anak tunggal, Nick. Berbeda denganmu. Saudara-saudaramu bisa mengotakkan keinginan orang tuamu untuk melihat anaknya menikah. Sedangkan aku? Aku tak bisa.”

Kalaupun kamu ingin cepat jangan sekarang, jangan minggu ini.”

Aku hanya minta kita menikah di KUA, maharnya satu dua gram saja sudah cukup. Walinya ayahku. Pamanku bisa jadi saksi. Begitu juga pamanmu atau saudaramu yang lain.”

Kamu terdiam. Beku. Tatapanmu membuatku ikut beku. Aku tahu kamu marah. Bukan padaku. Pada keadaan yang akhirnya menyudutkan kita berdua pada situasi yang tak pernah kita inginkan.

Minggu ini ya?”

Iya, minggu ini.” Penegasanku membuatmu menggigit bibir. Kebiasaan yang selalu kamu lakukan jika kamu sedang bingung.


Aku berharap kamu mengiyakan. 

@honeylizious

Followers