27 Desember 2013

Pergi (1)


Kita duduk berhadapan. Saling menatap gelas kopi yang sudah satu jam yang lalu kita pesan. Kopimu masih hitam. Berbeda dengan kopi pilihanku yang sekarang sudah berubah menjadi putih. Dalam diam kita sama-sama menarik napas panjang. Orang yang hilir-mudik, keluar masuk tempat minum yang menjadi saksi keresahan hati kita berdua.

Kamu cinta aku kan?” kamu mengulang pertanyaan yang entah sudah berapa kali aku jawab dengan anggukan.

Iya, aku mencintaimu. Sangat malahan.” Akhirnya aku menjawabnya dengan tegas dan mata yang berkaca-kaca.

Lalu kita membisu lagi. Aku mengambil gelas di depanku perlahan. Berharap dengan menyesap kopi putih ini aku tak lagi resah. Gulana. Kamu ikut mengambil gelas kopi hitammu. Meneguknya hingga tandas. Barangkali memang kamu lebih haus dengan keadaan ini dibandingkan aku.

Tak bisakah kamu menunggu?”

Pertanyaan yang sama lagi. Rasanya aku sudah cukup letih memberikan tenggat waktu padamu. Kamu meminta perpanjangan lagi untuk menikahiku. Kita sudah bersama lebih dari lima tahun. Apalagi yang tak kamu yakini tentangku?

Untuk apa, Nick?”

Persiapannya butuh waktu, sayang.”

Ah kata sayang itu terdengar tak lagi mesra di telingaku. Sudah lama sekali aku tak mendengar kamu menyebutku dengan kata 'sayang'. Terlalu lama berpacaran mengubah cara memanggilmu padaku. Tak ada lagi kata 'sayang' atau 'cinta'. Kamu memanggilku seperti kebanyakan orang. Kali ini ada yang berbeda. Apa karena kamu takut kehilanganku?

Berapa lama lagi?”

Aku tak bisa memberikan janji tapi tolong berikan aku waktu lagi.”

Aku menggenggam tanganku di atas meja. Tanganmu begitu jauh di seberang sana. Menjadi tumpuan kepalamu. Tepat di dagu yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Jenggot tipis yang membuat terlihat menarik di mata banyak wanita.

Aku menunggu lima tahun, Nick.”

Berikan aku sedikit waktu saja lagi. Berapa pun yang kamu sebut aku akan berusaha.”


Aku tersenyum penuh luka. Tak tega melihatmu. Tapi juga letih menunggu.

@honeylizious

Followers