Langsung ke konten utama

Pergi (1)


Kita duduk berhadapan. Saling menatap gelas kopi yang sudah satu jam yang lalu kita pesan. Kopimu masih hitam. Berbeda dengan kopi pilihanku yang sekarang sudah berubah menjadi putih. Dalam diam kita sama-sama menarik napas panjang. Orang yang hilir-mudik, keluar masuk tempat minum yang menjadi saksi keresahan hati kita berdua.

Kamu cinta aku kan?” kamu mengulang pertanyaan yang entah sudah berapa kali aku jawab dengan anggukan.

Iya, aku mencintaimu. Sangat malahan.” Akhirnya aku menjawabnya dengan tegas dan mata yang berkaca-kaca.

Lalu kita membisu lagi. Aku mengambil gelas di depanku perlahan. Berharap dengan menyesap kopi putih ini aku tak lagi resah. Gulana. Kamu ikut mengambil gelas kopi hitammu. Meneguknya hingga tandas. Barangkali memang kamu lebih haus dengan keadaan ini dibandingkan aku.

Tak bisakah kamu menunggu?”

Pertanyaan yang sama lagi. Rasanya aku sudah cukup letih memberikan tenggat waktu padamu. Kamu meminta perpanjangan lagi untuk menikahiku. Kita sudah bersama lebih dari lima tahun. Apalagi yang tak kamu yakini tentangku?

Untuk apa, Nick?”

Persiapannya butuh waktu, sayang.”

Ah kata sayang itu terdengar tak lagi mesra di telingaku. Sudah lama sekali aku tak mendengar kamu menyebutku dengan kata 'sayang'. Terlalu lama berpacaran mengubah cara memanggilmu padaku. Tak ada lagi kata 'sayang' atau 'cinta'. Kamu memanggilku seperti kebanyakan orang. Kali ini ada yang berbeda. Apa karena kamu takut kehilanganku?

Berapa lama lagi?”

Aku tak bisa memberikan janji tapi tolong berikan aku waktu lagi.”

Aku menggenggam tanganku di atas meja. Tanganmu begitu jauh di seberang sana. Menjadi tumpuan kepalamu. Tepat di dagu yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Jenggot tipis yang membuat terlihat menarik di mata banyak wanita.

Aku menunggu lima tahun, Nick.”

Berikan aku sedikit waktu saja lagi. Berapa pun yang kamu sebut aku akan berusaha.”


Aku tersenyum penuh luka. Tak tega melihatmu. Tapi juga letih menunggu.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan