28 Desember 2013

Pada Akhirnya (Tentang Menulis)


Barangkali teman-teman banyak yang berharap tulisannya mendapat komentar dan dibaca banyak orang. Lebih menyenangkan lagi komentarnya berupa pujian yang manis. Tenang teman-teman tak sendirian. Saya juga pernah seperti itu. Berharap ada yang memberikan dorongan dalam bentuk komentar terhadap semua tulisan yang saya publikasikan di blog ini. Tetapi tentu saja tak semua komentar akan membuat kita nyaman. Ada komentar yang membuat kita down. Merasa tak semangat. Bahkan memutuskan untuk berhenti menulis. Takut menghadapi komentar berikutnya.

Tapi lama-kelamaan akan ada satu titik di mana kamu tak peduli dengan komentar apa pun. Mau komentarnya baik atau buruk. Mau memuji atau menghina akan ada satu bagian dari dirimu yang perlahan-lahan menutup telinga terhadap semua itu. Sebab melelahkan. Menerima pujian juga menakutkan. Takut kita terlalu senang dan lupa untuk terus berlatih dan meningkatkan kemampuan menulis kita. Kalau menerima komentar takutnya kita jadi ciut dengan dunia tulis-menulis.

Ketika kita berada pada fase kita tak peduli lagi dan lebih memilih untuk terus menulis tanpa henti saat itulah kita menemukan diri kita yang sebenarnya. Bagian dari diri kita yang tak butuh dorongan atau kecaman dari siapa pun. Sebab menulis itu adalah keinginan kita. Kita ingin melakukannya. Mau dibilang bagus atau jelek biarkan saja. Setiap orang punya pendapat pribadi mengenai sebuah karya.

Masih ingat dengan cerita seorang ayah dan anak yang ingin menuju sebuah tempat tapi hanya punya keledai? Saat sang ayah yang naik dan anaknya yang menuntun keledai orang yang melihat mereka lewat berkomentar.

Ayahnya tak tahu diri ya? Anaknya dibiarkan berjalan kaki dan dia enak-enakan naik keledai.”

Mendengar hal tersebut sang ayah turun dan menaikkan anaknya ke keledai. Tak berapa lama ada lagi yang melihatnya dan berkomentar.

Anaknya durhaka sekali ya? Ayahnya dibiarkan berjalan kaki dan dia di atas keledai.”

Dua orang ini tentu saja bingung sebentar lalu memutuskan untuk naik ke atas punggung keledai dan merasa apa yang mereka lakukan sudah benar. Tapi ternyata masih ada yang komentar.

Kejam sekali ya mereka itu, sudah keledainya kecil malah dinaiki berdua.”

Mendengar hal tersebut, dua orang ini turun dan berjalan kaki bersama keledainya. Masih ada saja orang yang berkomentar.

Bodoh sekali mereka, punya keledai tapi jalan kaki.”

See, apa pun yang kita lakukan, dalam hal ini menulis, tetap ada orang yang menganggapnya salah. Apakah kita ingin seperti itu? Terlalu sibuk mendengarkan komentar orang dan pada akhirnya bingung apa yang harus dilakukan?


Suatu hari akan ada saatnya kita merasa tulisan kita sudah 'pas'. Bukan sempurna. Bukan 'waw'. Hanya 'pas'. Lalu komentar apa pun tak memberikan pengaruh bagi kita.

@honeylizious

Followers