11 Januari 2014

Indonesia Memilih 2014?

Cornelis itu Gubernur Kalimantan Barat.

Foto oleh Arie Lai

Awalnya saya pikir kalo memang tak ada pilihan yang paling oke menurut jiwa dan hati saya, tak memilih akan jauh lebih baik. Tapi kemudian hati kecil saya di bagian paling dalam merasa saya harus melaksanakan kewajiban sebagai warga negara yang baik untuk tetap memilih satu orang yang menjadi calon pemimpin negara Indonesia yang tercinta ini. Jika benar-benar tak ada sedikit pun yang nyantol di hati saya rasa saya akan memilih yang tak begitu buruk dari sekumpulan calon yang buruk.


Truk terbalik? Itu biasa



Dulu hanya belasan jam, sekarang dua kali lipatnya.


Mau ke Malaysia? Lewat jalan seperti ini dulu.


Sebab kalau saya tak memilih lalu yang terburuk yang menang menjadi presiden berarti saya ikut andil dalam membiarkan negara ini dipimpin olehnya. Setidaknya jangan sampai orang-orang yang kita yakini tak bisa memimpin negara dan sibuk mempromosikan dirinya di media malah duduk di kursi yang banyak diinginkan orang itu. Bahkan anak-anak. Bayangkan. Banyak anak-anak yang sejak kecil sudah punya cita-cita jadi presiden. Coba cita-citanya seperti saya. Menulis. Cita-citanya jadi penulis. Melawan semua hal dengan pena. Sekarang sih dengan papan ketik ya?


Sebagai blogger kita bisa mempromosikan orang yang kita yakini tak begitu buruk untuk menjadi presiden dan membuat orang-orang yang mengakses media sosial terbuka pikirannya untuk memilih seseorang yang tak begitu buruk itu. Walaupun bukan yang terbaik. Karena hingga hari ini pun saya tak yakin dengan banyak calon yang akan masuk kancah peperangan suara itu.


Pasti banyak teman-teman yang sudah cukup muak dengan orang yang punya banyak uang dan sibuk menjadi bintang iklan dengan biaya sendiri. Tak perlu saya sebutkan. Sebab wajahnya ada setiap hari di televisi. Saya? Tentu saja muak. Berapa banyak uang yang dia keluarkan untuk nampang itu? Mendingan jadi bintang iklan saja. Berbayar. Ini malah membayar. Di Indonesia sudah banyak orang cerdas yang tak bisa dibohongi dengan janji. Ini bukan jaman Soeharto yang semua orang bakalan memilih satu partai yang sama tanpa banyak tanya. Sedikit yang berani untuk memilih partai yang lain. Bahkan jumlah partai pun sangat sedikit. Sekarang? Saya bahkan tak hapal apa saja partai yang ada di Indonesia.


Melalui tulisan ini, saya hanya ingin mengetuk hati siapa saja di luar sana yang kebanyakan uang untuk beriklan sebagai caleg, mendingan datang ke wilayah timur Kalimantan Barat. Bantu pemerintahan di sini yang sudah tak mampu memperbaiki jalan negara yang menghubungkan Indonesia dan Malaysia. Blogger jangan diam saja dengan keadaan yang ada di negara kita. Kita tembak mereka yang sibuk berjanji saat kampanye itu dengan ribuan karakter postingan kita. Bahkan jutaan kalau kita memang mau.


NB: Hingga hari ini, jalan menuju wilayah timur Kalimantan Barat sangat membahayakan dan terlalu sulit untuk dilewati. Kalimantan Barat sudah salah memilih pemimpin, jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama. 

@honeylizious

Followers