30 Desember 2013

He Is The One



Agustus lalu, baru beberapa bulan berlalu. Tepatnya 28 Agustus 2013. Tak pernah terlintas sedikit pun akan menemukan sang tambatan hati. Dari WeChat kami berkenalan. Lalu tiga hari bertemu meyakinkan dirinya untuk melamar dan ternyata saya menerima begitu saja. Kalau ingat beberapa bulan, bahkan lebih dari setahun sebelumnya yang sudah lewat di belakang, jangankan mengenal, kami bahkan masih meyakini orang lain yang akhirnya akan menjadi jodoh kami.

Dia masih dengan perempuan yang lain yang akhirnya meninggalkannya. Saya sendiri? Masih dengan laki-laki yang sama yang saya tanya hampir setiap hari dengan pertanyaan paling membosankan sedunia, setidaknya untuknya. Kapan Bang kita akan menikah? Jawabannya hanya sebuah senyuman tipis yang tak bisa saya maknai dengan utuh. Apa sebenarnya yang dia inginkan dari hubungan seperti itu. Bertemu setiap hari. Makan siang dan malam di luar bersama. Bercerita tentang banyak hal dan sudah lebih dari setahun tak ada jawaban mengenai kapan-Bang-kita-akan-menikah?

Perempuan tidak semuanya menggunakan perasaan. Saya tak terlalu menggunakan perasaan dalam berhubungan ketika saya sadari bahwa nikah itu ibadah. Ibadah. Pembuktian cinta kita kepada Allah. Kalau tak kunjung menjadi kenyataan dengan orang yang kita sayang tetapi muncul orang lain yang mau menjadikannya nyata, saya pikir langkah terbaik saya memang menerima. Banyak yang meragukan bahwa pernikahan kami akan baik-baik saja.


Bukankah memang tak akan ada sepasang manusia berlainan jenis yang akan benar-benar cocok di dunia ini? Seiring berjalannya waktu saya rasa saya bisa belajar untuk mengompromikan banyak hal dengan seseorang yang akan menikahi saya. Menikah dengan si kapan-bang-kita-akan-menikah atau dengan si hey-kita-kenal-lewat-wechat-dan-baru-tiga-hari-kenalan-di-dunia-nyata-menikah-yuk ujung-ujungnya pun saya tetap akan belajar untuk menyesuaikan dengan laki-laki yang menjadi imam saya tersebut. Sama saja kan? Bedanya ada satu yang lebih siap untuk nekad menikah dengan saya dan ada satu lagi yang terus-menerus hanya menyunggingkan senyuman di bibirnya.

Pertanyaan yang paling saya ingat hingga sekarang adalah kamu yakin mau menikah dengannnya?

Saya tetap menjawab yakin kok. Bahkan hingga hari ini, saya mensyukuri semua berkah yang ada di dalam pernikahan kami dan semua masalah dihadapi dengan kesabaran. Dia sangat sabar. Bukan PNS. Mencoba memahami setiap kebiasaan buruk saya. Selalu mau mencoba resep masakan yang saya coba. Dia yang setia menjadi sahabat saya akhirnya. Saya yakin Allah akan melancarkan semua urusan yang baik. Kalau memang dia bukan yang terbaik untuk saya, Allah lebih punya cara untuk menggagalkan pernikahan kami.

Walaupun berbekal uang seadanya. Tak dapat gedung. Hanya punya 6 minggu untuk mempersiapkan semuanya. Sekarang kami sudah sah secara hukum negara dan agama sebagai pasangan suami istri. Padahal saya kira saya tak akan menikah secepat ini. Memang, kalau Allah sudah berkehendak, pasti terwujud. Janji kami, untuk menjadi suami istri, bukan hanya janji kosong. Ada ijab dan kabul di sana sebagai perjanjian terkuat yang akan mengikat kami selamanya. Hingga maut memisahkan.

Buat siapa pun di luar sana yang belum menemukan tambatan hatinya. Percayalah, jodoh tak akan lari ke mana, pasti ketemu di KUA.


@honeylizious

Followers