29 Januari 2014

7 Silly Life Stories


Hi Honeylizious readers! Perkenalkan saya Gelato Traveler, yang punya YouthGoTravel. Nah, untuk tema Swap Blog kali ini, saya harus menjelaskan dalam 7 cerita hidup saya yang cukup bikin wajah memerah. Jadi,untuk kalian yang suntuk, mungkin cerita ini bisa bikin kalian tersenyum
  1. Gum on the Dress
Saya ini anaknya jahil, sudah sejak kecil penyakit itu menyebar. Waktu di TK, saya juga tomboy. Mama saya lebih suka memakaikan saya baju kodok yang popular di kalangan anak-anak. Nah, pada saat itu, film Cinderella and Putri Tidur yang diperankan Ira maya Sopha juga sedang booming. Banyak anak-anak perempuan yang memakai dress di TK saya.



Suatu hari ada satu anak perempuan yang mengatakan bahwa baju kodok saya jelek, sewaktu istirahat. Saya yang saat itu sedang mengunyah permen karet langsung naik pitam. Secepat kilat tangan saya mengambil permen karet dan menempelkannya ke gaun “cantik” yang dipakainya. Dia langsung menangis dan mengadu kepada salah satu guru kami. Sepulangnya, si mbak pengasuh yang “menanggung” malu karena ibu anak itu marah-marah dan memintanya untuk menghilangkan permen karet dari dress tersebut.

  1. Pee on Foes
Nah, ini kelanjutan dari kenakalan saya di masa kecil. Saya itu paling suka main ayunan. Suatu ketika saat istirahat, ada dua anak perempuan yang mengambil alih ayunan kesayangan saya. Dengan kesal saya mencoba untuk menikmati permainan lainnya, yaitu jaring laba-laba bersama sepupu saya. Tidak lama kemudian sepupu saya berkata dia mau ke toilet dulu untuk buang air kecil.

Entah setan jahil mana yang merasuki saya. Saya pun berbisik ke sepupu saya sambil tersenyum licik (seperti di sinetron..hihi). Kemudian saya mendekati kedua anak perempuan yang sedang asyik bermain ayunan. Saya meminta mereka untuk menutup mata sebelum saya memberikan “surprise”. Dan pada saat itulah sepupu saya asik pipis di seragam mereka. Dan seperti biasa, si mbak pengasuh yang merasakan amarah kedua ibu dari kedua bocah lugu tersebut.

Note for 3rd and 4th stories: Saya meminta maaf kepada Mbak Ani, pengasuh saya selama empat tahun yang selalu ketimpa amarah orangtua murid selama saya bersekolah di TK dan SD. Mungkin hal inilah yang membuat guru TK saya menyarankan saya untuk mulai SD walaupun umur saya baru 5 tahun.

  1. Pomba Ban Sepeda Portable
Ini adalah pengalaman saya di kota kecil bernama Ilmenau, Thuringen di Jerman. Hari itu adalah hari-hari terakhir Student Week in Ilmenau 2011, student festival yang saya ikuti. Saya meminjam sepeda dari salah satu host teman saya. Nah, teman saya lainnya dari Indonesia juga ingin bersepeda. Kebetulan sepeda itu ada boncengannya, hanya saja jika ditunggangi dua orang, ban sepeda itu agak sedikit kempes. Maka saya berinisiatif untuk meminjam pompa ban ke Student Center, sedangkan teman saya melanjutkan bersepeda ke danau.

Di tengah jalan, saya bertemu dengan salah satu pelajar Jerman di universitas tempat festival diadakan. Saya bertanya apakah mungkin meminjam popa sepeda di Student Center. Lalu dia menawarkan pompa ban yang dimilikinya. Pompa ban yang dimilikinya seperti seruling, jadi bisa dibawa kemana-mana. Dia juga berbaik hati untuk memboncengi saya sampai danau.

Sesampainya disana, dia dan teman saya bahu membahu untuk memompa ban sepeda yang kempes. Dan pada saat itulah saya melihat sesuatu yang mirip dengan pompa ban yang dimilikinya di bawah boncengan. Lalu, dengan polosnya saya bertanya apakah benda itu juga pompa ban. Dengan wajah menahan tawa, dia mengangguk. Saat itu, saya malu sekali karena mungkin saja pelajar itu mengira saya ini ndeso :p. Tapi jujur saja, itu adalah pertama kalinya saya melihat pompa ban sepeda portable..hihihi
  1. Heart of Ice
Pria romantis adalah dambaan kebanyakan perempuan. Beruntungnya, Perfect Travel Mate saya, Jacknass Traveler itu cukup romantis. Awal Desember tahun lalu, tepatnya pada tanggal 7 adalah hari dimana kami bertemu kembali setelah setahun LDR. Mungkin bisa dibilang, saya ini orangnya tidak terlalu romantis karena saya merasa biasa saja untuk pertemuan itu sebab setiap hari melihat dia di Skype.

Di bandara Vilnius, saya melihatnya menunggu saya bersama kakaknya. Dia menghampiri saya dan … (the details..mhm off the record) Kemudian saya berkata bahwa saya bertemu dengan teman baru dari Korea di pesawat. Wajahnya sedikit kaget, “Already met another guy?” Saya hanya nyengir dan berkata bahwa teman baru saya itu akan ke Kaunas juga karena dia belajar di universitas yang sama dengan kami, dulunya. Dia maklum karena saya ini orangnya easy going dan cepat berkenalan dengan orang asing, terutama saat berpergian.

Dia pun berkenalan dengan teman baru saya. Saat akan ke mobil, dia meminta saya berhenti dan mengatakan “My heart is melting! Touch it!” Lagi-lagi saya dibuat nyengir dan menyentuh dadanya. Kemudian saya bergegas lagi ke mobil karena cuaca yang super dingin.


Karena kami tidak langsung pergi ke Kaunas, kami hanya mengantar teman Korea ini ke stasiun kereta. Kami keluar mobil untuk berpamitan dengannya. Sesaat sebelum saya ke mobil, Jacknass membuka mantelnya dan mengeluarkan es krim kesukaan saya dari “jantungnya”. Saya baru sadar, dia ternyata mau menyambut saya secara “romantis” namun rencananya tidak terlalu berhasil karena saya yang kurang peka, ditambah lagi membawa “cowok” lainnya di hari spesial itu :p.
  1. Lychee Tea Disaster
Kejadian ini baru saja terjadi di awal tahun 2014 sewaktu saya mengunjungi Godmother Jacknass Traveler di Jerman. Saat kami berbelanja, Jacknass melihat leci dan bertanya pada godmother-nya apakah dia pernah merasakan buah eksotis itu. Karena belum, Jacknass meminta saya membuat Lychee Tea seperti yang saya buat untuknya sewaktu di Lithuania untuk mengambil hati ibu baptisnya.

Sesampainya di rumah, saya segera membuat Lychee Ice Tea. Rasanya sempurna, tinggal ditambah air buah kalengan. Godmother menawarkan untuk memakai air buah persik kalengan. Pada saat menuangkan air tersebut, saya kurang berhati-hati dan beberapa buah persik utuh di dalamnya jatuh ke dalam teko dan air teh di dalamnya meluber. Jacknass langsung membantu saya membereskan kekacauan dan membuat ulang setengah teh leci yang terbuang sia sia. Begitu juga usaha saya untuk meninggalkan kesan yang baik di hati Godmother Jacknass…
  1. Via delle Terme di…
Woman can’t read map! Well, mungkin stereotype ini berlaku untuk saya. Saat liburan ke Italy awal Januari ini, saya berniat untuk makan malam di tempat yang cozy tapi tetap affordable dengan Jacknass untuk merayakan hari pertama kami bertemu yang ke-20 (for your record, yeah we do celebrate this special moment every month . Salah satu cerita tentang tradisi kami ini bisa dibaca disini.)

Di salah satu Travel Website internasional, café ini ditunjuk sebagai salah satu café aperitivo (dimana kita bisa pilih satu minuman dan makan buffet sepuasnya dengan harga 10 Euro) terbaik. Dengan menggunakan GPS handphone, kami pergi ke sana. Saya ingin kami pergi menggunakan bus, namun jangan harap bus tepat waktu di Roma. Jacknass mengusulkan untuk berjalan kaki selama lima belas menit walaupun agak hujan.

Sesampainya di Via delle Terme di Traiano yang pendek itu, kami mencari nomor 72 (saya lupa nama café-nya dan hanya ingat alamat nomornya saja. Namun di jalan tersebut hanya ada nomor sampai dengan 30-an. Alhasil, karena lapar dan basah kehujanan saya marah-marah dan menganggap Jacknass tidak becus (Am I rude? Yes I am)baca peta sebagai laki-laki. Dengan wajah sedih, dia meminta saya mengingat apapun tentang café tersebut. Di salah satu review, saya ingat bahwa letaknya tepat di seberang Coloseum. Sedangkan lokasi kami saat itu jauh dari Coloseum. Lalu, kami pun berjalan ke Metro untuk ke sana.

Tak jauh berjalan dari Metro, kami menemukan café tersebut. Dan nama jalannya adalah Via delle Terme di Tito. Oh Gosh! Sekejap saya meminta maaf kepada Perfect Travel Mate saya yang masih terus bersabar menghadapi mood saya yang naik turun seperti anak perempuan berumur 5 tahun… Sudah susah mencarinya, ternyata pilihan buffet-nya juga tidak terlalu spesial malam itu. Rasanya tambah merasa bersalah…
  1. Problematic Luggage
Sebagai seorang traveler, koper merupakan salah satu benda terpenting. Di perjalanan maha karya saya pada awal Desember 2013, saya masih belum juga bebas dari kutukan “koper rusak”. Pasalnya, setiap kali pulang dari benua tetangga, koper saya tidak pernah kembali dengan keadaan utuh. Begitu pula perjalanan kali ini.
Sesampainya di Roma, setelah perjalanan yang panjang dan transit 12 jam di Riyadh, saya menemukan handle koper saya rusak. Beruntung, dengan Bahasa Italia yang setengah-tengah saya memberitahukan petugas bandara mengenai hal tersebut. Dia menanganinya dengan ramah dan dia meminta saya untuk pergi ke toko koper yang ditunjuknya untuk memperbaiki koper saya secara gratis. Perjalanan menuju rumah mamanya teman tempat saya menginap menjadi dua kali lebih berat dengan koper rusak. Syukurlah, setelah kejadian tersebut, koper saya diperbaiki seperti baru.

Sekembalinya ke Indonesia, saya transit di Singapura dan saya ingin memindahkan beberapa barang dari koper ke backpack sehingga tidak over weight (maklum perjalanan dari Singapura ke Jakarta, saya menggunakan low cost airline dengan batas luggage 20kg yang saya beli.) Sialnya, kunci koper saya jammed.

Saya segera ke customer service untuk melaporkan hal tersebut. Sialnya, saya mendapat officer yang menyebalkan. Mungkin dia pikir semua orang Indonesia itu TKI yang mau menipu dengan meminta ganti rugi. Berulang kali saya berkata bahwa saya tidak meminta uang dan hanya ingin koper saya terbuka. Saya juga menceritakan bahwa di Roma, saya tidak mendapatkan perlakuan buruk seperti ini.

Alhasil, dia menyuruh saya ke bagian custom dan meminta untuk menggunting kepala resleting koper. Dengan kesal saya ke bagian custom dan disana mereka meminta dokumen yang memperbolehkan mereka untuk merusak koper saya. Saya kesal karena harus bolak-balik namun tidak ada hasil. Akhirnya, petugas itu memanggil petugas custom yang menyelidiki saya serta melihat semua dokumen penerbangan saya sebelum merusak koper saya.

Well, cerita kali ini bukannya untuk membandingkan betapa buruknya perlakuan orang serumpun pada saya. Tapi hal ini menjadi pembelajaran saya untuk hati-hati dimana pun saya berada. Tidak semua orang berbaik hati pada devil seperti saya. Singkatnya, saya kembali dengan ke Jakarta dengan resleting yang rusak. Petugas check in menutupinya dengan sticker agar tas saya tidak dibuka tanpa sepengetahuan saya (walaupun isinya hanya baju kotor).

Sesampainya di bandara Soe-Ha, saya tidak melihat koper saya karena saya sudah terlalu lelah dan nomor luggage saya diminta petugas bandara. Saat di rumah, papa saya menanyakan perihal koper saya yang lagi-lagi rusak, salah satu rodanya hilang. Dan saya baru sadar bahwa sticker untuk menutupi resleting yang rusak juga dibuka. Saya tidak bisa klaim ke asuransi karena nomor luggage diminta petugas bandara. Luggage oh luggage


Sekian cerita panjang tentang tujuh hal memalukan yang saya pernah alami. Semoga Swap Blog readers, terutama penggemarnya Hani bisa berkunjung ke blog saya juga. Thanks Hani

@honeylizious

Followers