27 Desember 2013

Pergi (10) Tamat


Aku berharap semua ini mimpi. Melihat laki-laki yang aku cintai selama lima tahun ini ternyata sudah empat tahun tak berada di sisiku. Air mataku mengalir mengingat bagaimana mudahnya aku meminta adik kembarnya untuk menikahiku. Sejak awal aku tak pernah menyadarinya. Tak menyadari bahwa orang yang aku lihat hari itu adalah Rick yang sedang berduka. Ingin mengabarkan cerita duka tentang saudaranya yang kecelakaan.

Tak terpikirkan sejak awal tentang semua ini. Seandainya waktu bisa diputar kembali. Inginku kembali ke hari itu dan tak salah paham. Tapi tak ada yang bisa aku sesali. Semua sudah terjadi. Kamu juga pasti menyesali kesalahpahamanku waktu itu. Sampai kamu ikut jatuh cinta padaku. Selama empat tahun jatuh cinta tetapi harus memerankan orang lain untuk mencintaiku.


Aku berharap Nick bisa segera bangun dan membuat penantianku berakhir. Sekarang aku tak tahu harus bagaimana lagi. Kita patah hati. Nick juga pasti akan patah hati mengetahui aku tak tahu tentang keadaannya selama ini. Bahkan bersenang-senang dengan adik kembarnya.

Pergi (9)


Aku menatap bola matamu yang basah. Kamu memang berbeda. Aku yang tak menyadarinya. Aku malu pada Nick. Selama empat tahun ini aku tak sadar memacari saudara kembarnya. Sekarang kamu mengatakan kamu mencintaiku di depan Nick?

Aku tahu aku tak seharusnya mengatakan ini. Tapi aku tak bisa menahannya lagi. Aku ingin mengungkapkan perasaanku sebagai diriku sendiri. Bukan sebagai Nick.”

Jadi ini sebabnya kamu tak kunjung menikahiku? Karena kamu bukan Nick? Kalau aku meminta Rick yang menikahiku, apakah kamu siap?”

Kamu tak menjawab. Kamu menatap saudara kembarmu yang terbaring di ranjang.

Seharusnya aku tak menanyakan itu. Tak perlu dijawab.”

Aku kembali mendekati Nick dan menggenggam tangannya yang terasa mendingin. Aku mencintainya. Selalu mencintainya. Bahkan setelah tahu empat tahun ini tak bersamanya. Dia yang sejak pertama membuatku jatuh cinta hingga hari ini.

Maafkan aku, Elana, selama ini aku sudah membohongimu.”

Aku bisa saja marah dan mendampratmu. Tapi aku sudah terlalu lelah, Rick.”


Aku menyebut namamu kaku. Sedikit janggal rasanya memanggilmu dengan nama yang berbeda. Sebab selama ini rasanya kamu adalah Nick-ku yang selalu kucintai. Kamu beringsut ke pintu dan meninggalkan kami berdua.

Pergi (8)


Kamu masuk ke sebuah ruangan yang letaknya berbeda dengan ruangan tempat ayahku diinapkan. Aku mempercepat langkahku. Berharap segera menemukan sebuah pengkhianatan. Aku berharap kamu akan memeluk seorang perempuan di sana. Perempuan yang akan membuatku lebih yakin lagi untuk pergi meninggalkanmu dan kehidupanmu.

Aku menerobos masuk ke kamar yang kamu masuki. Langkahku yang tadinya yakin sekarang terhenti. Bukan seorang perempuan yang aku temukan di sana. Bukan pula sebuah pengkhianatan. Laki-laki yang terbaring di sana sangat aku kenal. Itu wajah Nick. Walaupun lebih kurus dan pucat. Kalau yang terbaring itu Nick, lalu kamu siapa?

Kita bertatapan lama. Akhirnya kamu menarik napas panjang dan menarikku lebih dekat ke laki-laki yang berbaring dengan mata tertutup rapat itu. Di matamu tak ada lagi amarah. Sebuah kelegaan tergambar di sana. Aku bingung.

Dia Nick. Aku Rick, adik kembarnya.”

Ucapanmu sudah cukup menjelaskan semua perubahan drastis yang terjadi pada Nick yang aku kenal. Kamu bukan Nick yang membuatku jatuh cinta selama ini. Aku sebut aku orang yang sangat mencintai Nick tetapi ternyata aku tak benar-benar mengenal laki-laki yang membuatku jatuh cinta.

Nick?”

Aku menyentuh tangan laki-laki yang terbaring di ranjang. Kamu berdiri di belakangku. Helaan napasmu terdengar berat.

Dia kecelakaan empat tahun lalu. Koma. Dia pernah bilang padaku dia punya seorang kekasih yang sangat dicintai. Aku ingin menemuimu waktu itu untuk mengatakan padamu kalau dia sedang terbaring di sini. Tapi melihat wajahmu yang gembira waktu itu melihatku, menganggapku Nick. Aku tak tega.”

Selama empat tahun ini kamu bersandiwara untuk Nick?”

Awalnya kulakukan untukmu dan untuk Nick. Aku berharap dia segera bangun dan mengakhiri semua ini. Tapi hingga hari ini pun dia tak juga terbangun. Sekarang aku bersandiwara karena aku jatuh cinta padamu, Elana.”


Aku melepaskan tangan Nick yang kupegang sejak tadi dan memutar tubuhku. Menemukanmu di sana bersimbah air mata.

Pergi (7)


Aku sudah sampai di parkiran dan aku benar mengenai kamu tak akan menyusulku. Aku sudah tahu ini akan terjadi akhirnya. Pada akhirnya kita akan berpisah. Aku pergi dari kehidupanmu karena semuanya sudah tak sesuai dengan yang kita inginkan. Kamu selalu seperti itu. Padahal aku percaya kamu orang yang akan terus aku cintai sampai akhir dan meminangku. Menjadikan istrimu.

Ternyata kamu berubah seiring waktu. Walaupun aku tahu memang akan banyak perubahan yang akan terjadi di dalam kehidupan kita. Membuat kita berbeda dari sebelumnya. Tapi setidaknya jangan seperti ini berubahnya. Aku tak mau berpisah darimu. Apalagi sampai aku yang pergi. Namun aku tak punya pilihan lagi. Orang tua jauh lebih berharga dari perasaanku sendiri.

Aku harus ke rumah sakit. Melihat keadaan ibuku yang pastinya sudah lelah menghadapi keadaan yang mungkin akan merenggut orang yang paling dia cintai di dunia ini. Ibu menikah dengan orang yang dia cintai. Aku iri. Mobilku melaju. Rumah sakit tempat ayahku dirawat tak jauh dari sini. Hanya butuh beberapa menit untuk tiba di sana. Aku memarkir mobilku dan tak segera keluar. Aku ingin duduk dengan tenang di dalam mobil ini. Meredakan amarahku yang sempat menggila menghadapi kamu.

Kamu yang sudah kupilih untuk menjaga hatiku yang rapuh. Aku kecewa dan kamu tahu aku memang sangat kecewa. Itu yang lebih membuatku kecewa lagi. Aku menatap ke depan dan terkejut melihat mobil yang sangat aku kenal. Mobilmu. Berharap kamu keluar dari mobil itu dengan seorang perempuan agar aku punya alasan untuk membencimu. Agar kamu juga punya alasan untuk menolak menikahiku. Ada yang lain dalam kehidupanmu. Tapi aku salah. Kamu keluar sendiri.

Eh bisa saja kamu datang ke sini untuk menjenguk perempuan itu bukan? Aku membiarkanmu agak jauh sebelum keluar dari mobil. Mengikutimu dari jarak yang lumayan jauh. Aku penasaran siapa yang kamu jenguk di rumah sakit ini. Tak pernah sekalipun kamu bercerita tentang sahabat dekat atau keluarga yang masuk rumah sakit. Lalu mengapa kamu datang sendirian?


Aku menggenggam smartphoneku erat-erat. Menahan diriku sendiri yang rasanya ingin meledak saja.

Pergi (6)


Aku mencoba meredakan amarahku dengan menaikkan gelas kopi ke bibirku. Menghirup isinya perlahan. Tak ingin terdengar orang lain. Kamu menatapku lekat-lekat. Entah kapan aku tak mengenali diri orang yang aku cintai lagi. Kamu terlihat berbeda, sangat berbeda. Tapi aku tak tahu di bagian mana kamu terlihat lain. Kamu hanya seperti kehilangan cintamu padaku.

Jadi sekarang kamu maunya apa?”

Akhirnya aku yang tak lagi bisa menahan diriku walaupun kucoba untuk menghadapimu dengan sabar.

Beri aku waktu. Jangan satu minggu. Itu terlalu cepat.”

Itu waktu tambahan setelah lima tahun aku menunggu, Nick.”

Kamu yakin tak akan menyesal?”

Aku akan lebih menyesal karena membiarkan aku dibutakan oleh cintaku padamu Nick.”

Kamu menggeleng-gelengkan kepalamu sambil menatapku. Lama sekali rasanya. Tatapanmu memang asing. Kamu berbeda dari sebelumnya, ada yang mengubahmu.

Apakah kamu telah mencintai gadis lain, Nick?”

Tidak, aku selalu mencintai perempuan yang sama. Perempuan yang sekarang ada di hadapanku dan sebentar lagi tak bisa aku miliki.”

Apa maksud ucapanmu itu?”

Aku lebih percaya bahwa hubungan kita akan segera berakhir karena kamu tak bisa memberikan waktu lebih lama untukku.”

Aku memang bodoh telah menunggumu melamarku. Aku tak peduli lagi, Nick. Aku pergi.”

Aku menyambar kunci mobil dan tas di kursi. Bersiap meninggalkanmu. Aku rasa kamu tak akan mengejarku dan segera membiarkanku berlalu. Seperti yang selama ini kamu lakukan.

Pergi (5)



Aku tahu jika kamu sudah mengatakan tidak akan selalu tidak jawabanku. Aku memohon seperti apa pun tak akan membuat bergeming. Menyebalkan memang harus berbeda pendapat mengenai hal seperti ini. Aku ingin bisa menyatukan pendapat kita dan menemukan titik temu. Titik di mana kamu dan aku bisa menerimanya. Jalan tengah yang membuat kita tetap bersama. Sekarang aku tak tahu di mana titik tersebut.

Nick, apakah kamu mencintaiku?”

Kamu terdiam. Mematung. Aku bingung sebenarnya. Kamu tetap menjalin hubungan denganmu meskipun kita berdua tahu semuanya sekarang sangat hambar. Kamu hanya hadir sebagai kekasih tapi aku tak merasakan kasih sayang yang pernah kamu berikan dulu.

Tentu saja aku mencintaimu.”

Akhirnya kamu menjawabnya dengan nada yang membuatku kesal. Aku tak pernah memaksakan perasaanku padamu. Kamu yang datang dan memohon untuk menjadi kekasihku. Lantas apakah sekarang aku yang salah karena telah menerimamu? Aku tak benar-benar ingat kapan kamu berubah menjadi dirimu yang ini.

Aku tidak yakin kamu mencintaiku.”

Bagaimana bisa Nick? Lima tahun kita bersama dan tak pernah sekalipun aku mengkhianati hubungan kita. Kamu bilang tak yakin? Setelah lima tahun Nick?”


Kamu mengangkat bahumu.

Pergi (4)


Aku pikir kamu akan selalu mencintaiku.”

Kamu menatapku dengan tatapan penuh amarah. Aku ingin marah tapi terlalu lelah dengan semua keadaan yang harus aku hadapi. Melihat wajah tua ibuku, ayahku. Wajah mereka terus terbayang di benakku. Sekarang kamu ingin marah padaku?

Aku selalu mencintaimu, Nick. Tapi bukan berarti aku harus terus menunggumu. Orang tuaku butuh aku. Mereka ingin aku menikah. Satu-satunya permintaan yang belum aku tunaikan.”

Kamu pernah menunggu lima tahun, Elana.”

Nada suaramu meninggi. Aku tahu laki-laki mana pun tak suka didesak. Begitu pula denganmu. Aku tak pernah mendesakmu lima tahun ini. Meskipun aku sering bertanya kapan kita akan menikah. Bukan hal baru lagi jika sekarang aku juga bertanya kepastiannya.

Aku sudah menunggu lima tahun, Nick.”

Tunggulah sebentar lagi.”

Aku sudah 32 tahun, kamu bahkan sudah 38 tahun. Bukankah kita sudah terlalu lama membiarkan diri kita tanpa ikatan pernikahan?”

Kalau aku tak menikahimu minggu depan kamu akan menikah dengan siapa?”

Aku belum memikirkan itu karena aku pikir kamu tak akan meninggalkanku. Kamu akan menikahku kan? Aku selalu percaya itu. Lima tahun aku percaya dan tak ada salahnya untuk percaya terus sampai minggu depan.”


Kamu mendengus. Geram. Aku membuang muka ke jendela. Muak dengan semua ini. Kamu selalu ingin menang. Tak ingin mengalah sekali pun.

Pergi (3)


Kita belum menemukan jalan penyelesaian. Kamu malah mengangkat tangan untuk memesan minuman yang sama untukmu dan untukku. Aku diam saja menunggu apa perkataanmu selanjutnya. Meja yang dibaluti taplak putih susu ini membuat pancaraan matahari memantul ke wajahmu. Bercahaya. Wajah yang membuatku jatuh cinta lima tahun yang lalu.

Dari balik kaca cafe ini kita bisa melihat orang yang berjalan kaki lalu lalang. Semua orang bisa bebas bepergian di tengah cuaca yang cerah begini. Lalu kita malah duduk di sini membeku sambil minum kopi panas. Dua gelas kopi datang ke meja kita. Satu diletakkan di depanmu. Satu di depanku. Kita mengaduk gulanya sebentar.

Aku memincingkan mataku yang silau karena cahaya matahari yang tiba-tiba memantul dari kaca kendaraan yang lewat. Di cafe ini kita pernah mengikrarkan janji setia untuk menikah suatu hari nanti. Mengapa aku tak menanyakan padamu tentang batas waktu yang akan kita ambil.

Kamu mencintaiku kan?”

Iya Nick. Aku selalu mencintaimu. Sama seperti lima tahun yang lalu.”

Mengapa baru sekarang kamu mendesakku?”

Mungkin aku lupa kita seharusnya menikah. Aku terlalu hanyut dalam indahnya hubungan kita. Lalu tiba-tiba lima tahun berlalu begitu saja.”

Lima tahun...”

Kamu mendesah menyebut jangka waktu yang sudah kita lewati bersama.

Kalau aku tak bisa menikah denganmu minggu depan bagaimana?”

Aku akan pergi dari hidupmu Nick.”

Pergi?”

Iya, pergi. Aku akan memaafkanmu lalu melupakanmu.”

Kamu memaafkanku?”

Tentu saja Nick. Aku menyayangimu dan akan selalu menyayangimu walaupun akhrnya kita tidak akan menikah. Kita harus mencari cinta yang lain dan jatuh cinta lagi.”

Kamu akan melupakanku?”


Aku menganggukkan kepalaku.

Pergi (2)



Aku mengaduk-ngaduk kopiku yang tinggal seperempat. Tak tahu harus melakukan apa. Tepatnya aku tak tega meninggalkanmu. Tapi juga tak bisa terus menunggu. Desakan orang tuaku. Mereka ingin aku segera menikah. Tak peduli denganmu atau dengan siapa saja. Mereka sudah tua. Apalagi yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan mereka selama ini.

Aku punya orang tua, Nick. Mereka tak memberikan waktu lagi untukku.”

Aku juga punya, sayang. Come on, mungkin kamu bisa memberikan waktu setidaknya 6 bulan.”

Enam bulan? Vonis dokter mengenai penyakit ayahku kurang dari enam bulan. Walaupun aku tahu itu hanya prakiraan. Dokter tak punya hak untuk menentukan hidup mati seseorang. Terbayang lagi di kepalaku bagaimana histerisnya ibuku mendengar suaminya ditetapkan kematiannya seperti itu. Bahkan tangan ibuku sempat mampir ke pipi sang dokter yang tetap tenang menghadapi kami.

Aku anak tunggal, Nick. Berbeda denganmu. Saudara-saudaramu bisa mengotakkan keinginan orang tuamu untuk melihat anaknya menikah. Sedangkan aku? Aku tak bisa.”

Kalaupun kamu ingin cepat jangan sekarang, jangan minggu ini.”

Aku hanya minta kita menikah di KUA, maharnya satu dua gram saja sudah cukup. Walinya ayahku. Pamanku bisa jadi saksi. Begitu juga pamanmu atau saudaramu yang lain.”

Kamu terdiam. Beku. Tatapanmu membuatku ikut beku. Aku tahu kamu marah. Bukan padaku. Pada keadaan yang akhirnya menyudutkan kita berdua pada situasi yang tak pernah kita inginkan.

Minggu ini ya?”

Iya, minggu ini.” Penegasanku membuatmu menggigit bibir. Kebiasaan yang selalu kamu lakukan jika kamu sedang bingung.


Aku berharap kamu mengiyakan. 

Pergi (1)


Kita duduk berhadapan. Saling menatap gelas kopi yang sudah satu jam yang lalu kita pesan. Kopimu masih hitam. Berbeda dengan kopi pilihanku yang sekarang sudah berubah menjadi putih. Dalam diam kita sama-sama menarik napas panjang. Orang yang hilir-mudik, keluar masuk tempat minum yang menjadi saksi keresahan hati kita berdua.

Kamu cinta aku kan?” kamu mengulang pertanyaan yang entah sudah berapa kali aku jawab dengan anggukan.

Iya, aku mencintaimu. Sangat malahan.” Akhirnya aku menjawabnya dengan tegas dan mata yang berkaca-kaca.

Lalu kita membisu lagi. Aku mengambil gelas di depanku perlahan. Berharap dengan menyesap kopi putih ini aku tak lagi resah. Gulana. Kamu ikut mengambil gelas kopi hitammu. Meneguknya hingga tandas. Barangkali memang kamu lebih haus dengan keadaan ini dibandingkan aku.

Tak bisakah kamu menunggu?”

Pertanyaan yang sama lagi. Rasanya aku sudah cukup letih memberikan tenggat waktu padamu. Kamu meminta perpanjangan lagi untuk menikahiku. Kita sudah bersama lebih dari lima tahun. Apalagi yang tak kamu yakini tentangku?

Untuk apa, Nick?”

Persiapannya butuh waktu, sayang.”

Ah kata sayang itu terdengar tak lagi mesra di telingaku. Sudah lama sekali aku tak mendengar kamu menyebutku dengan kata 'sayang'. Terlalu lama berpacaran mengubah cara memanggilmu padaku. Tak ada lagi kata 'sayang' atau 'cinta'. Kamu memanggilku seperti kebanyakan orang. Kali ini ada yang berbeda. Apa karena kamu takut kehilanganku?

Berapa lama lagi?”

Aku tak bisa memberikan janji tapi tolong berikan aku waktu lagi.”

Aku menggenggam tanganku di atas meja. Tanganmu begitu jauh di seberang sana. Menjadi tumpuan kepalamu. Tepat di dagu yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Jenggot tipis yang membuat terlihat menarik di mata banyak wanita.

Aku menunggu lima tahun, Nick.”

Berikan aku sedikit waktu saja lagi. Berapa pun yang kamu sebut aku akan berusaha.”


Aku tersenyum penuh luka. Tak tega melihatmu. Tapi juga letih menunggu.

Papan Ketik Favorit


Honeylizious.com – Dari banyak papan ketik yang saya gunakan untuk menulis secara digital memang satu-satunya yang paling cocok adalah yang sekarang ada di rumah. Statusnya sih second hand. Jadi tidak saya miliki sejak pertama. Sudah ada yang menggunakannya sebelumnya. Bukan karena sekarang sudah terbiasa menggunakannya makanya jadi lebih nyaman dan menjadi papan ketik favorit. Sebab saya memang sudah merasa nyaman menggunakannya sejak pertama kali.

Tombol-tombolnya tidak terlalu lembut tapi juga tidak keras. Jadi pas di jemari saya yang suka menari di atas papan ketik. Maklum saya suka menulis cepat tapi kemampuan mengetiknya masih menggunakan sekitar 4-5 jemari saja. Bukan 10. mau tak mau banyak jari yang berputar arah untuk menemukan tombol yang benar.

Jadinya saya lumayan kesulitan ketika harus ngeblog tanpa papan ketik favorit saya ini. Makanya saya sering sekali membawanya bepergian jika memang memungkinkan. Kecuali ke tempat-tempat yang tak bisa saya membawanya. Seperti di Jawai kemarin. Saya tak bisa membawanya turut serta untuk menemani liburan. Kalau saya membawanya jangan-jangan saya malah sibuk menulis dan lupa tujuan saya datang ke sana sebenarnya.

Kalau kamu punya papan ketik favorit juga nggak yang selalu dicari saat dibutuhkan. Rasanya tak ingin menggantinya dengan papan ketik yang lain ketika ingin ngeblog. Apalagi jika memang tak menemukan papan ketik yang senyaman papan ketik favorit kita.


Papan ketik yang sekarang saya gunakan ini mereknya Logitech. Tanpa bermaksud untuk promosi. Namun jika memang teman-teman penasaran dengan papan ketik yang paling nyaman bagi saya bisa mencobanya di toko komputer terdekat. Atau jangan-jangan kita punya papan ketik favorit yang sama nih?

Pentingnya Jaringan Internet dengan Kecepatan Mumpuni


Honeylizious.com – Memiliki jaringan internet yang kecepatannya bagus dan terpasang di rumah tentunya adalah kebutuhan banyak orang. Kalau dulu gampang saja kita katakan hal tersebut adalah impian banyak orang. Sekarang semua orang sudah membutuhkan jaringan internet yang lancar di rumahnya. Apalagi yang berkutat dengan dunia online untuk menghasilkan uang. Termasuk saya.

Memiliki jaringan internet yang lancar di rumah memang sudah menjadi kebutuhan. Tak ada alasan dan harga rasanya sudah bukan masalah lagi. Sudah banyak penyedia jaringan internet yang harganya terjangkau. Saya tidak mengatakan murah. Sebab murah dan mahal itu pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya. Apalagi kalau dibandingkan dengan harga yang ditawarkan di Pulau Jawa. Tentu berbeda dengan yang di Kalimantan.

Di Kalimantan Barat, saya rasa adanya WiGO 4G WiMAX sangat membantu pekerjaan saya sebagai seorang penulis online. Walaupun masih harus banyak belajar. Tetapi jaringan internet yang lancar membuat saya bisa bekerja lebih cepat dan menerima banyak job tanpa ada masalah dengan jaringan. Dapat dipastikan betapa stressnya saya jika harus berhadapan dengan jaringan internet yang jelek sementara job mengantri sedemikian panjangnya.


Walaupun banyak pula yang merasa jaringan internet dengan harga yang lebih miring juga sudah cukup. Tapi percayalah, semakin deras jaringan yang kita miliki semakin banyak pula informasi yang bisa kita akses dan kita akan mudah mencari job menulis di dunia maya sana.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design