15 Desember 2013

Belajar Mencintai


Honeylizious.c0m – Sebelum akhirnya saya menikah dengan Putra sebenarnya ada sebuah pertanyaan yang sangat menggelitik.

Apakah kamu benar-benar yakin?”

Wajar saja dia bertanya seperti itu. Kami berdua (saya dan Putra) baru kenal. Dari chatting pula. Dunia maya kadang menakutkan jika kita terlalu tenggelam di dalamnya. Tetapi entah mengapa dengan orang yang satu ini saya merasa damai. Saya percaya Tuhan tidak akan menjatuhkan saya dalam kenistaan dengan menikah dengannya.

Tapi apakah saya benar-benar yakin? Lebih tepatnya, apakah saya benar-benar yakin mencintainya? Bagian itu memang sejak awal saya belum yakin saya jatuh cinta mati dengannya. Sebab waktu kami berkenalan dan lamaran hanya beberapa hari. Tak terbayangkan itu semua kami tempuh untuk mengambil keputusan besar dalam hidup kami berdua.


Namun di bagian kecil hati saya, saya memiliki tempat untuk seseorang yang baru. Seseorang yang akan menjadi bagian hidup saya dan saya akan belajar untuk mencintainya. Mencintai kekurangannya dan mensyukuri segala kelebihannya.

Menumpuk Hutang


Honeylizious.com – Ini akibat dari beberapa hari tak maksimal menulisnya. Sekarang harus membayarnya dan jumlahnya ternyata sudah lebih dari 20 postingan yang harus ditulis. Padahal baru beberapa hari saja absen menulis 12 postingan sehari. Ada yang terisi 8 tulisan saja. Namun ada pula yang hanya satu tulisan dalam sehari.

Memang suami mengatakan kalau memang tak sanggup, cukup satu dua tulisan saja untuk satu hari. Namun tantangan ini tinggal sedikit lagi. Sudah hampir selesai dan saya tak ingin kalah dengan blog saya sendiri. Saya akan menulis hingga tanggal 31 Desember 2013 nanti 12 postingan setiap hari.

Sekarang saya ingin melunasinya sebelum tumpukannya semakin tinggi dan itu jauh lebih melelahkan untuk dibayar. Apalagi suami juga harus dilayani di rumah. Tak mungkin saya bersantai di depan komputer dan membiarkan dia menonton televisi di luar kamar karena saya cukup terganggu dengan televisi yang menyala di samping saya. Apalagi saya kurang suka ada yang duduk di belakang saya saat saya menulis.


Kebiasaan lama. Saya tak suka tulisan saya dibaca saat sedang dituliskan.

Apakah Harus Menulis Puisi Sekarang?


Honeylizious.com – Sebenarnya dibandingkan menulis cerpen saya lebih suka menulis novel. Memang makan waktu lebih lama dan isinya lebih panjang tapi ibaratkan kulkas, ini kulkas gede yang bisa diisi sesuka hati kita. Sedangkan cerpen itu kayak termos es yang tak bisa kita isi dengan banyak hal. Apalagi puisi.

Bicara soal puisi saya dulu suka sekali menulis puisi. Itu dulu. Saat masih menjadi abege labil. Sekarang kadang menulis juga untuk pembukaan cerpen biar lebih indah. Novel juga kebagian. Tapi tak pernah menemukan saya memajang puisi secara khusus yang memang dibuat mandiri.


Apakah harus membuat puisi seperti dulu lagi? Bahasa yang pekat dan tentu maknanya yang mendalam. Memilih dengan hati-hati, kadang saya rasa menulis puisi itu jauh lebih rumit dibandingkan menulis cerpen atau novel. Tapi kita bisa mencobanya kalau memang mau. Tak mesti puisi itu yang bahasanya membuat kening orang berkerut bukan?

Janji (10)


Sekarang janji tinggal janji. Keputusan sudah bulat. Akad sudah didendangkan. Sah. Tak ada pengulangan dan tak ada langkah untuk mundur. Aku sudah menyerahkan jari manisku untuk ditempati cincin yang dia belikan. Aku harus kuat untuk melangkah dengan berani. Sebab bagiku saling mencintai ya harus saling menikahi. Bukan hanya saling membuat janji.


Hanya bisa mendoakanmu dari jauh semoga kamu menemukan orang lain yang akan memenuhi janjinya denganmu. Dan orang itu bukan aku.

Janji (9)


Berhari-hari aku menanti. Rasanya sudah ribuan kali aku menatap layar ponselku hanya untuk menemukan pesan darimu yang masih saja bertema yang sama. Nihil. Kamu tak mempertanyakan mengapa aku memutuskan menikah secepat itu. Tak pula ada kata yang membahas tentang janji kita.

Apakah kamu pernah memikirkanku? Benarkah tak ada bayangan wajahku yang melintas di benakmu? Aku tak bisa menanyakannya langsung. Tentu itu rasanya tak sopan mendesakmu hingga ke sudut seperti itu. Kamu tak bisa menjawab dengan jujur jika sebenarnya jawaban yang kamu miliki akan mengecewakanku.

Kemudian hari itu tiba. Hari di mana jariku kemudian dilingkari cincin emas yang menjadi mas kawin di pernikahanku dengannya. Dia yang menerimaku dengan suka cita. Melihat matanya yang menatapku juga membuatku luluh. Tak bisa kutolak cinta yang kemudian memutik di dalam hatiku untuknya. Aku mengingkari janji pertemuan kita.


Memang aku mengingkarinya dan kamu juga tetap tak membuat kepastian mengenainya. Apakah aku salah melakukannya? Hingga hari ini aku tak tahu jawabannya. Sebab aku tak tahu apa yang terbaik untukmu.

Janji (8)


Masihkah kamu ingat hangatnya pelukanmu malam itu. Jemarimu bersentuhan dengan jemariku. Membuatku percaya mengenai cinta. Satu hal yang rasanya sudah kulupakan bagaimana rasanya. Sebab banyak kecewa yang mendera. Aku tak yakin ada bahagia di dalamnya. Luka terus merajam hatiku yang sudah remuk.

Kamu tak pernah mengatakan aku cantik. Tak ada pujian sama sekali seingatku. Tetapi tatapan matamu. Membuatku luluh. Lumer seperti es krim di padang pasir. Kubiarkan diriku mengalir ke bahumu. Menikmati semuanya tanpa suara. Aku yakin kamu tak tidur malam itu. Aku pasti mendengkur sedemikian kerasnya. Bahkan aku yakin gigiku gemerutuk. Kebiasaan saat tidur yang tak aku sadari.

Semalaman itu tak terjadi apa-apa. Aku terus berada di dalam dekapanmu yang hangat. Aku memang datang untuk bercerita. Bukan menginginkan dirimu seutuhnya. Kita belum menikah. Tak ada pikiran bahwa kita akan menunjukkan perasaan kita dengan cara yang berbeda.

Apa yang sudah terjadi jangan disesali.”


Aku selalu mengingat ucapanmu. Setiap kali aku melakukan kesalahan aku berusaha untuk tidak menyesal tetapi mengambil pelajaran dan mencoba untuk tidak mengulanginya lagi. Untuk apa menyesal? Toh sudah terjadi. Itu katamu. Lalu bagaimana dengan janji kita? Apakah kamu menyesal tak memenuhinya sebelum dia datang memintaku untuk menikah dengannya?

Selera Bercanda


Honeylizious.com – Bercanda memang sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan. Mencairkan suasana. Namun yang kadang kita lupakan adalah selera bercanda setiap orang berbeda. Jangan pernah menyamakan selera bercanda kita dengan orang lain. Sebab bisa jadi apa yang menurut kita lucu sama sekali tidak lucu baginya. Itu akan menjadi masalah yang besar saat orang yang dibercandai merasa tersinggung oleh bercanda yang lakukan.


Berbeda dengan bercanda dengan teman yang sudah benar-benar kita kenal. Kita sudah tahu selera bercandanya seperti apa. Jadi kalau memang tak benar-benar mengenal seseorang, lebih baik jangan membuat candaan yang kita tidak yakin sesuai dengan selera dia. Alangkah baiknya membuat candaan tentang diri kita sendiri. Dibandingkan tentangnya. Sebab selera bercanda setiap orang tak sama.

Janji (7)


Menikahlah denganku.”

Pertanyaan itu meruntuhkan semua pertahananku untuk menjaga janji yang sudah kubuat denganmu. Pertanyaan yang selama ini aku tunggu. Darimu dan dari beberapa orang sebelumnya. Sekarang datang darinya. Bagaimana dengan janji yang sudah kubuat denganmu? Bagaimana denganmu tepatnya?

Aku gamang. Ingin menghubungimu dan mengatakan aku akan segera menikah. Aku ingin menerima lamaran ini. Tapi bagaimana jika ternyata selama ini kamu tak menyimpan rasa cinta untukku? Bukankah itu akan menjadi hal yang memalukan bagiku sebagai perempuan.

Boleh.”

Aku menjawabnya tanpa ragu. Aku yakin aku ingin menikah. Aku yakin Tuhan tidak akan salah memberikan jodoh untukku. Jika memang dia jodohku maka semua prosesi akan lancar hingga selesai. Tak ada hal buruk yang akan menimpa kami. Pikirku demikian. Seandainya kamu yang di seberang sana adalah pemilik rusuk yang hilang ini, artinya kita akan dipertemukan Tuhan kembali bagaimana pun caranya.


Aku tak menanyakan apa-apa padamu. Tak menunaikan janji. Tak membatalkannya juga. Sebab aku tahu jika kamu memang ingin menemukanku kamu sudah melakukannya sebelum hari bahagia itu tiba.

Janji (6)


Barangkali memang benar adanya janji dibuat untuk diingkari. Sebab kamu tak memberikan kepastian yang membuatku yakin untuk menunggu. Janji sudah tiba masanya untuk dikotakkan tetapi kamu terlihat biasa saja di sana. Tak ada tanda-tanda memintaku untuk datang ke titik batas negara kita. Aku memang bukan perempuan yang cukup berani untuk mendatangi negeri orang dengan modal jiwa raga ini sendiri.

Namun aku cukup nekad dan selalu ingin mengotakkan janji yang sudah dibuat. Sudah minggu ketiga Syawal. Kamu tak menghubungi juga. Bagaimana caranya agar janji itu terselesaikan? Sementara kamu sendiri tak menunjukkan akan terbang ke tempat pertemuan kita. Aku ragu untuk nekad mendatangimu.

Aku hanya perempuan.

Kemudian dia datang. Dia yang tiba-tiba membuatku lupa sejenak tentangmu. Dia yang membuatku tertawa. Sesekali dia membuatku mendengarkan ceritanya. Dia juga mendengarkan ceritaku dengan seksama. Sama sepertimu waktu itu yang setia mendengarkan ceritaku yang entah apa saja yang telah kukeluarkan untukmu.


Dia sama sepertiku. Tersia-siakan oleh cinta. Hidup dengan harapan menemukan cinta yang lain suatu hari nanti.

Janji (5)


Aku meneriakkan namamu dalam hati. Aku tahu dengan pasti kita dipertemukan dengan banyak alasan. Terlalu banyak alasan. Hingga akhirnya aku sendiri tak paham untuk apa kita bertemu hari itu. Mengapa aku tak bisa menahan langkahku sendiri untuk tak menemuimu secara personal tengah malam itu. Sudah larut tapi tetap saja aku datang.

Kamu mendesakku dengan rayuan yang tak bisa aku tolak dan aku memang ingin menemukan wajahmu lagi. Aku tak bisa lepas dari tatapan matamu yang teduh itu. Membuatku senang setiap kali mata kita bertabrakan. Percikan listrik itu menyengatku dan aku senang karenanya.

Janji untuk bertemu itu terus aku pegang. Entah kamu juga melakukan yang sama atau tidak aku tak pernah tahu. Sebab aku tak ingin menanyakannya padamu. Aku takut saat aku bertanya aku malah mendapatkan jawaban yang tak aku inginkan. Namun akan lebih menakutkan jika ternyata kamu memegang janji yang sama. Berarti kita harus sama-sama menepatinya untuk memenuhi harapan masing-masing.

Menikahlah denganku.”


Aku berharap suatu saat ketika kita memang dipertemukan kembali, kamu akan meminta hal yang satu ini padaku. Sebab aku ingin tak terpisah lagi darimu. Kamu yang membuatku percaya bahwa cinta sejati itu ada. Ada seseorang yang benar-benar membuat dadamu sesak karena rasa itu.

Baru Ingat Sama ADB


Honeylizious.com – Gara-gara kemarin install ulang Chrome baru ingat saya pernah menggunakan ADB alias ads blocker di Chrome. Jadi semua iklan bisa diblock supaya tidak muncul di website mana pun yang saya buka. Gara-gara ngeblognya tengah malam sih ya, jadi lupa. Hehehehe...

Yeay, barusan install ADB lagi dan sekarang iklannya sudah hilang. Bersih dari semua iklan deh Chromenya. Makasih buat Bahrul yang sudah mengingatkan. Kalau tidak saya mungkin sudah berpindah menggunakan safari atau Firefox saja. Padahal saya sudah terbiasa menggunakan Chrome dan lebih senang menggunakan Chrome di PC saya.




Walaupun saya tahu Firefox dan Safari juga tak kalah hebat dibandingkan Chrome.

Menjadi Editor


Honeylizious.com – Walaupun job ngedit tulisan dari tempat saya diterima beberapa waktu yang lalu belum ada, ternyata saya tetap bisa menjadi editor di Pontianak ini. Sekarang menjadi editor untuk banyak artikel pesanan yang masuk, yah itung-itung berbagi rezeki dengan beberapa teman yang memag sedang mencari penghasilan dari menulis. Saya sendiri ternyata lebih menikmati menulis di blog sendiri dibandingkan harus menulis artikel untku web yang lain.

Menjadi editor bisa gampang bisa susah. Gampang kalau ternyata yang menulis itu bisa menghadirkan sedikit kesalahan dalam tulisannya. Susah kalau yang menulis itu banyak melakukan kesalahan dan editor yang akan menyempurnakannya. Makanya sebelum memutuskan menjadi editor cari dulu para penulis yang akan diedit tulisannya. Dari situ kita bisa memperkirakan kesalahan yang dia lakukan banyak atau sedikit. Sehingga nantinya kita sebagai editor lebih siap menghadapi proses editnya.

Padahal saya suka menulis, mengapa saya juga memilih untuk menjadi editor? Rasanya menyenangkan bisa memperbaiki tulisan orang lain. Paling tidak tanda bacanya atau kesalahan pengetikan yang dia lakukan. Sambil mengedit kita bisa menikmati tulisan yang dia buat. Walaupun lebih nikmat lagi membaca tulisan yang sudah selesai diedit.


Meskipun sekarang peran saya berubah menjadi editor bukan berarti saya mengatakan tulisan saya sudah sempurna. Tentu butuh editor lain untuk memperbaikinya.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design